Apa saja ciri mode survival dan mode thriving?
Akar energi: Survival —> takut, terputus kekurangan. Thriving —> cinta, tersambung, kelimpahan.
Frekuensi dasar: Survival —> menyempit (LoC di bawah 200). Thriving —> melebar (LoC di atas 200) pada chart David R Hawkins.
Motivasi utama: Survival —> bertahan, menghindar dari rasa sakit, cari aman. Thriving —> berkembang, mencipta, memberi dari cinta.
Sikap terhadap waktu: Survival —> tergesa-gesa, dikejar-kejar masa depan, dibayang-bayangi masa lalu. Thriving —> hadir utuh saat ini.
Koneksi ke diri: Survival —> Identitas dibangun dari luka, peran, ekspektasi dari luar. Thriving —> Diri sejati/kesadaran yang menjadi ruang penyaksian yang jujur, dan utuh.
Relasi dengan orang lain: Survival —> perbandingan, kompetisi, ancaman. Thriving —> Kolaborasi, kasih sayang, saling dukung.
Relasi dengan tubuh: Survival —> Diabaikan, dijadikan alat, dikritik. Thriving —> Didengarkan, dihormati, dijadikan rumah.
Relasi dengan alam: Survival —> Dipisahkan, dieksploitasi, dikontrol. Thriving —> Disatukan, dihormati, dijadikan cermin kehidupan.
Spiritualitas: Survival —> Pencarian terus menerus tanpa akar, ketakutan atas dosa. Thriving —> reflektif, kontemplatif, kehadiran utuh, cinta tanpa syarat.
Perasaan umum: Survival —> Cemas, kosong, terjebak, bingung arah. Thriving —> Damai, cukup, mengalir, penuh makna.
Pola energi: Survival —> Cepat terkuras, burn out, overgiving, overthinking. Thriving —> Regeneratif, stabil, harmonis dengan batas sehat.
Survival mode ini bukan sesuatu yang salah. Ini adalah cara tubuh dan pikiran kita bertahan di dunia yang penuh tuntutan. Itu adalah respons alami kita untuk melindungi diri dari ancaman. Tapi ketika hidup terlalu lama dalam mode bertahan, kita mulai kehilangan koneksi dengan bagian diri yang lebih dalam, bagian diri yang ingin berkembang.
Transisi ke mode thriving ini bukan berarti hidup selalu mudah dan tanpa tekanan. Juga bukan berarti kita mesti resign dari pekerjaan dan aktivitas dunia kita, pindah ke desa atau gunung, misalnya. Transisi ini bukan perubahan drastis yang membuat kita meninggalkan dunia yang kita kenal. Ini adalah pergeseran dalam cara kita memandang dunia, dari tempat yang sempit dan penuh kekhawatiran, menjadi tempat yang luas dan penuh ruang untuk bernafas.
Thriving adalah keadaan batin. Ia terjadi saat kita mulai hidup dari ruang yang sadar, yang ngga reaktif, meski dunia luar keras dan ngga selalu ramah. Thriving artinyaa kita tidak lagi dikendalikan oleh rasa takut, kita membuat ruang untuk diri sendiri di tengah sibuknya hidup, kita memilih selaras, bukan sekedar sibuk. Thriving bukan tentang pencapaian luar.
Mungkin hari ini, kita bisa mulai dengan satu hal kecil yakni mendengarkan tubuh kita saat ia lelah, atau berjeda sejenak untuk menyadari bahwa kita cukup, apa adanya. Dan siapa tahu, mungkin hari berikutnya kita akan mulai merasa hidup ini bukan lagi soal bertahan, tapi soal berkembang.
---
Bagian sebelumnya: https://ririungan.semipalar.sch.id/murdeani/blog/7627/aes001-survival-vs-thriving-1
Post selanjutnya: https://ririungan.semipalar.sch.id/murdeani/blog/7629/aes003-hidup-berdampingan-dengan-sesar-lembang-menghargai-karakter-alam-dan-meningkatkan-kesadaran-kolektif
Bagus sekali tulisan ini, mengingatkan dan mengajak menilik diri sendiri dengan lembut. Jadi penasaran membaca bukunya David R. Hawkins. Terima kasih.