Dari semua hal yang diamati di dalam prosesi magang Smipa di kelas SD 3, salah satu hal yang teranalisis dan terlihat sangat menjadi pola adalah aspek kemandirian. Tak sekadar menyampaikan teori bahwa kemandirian harus dilakukan dengan apa-apa yang (mungkin di dalam benak anak-anak) terasa sangat besar, perlu berdampak luas tidak hanya tentang dirinya, dan sebuah kewajiban yang rasa-rasanya jauh dari keseharian. Tidak tersampaikan kepada anak seperti kata-kata “kamu harus …!”, tetapi menjadi aksi-aksi kecil yang nyata sebagai bagian dari keseharian di dalam kelas yang dipolakan oleh kakak-kakak dan memantik kesadaran anak-anak untuk merekatkan dirinya dengan nilai-nilai yang berkaitan dengan aspek kemandirian yang perlu mereka miliki untuk kebaikan hidup.
Terjamah dengan sangat baik seperti dalam membereskan barang perlengkapan sekolah sebagai tanggungjawab diri sendiri, bukan sebagai tanggungjawab orang tua pun lingkungan terdekat yang memiliki keterkaitan. M,empersiapkan apa-apa yang berkaitan dengan olahan kegiatan di kelas, tidak sebagai tanggungjawab penuh kakak-kakak kelas untuk menyiapkannya namun disusun sebagai tanggungjawab anak pula untuk bersama-sama menyokong dengan baik kelancaran kelas melakukan aktivitas yang akan dan sedang berjalan.
Hal ini juga merupakan pola yang sangat menarik diamati dan dipelajari. Bagaimana kakak-kakak tidak serta merta melakukan semua hal dengan perspektif dan action-nya. Seperti contoh kecil, membereskan meja untuk mempersiapkan pemakaian oleh anak-anak, pembagian kertas, checking lembar tantangan juga memberikan saran dan apresiasi di lembar tantangan milik anak-anak. Semuanya bisa melibatkan anak-anak yang menjadi salah satu nilai untuk memupuk kemandirian dan memantik anak untuk lebih mengetahui secara mendalam bagaimana kemandirian, keterlibatan, dan kecakapan hidup bersama dimulai dengan pola-pola yang sederhana seperti hal-hal yang terjadi di dalam kelas.