Entah karena namanya Rumah Belajar, perasaan bahwa tempat ini adalah rumah, dan warganya adalah keluarga sangat terasa setidaknya buat saya. Walaupun begitu, saya amati juga bahwa hal yang sama sepertinya dirasakan juga oleh banyak warga Smipa yang lainnya. Ada perasaan kedekatan dan kebersamaan yang kuat di antara warga Smipa. Seperti keluarga.
Sore kemarin sebuah berita duka saya terima. Sangat mengagetkan dan rasa sesak menyeruak dalam dada. Kepergian ayah dari dua orang adik-kakak alumni Semi Palar yang bersekolah sejak TK hingga menuntaskan prosesnya di jenjang SMP. Segera berbagai grup WA yang jadi ruang interaksi berbagai kelompok di Semi Palar bersahut-sahutan membagikan info, ucapan duka dan keprihatinan dan lainnya.
Malam harinya saya berangkat ke rumah duka dan setiba di sana menjumpai sudah banyak warga Semi Palar yang sudah terlebih dahulu ada di sana. Waktu berjalan dan sampai larut malam, teman-teman yang datang untuk melayat juga semakin banyak. Saya merasa terharu betapa besar perhatian teman-teman baik di sisi anak maupun orangtuanya untuk menemani keluarga yang sedang berduka, hadir dan membersamai di masa yang berat ini.
Merasa seperti keluarga menjadikan kedukaan yang hadir terasa lebih kuat juga. Ini juga saya rasakan. Walaupun akhirnya kita harus berserah dan meyakini bahwa sudah ada yang mengaturkan segalanya. Kepergian sahabat ini walaupun dalam usianya yang masih muda juga sudah ada yang mengaturkan. Tugas kehidupannya sudah selesai, dan seberat apapun rasa kehilangan kita, tugas kita untuk melanjutkan tugas kehidupan kita masing-masing. Doa terbaik untuk almarhum dan keluarga yang ditinggalkan. Saya hanya ingin menuliskan di sini bahwa masih ada kami yang merasa jadi keluarga, tempat kami akan selalu membuka tangan dan ruang untuk kembali pulang. Salam.
Photo by Ivan Samkov: https://www.pexels.com/photo/people-putting-their-hands-together-9630204/