Ada tempat favorit yang jadi tempat main anak-anak di Semi Palar sepulang sekolah. Populer sekali terutama di anak-anak jenjang SD Kecil yang enerjinya meluap-luap dan semangat eksplorasinya sangat besar. Tempat ini ada di pojokan tempat parkir di depan dinding biru SMP, antara parkiran motor dan parkiran mobil. Pohon lengkeng yang beberapa tahun lalu ditanam - menggantikan pohon kersen yang sebelumnya ditanam di sana. Terbayang ya tempatnya di mana.
Kemarin saat bantu-bantu ngatur parkiran saat sepulang sekolah - hari Jum'at biasanya parkiran Smipa sangat padat, saya melihat pohon lengkeng yang saya sebut tadi juga sama, padat dengan anak-anak yang berebutan memanjat dahan-dahannya. Pohon lengkeng ini memang ideal buat dipanjat. Cabang besar yang pertama cukup rendah - memudahkan anak-anak menaikinya. Kemudian cabang-cabang berikutnya juga cukup mudah dijangkau dan jadi pijakan anak-anak untuk naik ke bagian pohon yang lebih tinggi.
Saya kurang tahu bagaimana dengan pengalaman teman-teman lain (kakak-kakak dan rekan-rekan orangtua), masa kecil saya sangat kental diwarnai dengan panjat memanjat pepohonan. Kebun rumah kami dulu cukup luas dengan banyak pepohonan di tanam di sana. Pohon jambu, flamboyan, cengkeh, kersen dan lain sebagainya. Di sanalah saya bersama adik-adik saya (termasuk kak Ine) bermain di waktu kami kecil. Saat musim cengkeh panen, ayah saya selau mengajak kami semua untuk ikut panen cengkeh. Ayah dibantu pengurus kebun membuat esteger (kerangka bambu) di mana kami berpijak, sampai ke puncak pohon yang cukup tinggi, memetik cengkeh yang sudah mulai tua - warnanya hijau kemerahan. Berjam-jam kami harus melakukan itu sampai semua pohon cengkeh tuntas dipanen.
Waktu kecil, imajinasi kami bermain banyak terinspirasi buku-buku petualangan Sapta Siaga dan Lima Sekawan. Di atas sebuah pohon yang cukup besar di halaman depan rumah, kami membuat markas untuk mengimajinasikan petualangan kami seperti tokoh-tokoh dari buku-buku tersebut.
Mengaitkan teterekelan dengan literasi, dari obrolan dengan beberapa orangtua, saya baru menyadari bahwa petualangan di alam - tentunya termasuk teterekelan (panjat memanjat pohon) adalah latihan literasi yang luar biasa. Karena saat melakukan itu, tanpa disadari kita harus terus 'membaca', tanpa henti. Membaca dahan mana yang harus dipijak selanjutnya, ke mana tangan saya akan menahan beban badan saya sebelum kaki saya yang satu mencari pijakan berikutnya. Membaca apakah jari jemari saya saya cukup kuat menggenggam dahan pohon saat saya akan menggantungkan seluruh berat badan saya. Sementara di sisi lain, kita perlu mengukur rasa percaya diri kita saat memanjat semakin tinggi - menjauh dari permukaan tanah.
Semakin sering kita memanjat pohon, kita akan semakin kenal dahan mana yang kuat, mana yang tidak kuat menahan beban tubuh saya. Mengenal tekstur batang pohon, kekuatan kayu berbagai jenis pohon dan lain sebagainya Literasi... Membaca. Dan kita harus membaca dengan akurat, mengamati dengan teliti - karena resikonya kita bisa terjatuh. Inilah pentingnya berkegiatan di alam. Jadi ya begitulah, alam adalah guru yang luar biasa buat kita belajar - belajar tentang diri kita juga tentang dunia di luar kita.
Buat anak-anak kita sekarang, menemukan pepohonan (yang sehari-hari bisa dipanjat juga sebuah tantangan besar), sementara ini setidaknya di Semi Palar ada pohon lengkeng yang bisa jadi teman-teman Smipa berlatih literasi. Salam.