AES910 Pola Pikir dan Paradigma Menuju Berkesadaran (bagian 1)
Andy Sutioso
Thursday January 22 2026, 8:34 PM
AES910 Pola Pikir dan Paradigma Menuju Berkesadaran (bagian 1)

Sampai sejauh ini, saya mencatat ada satu pemahaman dasar yang perlu menjadi pijakan agar kita lebih mampu membawa diri kita masuk ke ranah berkesadaran. Hal ini perlu dipahami seutuhnya. Utuh dalam pengertian, selain dipahami secara konseptual oleh nalar kita, perlu kita yakini kebenarannya (olah rasa) dan segera kita bawa ke ruang pengalaman. Pengalaman ini yang akan selanjutnya menimbulkan pengalaman rasa yang merupakan bahasa ruhaniah, proses batiniah di mana jiwa menemukan keutuhannya. Mudah-mudahan cara saya membahasakannya dengan cukup baik.  Sebagai catatan, ini adalah hasil belajar saya yang cukup panjang - setelah mencoba memahami kerja pikiran manusia dalam konteks menuju ranah berkesadaran. 

Pikiran manusia yang serba ruwet dan penuh jebakan saya bahasakan sebagai lorong atau labirin pikiran. Ya, pikiran manusia sempit, berlika-liku, ruwet dan penuh jebakan. Jebakan utamanya adalah bagaimana kita memang bolak balik di dalam labirin pikiran kita. Ini adalah cara ego kita bekerja. Ego yang bekerja untuk melindungi diri kita, membungkus diri kita ibarat sebuah entitas individu yang terpisah dari apa yang ada di luar diri kita. 

Di sisi sebaliknya di salah satu sudut labirin pikiran kita ada sebuah pintu menuju ruang kesadaran. Ruang yang tak terbatas karena terkoneksi dengan kesadaran universal. Pintu ini tersembunyi dan tidak mudah ditemukan.

Dua hal inilah yang membuat manusia tidak serta merta hadir di dalam ruang kesadaran. Secara fisiologis ini juga tercermin di dalam fisiologi otak manusia, yang memiliki tiga bagian otak. Masing-masing otak belakang, otak tengah dan otak depan. Segala rangsangan dari panca indera kita harus melalui bagian-bagian otak itu mulai dari otak belakang, menembus berbagai jaringan syaraf di otak tengah sebelum bisa sampai ke otak depan - di mana Pineal Gland, organ yang memiliki fungsi terkait dengan kesadaran bisa bekerja. Mudah-mudahan ini cukup menjelaskan. 

Walaupun begitu sepertinya masih ada beberapa hal yang bisa kita lakukan, semacam shortcut supaya saat rangsangan apapun muncul, kita bisa segera menerobos labirin pikiran, membuka pintu yang menuju ke ruang kesadaran.

Yang pertama adalah mencoba mencegah pikiran kita memberikan penilaian atau judgement pada apa yang terjadi atau kita hadapi. Penilaian atau judgement adalah indikasi paling jelas dari kerja pikiran. Saat kita memberikan penilaian baik atau buruk, benar atau salah, ini sudah jelas penanda bahwa pikiran kita sedang bekerja. Setelah judgement itu muncul, otomatis pikiran kita juga akan merespon dengan berbagai pemikiran-pemikiran lain yang membenarkan penilaian-penilaian kita itu muncul. Dalam situasi ini, kita sudah terjebak di dalam lorong atau labirin pikiran. Tidak menutup kemungkinan pikiran-pikiran kita akan berputar-putar dan menyesatkan diri di dalam labirin itu... Saat ini berkepanjangan, inilah yang bisa kita sebut sebagai overthinking... 

Sebaliknya saat sebuah rangsangan muncul, dan kita bisa segera menghindarkan diri dari memberikan judgement, pada saat inilah kesadaran kita hadir. Kita secara sederhana merespons, oh ada peristiwa seperti ini, baiklah, apa yang bisa saya lakukan. Secara sederhana ini adalah situasi berkesadaran. Dalam situasi ini, kita bisa segera menerobos labirin pikiran membuka pintu pikiran menuju ke ruang kesadaran. Sebetulnya sesederhana ini. Kita tidak terjebak pada pikiran-pikiran kita tentang masa lalu atau kekhawatiran dan ketakutan masa depan. Kita hadir pada saat ini, dan menyadari sepenuhnya apa yang dirasakan baik dan bisa kita lakukan. (bersambung)

Photo by Monstera Production: https://www.pexels.com/photo/crop-kid-playing-with-maze-painted-on-paper-7352804/