Beberapa hari yang lalu saya mengatakan bahwa seringkali kita begitu keenakan menerima segala sesuatu tanpa usaha lalu lupa bersyukur. Nah akhir-akhir ini saya banyak merasakan bahwa banyak hal-hal kecil ternyata sangat berharga, karena saya kurang diberi kesempatan untuk menikmatinya. Selama ini hal-hal itu dianggap sepele dan tidak terlalu berharga, lalu begitu kesempatan menikmatinya berkurang, saya merasakan bahwa hal-hal itu walaupun sangat sepele ternyata sangat berharga.
Contoh yang sedang saya anggap sangat berharga adalah waktu untuk beristirahat. Karena segala sesuatu dijdwal, terutama dikaitkan dengan waktu Nina mendapat antibiotik sebanyak 3 kali sehari dengan ritual yang lumayan rumit walau sekarang saya sudah sangat terbiasa, jam istirahat saya jauh berkurang, belum lagi ditambah dengan sulitnya Nina tertidur dengan lelap karena keterbatasan gerak dan imobilizer yang melingkari kakinya seringkali membuat dia merasa pegal dan terbangun dari istirahatnya. Begitu dia terbangun tentu saja saya juga terbangun. Berbeda dengan Nina yang mudah sekali kembali terlelap, saya sulit untuk kembali tertidur, sehingga saya selama beberapa hari terakhir selalu merasa lelah.
Mungkin karena sudah sekian lama saya menikmati "kemewahan" dapat tidur dengan bebas dan bangun juga tidak harus selalu terlalu pagi, saya jadi keenakan, merasa dimanjakan oleh situasi. Jika dibandingkan dulu ketika di Bandung, saya baru istirahat lewat jam 11 malam. Saya dulu punya kebiasaan menulis di malam hari sesudah Kano tidur, aplagi saat Nina sudah ke Colorado sementara Kano dan saya masih di tanah air. Sesudah Kano tidur, saya baru bisa beristirahat menikmati malam hari sambil menulis biasa hingga sekitar pukul 11. Nah saya hanya tidur beberapa jam lalu sekitar pukul 4 pagi saya terbangun dan menyiapkan sarapan dan sebagainya, lalu membangunkan Kano dan ritual di pagi hari dimulai hingga meninggalkan rumah sekitar pukul 5:30 pagi. Bisa dibanyangkan bukan bahwa saya dulu terbiasa tidur kurang dari 5 jam sehari. Nah sekarang tidur sekitar 6 hingga 7 jam saya sudah kelelahan hahaha.. Begitulah jika sudah terbiasa dimanjakan oleh situasi.
Membiasakan diri dengan rutinitas yang baru memang tidak mudah. Awal-awal pertama kali membangun kebiasaan memang selalu sulit. Sama seperti kebiasaan saya menulis setiap hari. Awalnya berat sekali karena banyak yang harus dilakukan seperti memilih topik, lalu harus mulai dari mana, dengan kalimat apa dan sebagainya. Susah. Tapi dengan berjalannya waktu, yang sulit menjadi terbiasa dan lama-kelamaan manjadi mudah karena sudah biasa.
Apakah berkurangnya jam tidur bisa menjadi kebiasaan baru? Mungkin saja, tapi memang beristirahat itu sangat dibutuhkan oleh tubuh sebagai salah satu saat untuk memperbaiki jaringan yang rusak dan sebagainya. Nah memang kurang istirahat itu tidak baik, tubuh harus diberi kesempatan yang cukup untuk beristirahat dan bisa membangun kembali semangat dan enerji untuk hari berikutnya. Mungkin itu yang menjadikan saya selalu lelah disamping memang ada kesibukan dan rutinitas baru. Nah Mungkin saya harus mulai mencari jalan keluar, mengatur jadwal lebih baik sehingga bisa istirahat cukup. Tidur memang hal yang sepele, tapi jika kesempatan untuk itu berkurang, yang sepele menjadi amat sangat berharga.
Foto credit: newsroom.ucla.edu