AES105 Antara Dongeng dan Matematika
Andy Sutioso
Friday August 27 2021, 8:48 PM
AES105 Antara Dongeng dan Matematika

Salah satu temuan / pemahaman baru yang menarik dalam perjalanan saya dan kakak-kakak di Semi Palar adalah tentang matematika dan kaitannya dengan dongeng atau cerita fiksi. Ya ternyata kedua bidang ini kaitannya sangat erat. Anak-anak yang suka membaca dongeng dan cerita fiksi, mereka punya kemampuan matematika yang lebih bagus. Dulu saya juga berpikir bahwa matematika adalah kerja otak kiri. Tapi sejalan dengan waktu, kami menemukan bahwa matematika sangat butuh kerja otak kanan - yang kita ketahui terkait dengan kerja kreatif dan imajinasi. Oh iya sebagai disclaimer ini bukan kesimpulan ilmiah ya. Saya bukan pakar, saya juga tidak mempelajari teori apapun tentang ini. Ini sebatas observasi, pengamatan dari berbagai proses belajar yang berjalan di Semi Palar. 

TheRiftwarCycleSeriesbyRaymondE.Feist34MP3AUDIOBOKCOLLECTION1_400x400.pngSaya mulai dengan cerita pengalaman saya. Beberapa tahun silam. saya membaca buku novel (fiksi) karya Raymond E. Feist. Bukunya tebal-tebal sekitar empat - lima senti meter... Saya dipinjami oleh adik saya. Novel-novel Raymond Feist ini - salah satu ciri khasnya adalah tokoh dalam ceritanya yang sangat banyak, dan bukunya pun berjilid-jilid pula. Di awal saya mulai membaca novel ini, saya berpikir waduh bagaimana caranya bisa mengingat tokoh-tokoh yang ada dalam cerita ini - semua dengan perannya masing-masing, di dalam rangkaian segmen cerita yang sambung menyambung dan sangat kompleks. Tapi, surprisingly (maaf pakai bahasa Inggris), Raymond Feist bisa dengan cantiknya merangkai kisah dan membuat saya sebagai pembacanya bisa mengingat tokoh-tokoh dalam cerita ini dan dengan serunya membaca lembar demi lembar - jilid demi jilid bukunya. Keren banget bagaimana dia menuliskan novel-novel ini. 

Lalu kita perhatikan rumus matematika. Saat rumus matematika sudah mulai lebih kompleks, dengan angka yang lebih besar dan proses perhitungan yang lebih rumit. Kerja otak kita adalah mirip dengan saat kita membaca cerita fiksi atau dongeng. Kalau angka-angka itu kita anggap tokoh-tokoh cerita, maka bagaimana satu tokoh bertemu tokoh yang lain, lalu mereka berteman. Mereka pergi ke satu tempat dan berjumpa tokoh lainnya. Kemudian di tempat lain terjadi peristiwa lain, kemudian muncul tokoh lain dengan perjalanan ceritanya tersendiri, begitu seterusnya...

Dinamika berpikirnya adalah serupa dengan saat kita sedang menghitung sesuatu. Angka satu dijumlah dengan angka yang lain. Lalu ada angka yang disimpan. kita menjumlah angka yang lain, terus angka yang tadi disimpan kita munculkan lagi, dihitung lagi dengan angka yang berikutnya. Begitu kira-kira... 

Dari cerita di atas, mudah-mudahan teman-teman dapat melihat korelasinya. Orang-orang yang senang membaca kisah-kisah fiksi dan sejenisnya, kerja otaknya terbiasa dengan proses itu. Mereka tidak kesulitan untuk menyimpan dan mengambil data dalam benaknya berulang-ulang - sesuai alur cerita atau sesuai dengan kebutuhan perhitungan matematika. Mereka mampu merunut sesuatu dan membangun logika. Satu hal lagi, ini butuh fokus juga, memusatakan perhatian kepada satu hal. Pernahkah kita bisa memahami suatu cerita kalau kita tidak menaruh konsentrasi kita pada buku tersebut? Tentunya kita ga bisa paham jalan ceritanya. Dalam proses berpikir, ini bukan hal yang sederhana, ini perlu dilatih dan dilatih... Bagaimana melatihnya, membaca dongeng dan fiksi jadi latihan yang luar biasa bagus untuk hal ini. 

Di sisi lain, Semi Palar cukup banyak menerima teman-teman yang pindah dari sekolah lain. Tidak sedikit dari mereka yang pindah ke Semi Palar karena kesulitan di sekolah lamanya. Pada umumnya mereka kesulitan dengan pelajaran tertentu... Tebak apa? Ya... Matematika... Dan menariknya saat saya tanya, apakah mereka suka baca buku? Hampir semua bilang mereka tidak suka baca buku. Memang saya amati juga minat baca anak-anak di sekolah-sekolah umumnya rendah. Apakah ini berhubungan? Saya kira iya... Jadi ini salah satu lagi alasan kenapa kemampuan literasi - secara spesifik membaca buku - di Semi Palar jadi satu titik perhatian kita. 

Bagi saya pribadi... kalau dibandingkan dengan menghitung-hitung rumus matematika, tentunya saya jauh lebih memilih membaca berjilid-jilid buku novel... Salam...