Semakin banyak menulis, semakin kita harus menggali lebih dalam apa yang bisa dituliskan... Hari ini saya menuliskan esai ke 199, esai terakhir dengan angka satu di digit terdepan. Setelah berpikir cukup lama saya memutuskan untuk bercerita tentang topik yang sama dengan apa yang dituliskan Tasha di esainya beberapa hari yang lalu, tentang wawancara (interview). Setelah direfleksikan, entah sudah berapa banyak saya melakukan interview - dalam proses rekrutmen untuk masuk ke dalam tim kerja dari berbagai bentuk kegiatan atau usaha yang pernah saya coba lakukan.
Saya ingin bercerita tentang pengalaman interview sewaktu saya merintis usaha konsultan arsitektur dan interior bersama teman-teman seangkatan. Kami mulai usaha ini saat kami masih berstatus mahasiswa. Kami berkantor di salah satu ruangan di kediaman teman kami dan mengerjakan proyek-proyek kecil setelah kuliah dan mengerjakan tugas-tugas kami. Intinya rintisan usaha kami ini memberi semangat belajar juga, karena apa yang kami pelajari bisa segera kami terapkan di proyek-proyek yang kami kerjakan. Termasuk mendapatkan tambahan uang juga setelah mendapatkan fee dari proyek-proyek tersebut.
Di satu titik kami harus menambah karyawan untuk membantu mengerjakan proyek-proyek yang ada. Saya jadi salah satu anggota tim yang menangani proses rekrutmen. Entah kenapa sejak dulu - sampai sekarang, saya lebih banyak mengandalkan perasaan dan intuisi. Sejak dulu, sampai sekarang penerimaan kakak-kakak Smipa, saya tidak banyak memperhatikan lembar-lembar ijazah dan lain sebagainya. Bahkan ada kakak-kakak Smipa yang belum pernah saya lihat lembar ijazahnya sampai sekarang. Kembali ke proses wawancara, salah satu calon karyawan yang saya pernah terima adalah satu anak muda yang hanya punya ijazah SMP, Agus namanya. Saya ingat dalam wawancara saya berusaha menemukan kelebihan dirinya, pengalaman atau hal lainnya. Saya sempat tanya, Agus pernah kerja di mana? Dia menjawab, "Saya pernah kerja di bengkel pak". Saya pikir wah lumayan ya dia punya pengalaman kerja di bengkel. Waktu saya tanya lebih jauh, dia melanjutkan bahwa tempat kerjanya adalah bengkel sepeda... Dan ya hanya itu, tapi dia begitu percaya diri untuk mengajukan aplikasi untuk posisi yang sedang kami cari. Setelah selesai mewawancari calon lainnya, dari enam calon yang ada, dengan tingkat pendidikan dan pengalaman yang ada entah kenapa saya tetap menempatkan Agus dalam kandidat terkuat. Dalam diskusi dengan teman-teman entah kenapa juga saya memperjuangkan Agus untuk bisa terpilih masuk ke dalam tim.
Akhirnya Agus dan salah satu calon lainnya terpilih. Waktu berjalan, ternyata Agus adalah pilihan yang tepat. Walaupun tingkat pendidikannya tidak terlalu tinggi dan tidak punya pengalaman, apa yang saya rasakan Agus miliki memang terbukti demikian. Kesempatan yang diberikan kepadanya tidak disia-siakan. Dia belajar dengan serius dan bekerja keras. Agus bergabung di kantor kami sampai akhirnya konsultan ini harus bubar karena krisis moneter yang menghantam Indonesia di sekitar tahun 98-an. Di sisi lain, krisis moneter ini adalah juga titik peralihan yang membelokkan profesi saya dari bidang arsitektur ke pendidikan.
Jadi ya itu pengalaman saya melakukan interview - salah satu yang berkesan. Sampai hari ini saya tetap melakukannya, saat berinteraksi dengan orang lain, dengan calon kakak atau calon orangtua, saya lebih berusaha mengandalkan intuisi saya. Saya merasa intuisi saya justru lebih akurat daripada logika saya. Jadi ya demikian kisah saya hari ini. Terima kasih buat Natasha yang menginspirasi saya menuliskan esai saya hari ini. Salam.