Sudah sekitar 55 hari saya tidak menulis, bahkan hampir tidak menyentuh komputer sama sekali. Selama itu saya mengalami banyak hal yang sangat membingungkan. Agak sulit saya mulai menulis, apalagi menjabarkannya, sebab ini sepertinya merupakan pengalaman baru yang akhir-akhir ini mulai disadari.
Sebenarnya saya sangat menyayangkan peristiwa-peristiwa yang saya alami ini terlewat begitu saja tanpa saya curahkan dalam bentuk tulisan, sebab setidaknya ketika menulis saya dapat mengendapkan berbagai perasaan, pikiran, bahkan seandainya hanya sekadar bercerita tentang kulitnya saja. Tapi keinginan untuk mendalami semua peristiwa itu sangat kecil. Saya agak berusaha menghindari untuk masuk ke dalamnya dan lebih memilih menjaga jarak. Memang sangat disayangkan, tapi itu adalah pilihan walau mungkin suatu waktu nanti saya akan menyesalinya.Yang jelas, saya kebingungan dan mengalami banyak keterkejutan.
Saya masih sedang belajar. Jika dikatakan bahwa belajar itu merupakan kegiatan tanpa akhir, itu benar-benar saya akui. Selalu ada yang bisa kita pelajari setiap saat. Beberapa hari yang lalu saya belajar bahwa tanaman yang selama ini saya urus seharusnya tidak terkena sinar matahari penuh, tidak perlu disiram setiap hari, bahkan sebaiknya dibiarkan hingga tanahnya hampir kering baru kemudian disiram. Saya tidak tahu sama sekali sebelumnya. Ini hanya ilustrasi. Hal yang lebih penting dalam hidup saya sedang terjadi dan saya berusaha memahaminya. Segala bentuk kebingungan dan keterkejutan perlu saya pahami dengan baik.
Dua bulan terakhir ini saya sering sekali mengunjungi rumah duka. Saya menyebutnya sebagai "reuni" karena di tempat ini saya akan berjumpa dengan teman-teman lama. Bukan kegiatan yang menyenangkan, tapi itu adalah bagian dari pengalaman hidup. Orang-orang sepantaran saya mulai pergi satu demi satu, bahkan yang terakhir tinggalnya hanya beberapa langkah dari rumah. Meninggalkan sebuah keterkejutan yang hingga saat ini masih belum saya percayai bahwa itu benar-benar terjadi. Pengalaman-pengalaman ini mengingatkan saya bahwa usia bergerak terus, ujung kehidupan yang dulu terasa sangat jauh sekarang sudah mulai samar-samar terbayang. Saya sudah tidak muda lagi. Yang di hati dan yang dialami tubuh ada gap, ada jurang pemisah yang lebar yang sedang saya berusaha mendekatkan karena itu realitas hidup yang sesungguhnya.
Kejutan itu sebenarnya tidak datang tiba-tiba. Kita bertambah usia setiap saat, detik demi detik, menit demi menit, setiap jam, setiap hari, lalu kemudian hari menjadi minggu, minggu berubah menjadi bulan, bertahun-tahun hingga tiba-tiba sudah puluhan tahun. Jika kita sadari benar, semua itu berjalan secara alami dan normal, namun ketika kita menyadari betapa kita telah berubah, kejutan itu pun muncul dan kita seolah-olah dibangunkan dari tidur yang lama, dari mimpi yang berlarut-larut.
Kemampuan manusia untuk menyadari dan menyaksikan perjalanan hidup secara sangat detail memang tidak sempurna. Sama seperti ketika kita menyaksikan tumbuhan. Mata kita tidak mampu menyaksikan pertumbuhan daun dari mulai tunasnya hingga menjadi daun yang lebar dan indah. Pertumbuhan itu berjalan terus tanpa henti; setiap detiknya terus tumbuh, tapi mata kita tidak mampu menyaksikannya. Mungkin saja mata kita melihatnya, tapi mengaitkan setiap detik pertumbuhan seperti sebuah kamera dengan menggunakan mode time lapse; semua terekam dengan jelas. Mata kita seolah-olah mengabaikan prosesnya dan tertumpu pada hasilnya ketika daun itu sudah mulai terlihat perubahannya. Nah, sepertinya begitu juga pengalaman kita dengan kehidupan manusia sendiri. Kita tahu bahwa manusia dan sekelilingnya berubah setiap saat, tapi tidak selalu benar-benar menyadarinya. Ketika kita sadar, saat itulah kita terkejut.
Bagian dari kejutan itu terjadi secara alami dengan berjalannya waktu. Fenomena ini menciptakan diskonektivitas antara perasaan di dalam diri, (seperti misalnya banyak yang masih merasa muda) dengan faktor luar seperti tanda-tanda penuaan, rambut putih, menurunnya kemampuan mobilitas dan sebagainya.
Ketika manusia mencapai usia pensiun, ada yang dimulai pada usia 55, ada yang 60, ada yang 65, dan ada yang lebih dari usia itu. Ada semacam pergeseran biologis; entah saya menerjemahkannya dengan benar atau tidak. Dalam bahasa Inggris, dikatakan biological shift. Pada masa-masa ini, perubahan secara fisik maupun psikologis sangat besar, belum lagi jika kita menghitung hubungan sosial. Secara biologis, perubahan molekular begitu mendadak, lalu ada juga pergeseran pada pandangan terhadap diri sendiri atau self-perception. Pada saat ini juga manusia mulai mengevaluasi kembali peran sosialnya. Semua itu menjadikan kita merasa aneh, janggal, weird!
Hal-hal di atas tidak pernah saya perhitungkan sebelumnya. Saya tahu bahwa perubahan itu terus berjalan karena saya meyakini bahwa sesuatu yang konstan terjadi dalam semesta adalah perubahan. Namun, seperti teori time lapse tadi, kemampuan saya sangat terbatas, prosesnya hampir tidak "disadari", tiba-tiba saya dihadapkan pada kenyataan yang sebenarnya. Apakah ini semua terjadi pada semua orang, saya tidak tahu. Yang jelas hingga sekarang saya masih berusaha untuk mengolahnya.
Foto credit: wall.alphacoders.com