AES 1215 Serba Terbatas
joefelus
Sunday October 13 2024, 7:53 PM
AES 1215 Serba Terbatas

Weekend atau hari biasa bagi saya menjadi sangat biasa saja. Itu saya! Itu karena saya statusnya "pensiunan" walau karena terpaksa hahaha.. Kalau dulu karena sibuk bekerja saya selalu menunggu-nunggu saat beristirahat di akhir pekan, kini setiap hari menjadi sama saja, tidak ada yang saya tunggu-tunggu bahkan karena begitu dull-nya, seringkali saya tidak tahu hari ini hari apa dan tanggal berapa. Menarik sekali ya?

Apanya sih yang menarik cerita soal ini? Tidak ada. Saya hanya menulis ini sebagai bentuk catatan pribadi sehingga masa transisi ini terabadikan. Saya sering cerita ke teman-teman bahwa hampir 2 bulan ini saya masih kemping. Koper-koper belum dibongkar dan saya sibuk memperbaiki rumah yang mungkin 75 persen tidak berfungsi dengan normal. Itu yang sudah saya kerjakan selama ini mulai dari listrik, air, perangkat kemananan seperti pagar dan lain-lain serta yang berikutnya fasilitas utama sehingga nanti rumah saya bisa berfungsi dengan normal. Mudah-mudahan akhir bulan atau awal bulan depan sudah selesai. Saya ingin setidak-tidaknya bulan Desember saya sudah dapat kembali menjalani hidup yang normal.

Kesabaran memang sangat diuji, siapa sih yang tidak ingin dapat hidup normal? Apalagi saya baru saja kembali dari dunia lain (ahaha.. apa ini?) yang fasilitasnya sangat luar biasa, ketika kembali dalam kondisi yang di bawah rata-rata karena tidak memiliki fasilitas yang memadai, maka proses transisi saya menjadi sangat sulit. Untung saja banyak sahabat-sahabat saya yang membantu sehingga dapat setidak-tidaknya dibantu untuk bernapas, ini sebentuk napas buatan yang unik hahaha. Setidak-tidaknya saya dapat melaluinya dengan sedikit lebih mudah. Hingga sekarang loh, karena rumah saya belum berfungsi normal.

Pernah tidak merasa bahagia ketika bisa mencuci piring? Hahaha.. Aneh sekali ya? Memang! Saya merasa sangat sungkan ketika kontainer rantangan terpaksa saya kembalikan dalam keadaan kotor. Iya saya rantangan, dan iya saya tidak bisa mencuci piring karena tidak ada air. Nah begitu saya ada sedikit sumber air lalu bisa mencuci piring, saya merasa sangat bahagia. Merasa terbatas itu sebuah perasaan yang sangat menyusahkan loh. Ketika saya bisa mandi tanpa harus menghitung berapa air yang saya gunakan, itu juga memberikan perasaan yang luar biasa. Memang ini bukan pertama kali saya mengalami ini, tapi lagi-lagi, siapa yang ingin hidup serba terbatas? Kalau bisa sih tidak, bukan? Nah ini mengajari saya untuk tetap bersikap rendah hati dan meningkatkan kepedulian pada orang lain yang tidak beruntung!

"Jo, kapan kita terakhir makan indomie?" Tanya Nina pagi ini.

"Hmm.. dah lama banget kayanya. Kenapa? Mau? Pake telor?" Tanya saya.

Nah untuk pertama kalinya semenjak saya pindah, akhirnya mencoba memasak. Apa adanya, hanya mie instant, dengan fasilitas dapur sangat minim karena belum ada perlengkapan yang memadai kecuali beberapa benda elektronik hadiah dari door prize di acara reunian kemarin serta beberapa hadiah dari acara dies natalis yang menumpuk selama beberapa tahun seperti oven toaster dll. Selama ini saya hanya menghangatkan makanan dengan air fryer, oven dan microwave yang rata-rata adalah hadiah hahaha.. Tapi pagi ini saya akan memasak!

Butuh skill mumpuni untuk membuat mie instant, bukan? Hahaha.. saya hanya bercanda! Eniwei, saya membuat mie instant, luar biasa sekali jaman sekarang, saya melihat berbagai jenis mie instant, berbagai rasa baru yang belum pernah saya lihat sebelumnya. Indomie goreng memang sudah mendunia, hampir di semua supermarket di Amerika yang saya kunjungi menjual itu, tapi saya belum lihat mie goreng rasa ayam kecap, ayam penyet dan lain-lain. Ada lorong khusus di supermarket di Bandung yang berisi mie instant beraneka rasa. Pilih saja sendiri!

Mie instant selesai, hanya sekian menit, lalu saya mulai menggoreng telur, dan baru sadar bahwa saya tidak punya garam! 2 bulan tidak memasak, saya tidak punya apa-apa! Seru ya? Hahaha... Terus terang, saya merasa seperti orang tidak berdaya. Masa garam saja tidak punya?

Saya jadi ingat sebuah program acara TV jadul, entah sekarang ada atau tidak karena saya tidak punya TV. Entah judulnya apa, sepertinya ada istilah undecover-nya. Ini di Inggris. Jadi ada orang yang sangat berada, lalu dia harus menyamar di daerah miskin hanya diberi bekal uang sangat minim sesuai dengan tunjangan orang miskin selama seminggu dan dia harus bisa hidup serta terlibat di lingkungan itu agar dapat merasakan bagaimana kehidupan kaum miskin. Dia harus makan makanan kalengan, masak sendiri dan tinggal di rumah kumuh. Sesudah seminggu dia kembali ke rumahnya, lalu berikutnya dia kembali ke daerah "misi" yang dia jalani selama seminggu itu lalu berbuat sesuatu yang luar biasa untuk lingkungan itu. Saya suka acara ini karena banyak dampak positif bagi lingkungan yang serba terbatas.

Saya tidak menyamakan diri saya dengan orang keren di atas, saya hanya diingatkan bahwa jangan menganggap segala sesuatu yang kita alami dan kita miliki itu sebagai sesuatu yang take it for granted. Kalau kita memang lebih beruntung, bersyukurlah dan kalau bisa, berbagilah. Sama seperti cerita saya kemarin bagaimana banyak kalangan muda yang berbagi kebaikan pada orang yang sederhana.

Bagi saya pengalaman hampir 2 bulan ini merupakan pengalamn reflektif, yang membuat saya lebih melihat ke dalam dan berusaha mengkoreksi diri, mawas diri dan diajarkan untuk lebih bisa menerima apa adanya, lebih bersyukur dan semakin menunduk dan sebagainya. Dalam keterbatasan, kita bisa melihat banyak hal secara lebih dalam. Dalam keterbatasan kita diajari untuk bersyukur.

Foto credit: inspiration.org