Saya menuliskan esai ini dengan penuh kehati-hatian dan berupaya menuliskannya dengan penuh kesadaran karena saya menyadari tulisan ini bukan tulisan yang ringan, tapi saya pikir sangat penting. Sejak kemarin malam, dilanjutkan sambil gowes pelan-pelan pagi ini, pikiran tentang tulisan ini terus muncul di kesadaran saya. Pagi ini sambil beristirahat di titik henti gowes rutin saya, saya meniatkan diri menulis tentang ini.
Entah kenapa gagasan tulisan ini muncul, tapi saya percaya bahwa memang inilah waktunya. Seperti kata bijak bilang, when the student is ready, the teacher will appear. Mudah-mudahan memang ini saatnya saya dan teman-teman yang membaca tulisan ini menangkap esensi dari apa yang saya tuliskan dan mendapatkan sesuatu darinya.
Tulisan ini memang sangat terkait dengan apa yang sedang banyak saya renungkan dan sempat saya tuangkan dalam beberapa tulisan saya akhir-akhir ini, yaitu tentang Spirit, secara khusus Spirit yang kita nyalakan dan kita harus jaga nyalanya di Rumah Belajar Semi Palar. Memang ada beberapa peristiwa yang menggiring saya dan tentunya juga kita semua di Rumah Belajar Semi Palar kita ke titik ini, bersentuhan dengan peristiwa dan belajar dari apa yang terjadi. Saya percaya juga bahwa Tidak Ada Peristiwa Kebetulan. Kesimpulannya ini adalah tahapan yang penting bagi perjalanan Semi Palar ke depan.
Ada dua kata kunci dalam judul tulisan saya di atas ini, kebaikan dan utuh. Pertama-tama dari judul di atas bisa diambil kesimpulan bahwa ada kebaikan yang tidak utuh, tidak penuh, tidak sepenuhnya baik. Ini jadi esensi tulisan ini.
Rumah Belajar Semi Palar sejak awal didirikan, berpijak di atas gagasan, semangat, keinginan dan upaya untuk menjadi salah satu solusi dari sekian banyak permasalahan dunia pendidikan di Indonesia. Istilah yang mungkin agak lebih keren adalah untuk mencoba menyalakan lilin di dalam kegelapan. Karena kata kuncinya adalah solusi, tentunya kita berharap bahwa keberadaan Semi Palar dengan segala hal yang diupayakannya adalah sesuatu yang lebih baik dalam upaya mengatasi berbagai permasalahan pendidikan di Indonesia. Singkat kata, salah satu spirit mendasar dari berdirinya Rumah Belajar Semi Palar adalah Spirit Kebaikan. Mudah-mudahan tulisan ini tidak dipandang lebay atau berlebihan, karena demikianlah adanya, dan dengan segala keterbasan yang ada, hal inilah yang diupayakan sejak gagasan tentang Rumah Belajar Semi Palar muncul dan diyakini, setidaknya dalam diri saya dan beberapa kakak yang merintisnya.
Kemudian ada kata utuh juga. Kata utuh ini tentunya berkaitan dengan apa yang banyak dibawa dalam berbagai olahan di Rumah Belajar Semi Palar karena kata utuh ini terkait erat dengan kata holistik. Kita tahu bahwa segala sesuatu di alam semesta ini hadir berpasang-pasangan. Belajar dari filosofi Yin dan Yang, kalau ada yang utuh tentu sebaliknya akan ada juga hal-hal yang tidak utuh.
Di sini kita mulai bisa memahami bahwa apa yang kita sebut-sebut sebagai kebaikan juga bisa muncul seutuhnya atau sebaliknya kebaikan itu tidak sepenuhnya baik.
Bagaimana penjelasannya? Dalam pemikiran saya, kebaikan yang betul-betul baik adalah sesuatu yang dilakukan dengan nilai kebaikan yang mewarnai setiap lapisannya, dari lapisan terdalam sampai ke luar, mulai dari niatan, sampai ke tindakan atau aksi dan tindakan yang akhirnya dilakukan. Seluruh prosesnya harus bernafaskan kebaikan. Dari lapisan batin sampai ke tindakan kita secara jasmaniah, semuanya perlu diwarnai kebaikan. Inilah yang saya kira bisa disebut sebagai kebaikan yang seutuhnya.
Mungkin di sini kita bisa memahami kenapa di dunia ini banyak sekali diwarnai ketidak baikan. Sederhana karena kebaikan yang utuh ini tidak mudah melaksanakannya - perlu berlandaskan kesadaran di setiap lapisannya. Mudah sekali menemukan kebaikan yang tidak utuh ini di mana-mana, sehari-hari. Banyak sekali yang disebut-sebut sebagai kebaikan, di dalam kenyataannya adalah bukan kebaikan yang utuh. Bisa jadi di permukaan terlihat sebagai kebaikan, tapi saat tidak didasari ketulusan, hal ini tidak sepenuhnya baik. Kalau niatannya baik, tapi prosesnya tidak baik, kebaikan ini juga tidak sepenuhnya baik.
Sampai di sini mudah-mudahan kita juga semakin memahami apa yang sedang diupayakan di Semi Palar (di manapun juga, kepada siapapun juga). Dan belajar untuk mengupayakan kesadaran untuk mengupayakan berbagai kebaikan secara utuh, secara holistik. Hatur nuhun sadayana.