Malam ini saya ingin merespon tulisan Joe yang berjudul AES is More!, tulisan Joe yang ke 127. Buat yang belum baca silakan cermati dulu tulisannya melalui link di atas ini. Selama ini kebanyakan dari kita berpikir bahwa obrolan langsung jauh lebih baik daripada komunikasi melalui tulisan. Tapi tulisan Joe menggaris bawahi bahwa tidak selalu demikian.
Setelah membaca tulisan Joe, saya pikir tulisan Joe banyak kebenarannya. Kalau apa yang dituliskan di esai-esai pendek di Ririungan ini memang tulisan yang otentik, jujur dan datang dari dalam diri kita penulisnya, maka akan banyak hal yang spesial. Spesial bisa dalam banyak arti. Saya belum ketemu kata yang paling pas menggambarkannya.
Saya coba menjelaskan apa yang saya maksud. Saat saya punya waktu luang, sekarang saya sangat suka membaca esai-esai yang ada di sini. Kenapa, karena lewat apa yang dituliskan di sini saya bisa mengenal individu-individu di Semi Palar lebih dekat.
Salah satu contoh adalah bagaimana saya bisa jauh lebih mengenal Saskia lewat apa yang dituliskannya di sini. Walaupun Saskia murid yang sudah lama bertahun-tahun di Semi Palar, tidak banyak saya punya kesempatan untuk mengenal Saski secara dekat. Tapi lewat tulisan-tulisan Saski, saya bisa mendapat kehormatan untuk mengenal Saski lebih dekat. Salah satu tulisan saya juga ditujukan khusus untuk Saski - yang begitu jujur menggambarkan apa yang sedang jadi pergulatan diri dan pemikirannya sampai di usianya sekarang ini. Saya juga bersyukur saya punya peluang untuk memberikan respon untuk Saski - yang mudah-mudahan bisa membantunya berproses.
Hmm, saya pikir ini nyambung juga dengan apa yang saya tuliskan dengan tulisan saya yang berjudul Tulisan Kita adalah Cerminan Diri Kita. Hanya saja cermin ini bukan hanya untuk diri kita sendiri - tapi juga untuk orang lain yang membaca tulisan-tulisan kita. Ririungan adalah ruang kolektif, ruang koneksi dan ruang belajar. Salah satu artikel yang saya baca menggambarkan bahwa proses belajar adalah bagaimana kita bercermin dari segala bentuk pengalaman interaksi kita masing-masing. Interaksi dengan orang lain, dengan peristiwa dan lainnya. Semakin banyak dan semakin kaya interaksi diri kita, semakin lengkap cermin kita dan dengan demikian juga gambaran diri kita sendiri. Semoga demikian adanya...
Luar biasa ya kak Andy! Dalam obrolan secara verbal belum tentu kita dapat menangkap ide, pikiran dan perasaan, ada bias dan subjektifitas yang terlibat. Tapi tulisan bisa jauh lebih dalam karena kita masih diberi waktu, semacam waktu sela, tertunda, "delay" untuk mengendapkan. Di sana kita bisa mengurangi segala bentuk bias dan subjektifitas dan lalu dapat mengerti pribadi lain. Terima kasih uraiannya, kak!