AES149 Aki Muhidin
Andy Sutioso
Sunday October 10 2021, 10:48 PM
AES149 Aki Muhidin

"Pak Andy, apa yang bapak sampaikan tadi mendalam sekali ya. Walaupun sederhana tapi sangat dalam". Di sesi penutupan DikLat yang lalu, seorang rekan Kepala Sekolah menghampiri saya dan menyampaikan hal ini. Iya pak, saya respon. Kenapa saya sampai mengungkapkan kata-kata Aki Muhidin dalam kesempatan itu, saya didaulat (mendapat konsekuensi) karena datang terlambat ke sesi pertama DikLat itu. Ya bukan salah saya sepenuhnya - karena karena berbagai pertimbangan, sesi pelatihan diubah jadwalnya dari jam 08.45 ke 08.00. Jadi ya saya akhirnya kena 'hukuman'. Tapi saya justru senang saya bisa menyampaikan hal ini kepada rekan-rekan Kepala Sekolah yang hadir di sana - siapa tahu membawa inspirasi seperti halnya kata-kata ini jadi salah satu pemikiran yang mendasari proses belajar kita semua di Semi Palar.   

Saya ingat betul, saya mendengar tentang ini di sekitar tahun 2009. Tempatnya di Rumah Nusantara. Entah event apa, tapi saat itu saya diundang hadir di Rumah Nusantara di suatu kesempatan - sekitar pukul delapan 8 malam. Ada sekitar 10 orang yang hadir di sana, termasuk abah Iwan. Selain aktivis Rumah Nusantara : mas Ipong, kang Aat Soeratin, kang Wawan Husin, ada juga kang Andar Manik - seingat saya juga ada mas Joko Oentono. Selebihnya saya tidak ingat. Rumah Nusantara sendiri adalah komunitas - rumah budaya yang sangat kuat mewarnai perjalanan belajar saya.  

Dalam kesempatan itulah saya mendengarkan abah Iwan menyebutkan kalimat yang sering sekali kita bawa - menemani perjalanan belajar kita di Semi Palar. Sampai akhirnya, pada tahun 2019 - berarti satu dekade setelah mendengarkan kata-kata tersebut, saya mendapat ide untuk menuliskan kata-kata tersebut di dinding bengkel Smipa. Kak Imam yang mulai menuliskan sebagian besar kata-katanya - dan menyisakan beberapa huruf untuk digambarkan oleh kakak2 Smipa. Kak Gio, kak Sizi dan kak Arry yang menggenapi kalimatnya... 

20191206_145218.jpg

20191206_145519.jpg

Saya lupa tepatnya tahun berapa, saya sempat mendapat pesan email dari Professor Ron Miller - salah satu penulis buku Holistic Education. Saya sempat mengirim email kepada beliau. Saya menanyakan tentang pendidikan holistik, beliau menitipkan kepada saya untuk mencari dan menemuka prinsip-prinsip pendidikan yang basisnya kearifan lokal. Waktu abah Iwan menyebutkan kata-kata ini, spontan kata-kata ini seperti terpatri dalam benak saya. Dan kita bawa sampai hari ini di Rumah Belajar Semi Palar. Kearifan lokal memang milik kita sendiri, bukan sesuatu yang datang dari luar. Selama ini kita selalu silau dengan apa-apa yang datang dari luar - dan jarang sekali bangga lalu menjaga apa yang kita miliki sendiri. Padahal kita tahu, bahwa kita perlu menjadi diri sendiri, dan tampil dengan segala keunikan diri kita... 

Aki Muhidin, guru silat abah Iwan dari Cianjur. Hatur nuhun.