Bulan Nopember adalah bulan yang sangat baik untuk bersyukur. Di Amerika dimana saya pernah tinggal selama 18 tahun, setiap menjelang akhir bulan Nopember ada perayaan besar yang dikenal sebagai hari Thanksgiving. Walau sekarang lebih terkenal karena panggang kalkun dan nonton pertandingan sepakbola, tapi sesungguhnya jika diamati benar-benar, ini merupakan perayaan yang sangat sehat dimana kita bersyukur atas anugerah yang sudah kita peroleh sepanjang tahun serta saat-saat yang luar biasa untuk berkumpul bersama keluarga.
Deepak Chopra menjelaskan bahwa bersyukur memiliki benefit yang sangat baik bagi kesehatan, demikian juga Dana Arcuri, seorang guru dan penulis yang mengatakan demikian: “The more you are grateful for what you have, the more you can live fully in the present.”
Saat ini, menurut saya loh, kemanusiaan kita sedang diuji. Saya mengatakan ini sebab saya hampir setiap waktu melihat bahwa masyarakat menunjukkan kebencian dimana-mana. Sebuah unggahan yang indah dan menarik yang seharusnya membuat kita semua senang membaca atau melihatnya, selalu saja ada yang membubuhi hal-hal yang negatif. Memang benar bahwa semesta bergerak dengan sebuah keseimbangan, tapi yang saya tidak habis pikir mengapa masyarakat mudah sekali mengumbar kebencian dan hal-hal negatif. Ketika saya terharu melihat ada unggahan tentang seseorang yang berbuat baik kepada rakyat jelata, tidak jarang ada yang sinis dan mengomentari bahwa itu adalah hal yang palsu, itu adalah sandiwara, menuduh berbuat baik hanya karena konten, atau malah dikaitkan dengan kelompok politik tertentu dan lain sebagainya yang membuat masyarakat terpecah belah. Banyak anggota masyarakat yang begitu bebal dengan dalih kebebasan berpendapat lalu menjadi sangat judgemental dan memberikan atribut yang mengecilkan orang lain. Pertanyaan saya mengapa? Kebahagiaan dan kepuasan macam apa yang diperoleh dengan melakukan hal-hal negatif pada orang lain? Merundung orang lain secara fisik sudah sangat tidak terpuji, apalagi perundungan secara verbal, efek psikologisnya akan lebih berbahaya.
Apakah mungkin orang-orang semacam itu menjadi demikian karena mereka lupa bersyukur? Saya pikir begitu, karena menurut saya orang yang tidak berterimakasih cenderung menjadi pembenci, bitter, hilang harapan dan malah depresi. Sifat-sifat semacam itu akan terlihat dari tingkah laku mereka. Kenapa mereka tidak bersyukur? Bisa saja karena hidup mereka dipenuhi banyak peristiwa dan pengalaman yang menjadikan dia demikian, tapi bisa juga seseorang tidak cukup untuk berterimakasih karena harapan dan keinginan mereka tidak tercapai. Beda halnya jika kita mampu bersyukur walaupun menerima sedikit, tetap bersyukur walaupun yang diperoleh belum mencukupi, karena sebetulnya segala sesuatu ada saatnya. Jadi semuanya kembali ke karakter masing-masing dan karakter itu terbentuk dari banyak faktor termasuk pendidikan di keluarga dan di sekolah. Sangat kompleks.
Namun obrolan saya hari ini lebih ke rasa syukur. Karena kita tahu bahwa bersyukur itu dapat meningkatkan kualitas hidup dan kesehatan kita, maka mungkin kita sebaiknya lebih banyak mencurahkan perhatian pada rasa syukur ini, yang katanya ada 3 tingkatan.
Yang pertama yaitu kita bersyukur atas segala kebaikan yang kita terima dalam hidup. Sekecil apapun itu, kita punya alasan untuk bersyukur. Bisa bernapaspun harus disyukuri. Bayangkan jika kita sulit bernapas, apakah hidup ini dapat kita jalani dengan normal? Dapat melihat juga harus disyukuri karena kita diundang untuk menikmati keindahan semesta. Pernah melihat bagaimana reaksi pertama seseorang yang buta warna ketika mengenakan kacamata khusus? "Is that how the world look like?" Ungkapnya! Lalu dia menangis! Bersyukur! Ini adalah ungkapan syukur yang termudah yang hampir semua diantara kita sudah lakukan. Akan lebih baik lagi jika kita mencatat semua itu entah dalam jurnal pribadi, atau di forum ini di AES! Kita memiliki wahana untuk bersyukur setiap hari, count our blessing!
Yang kedua lebih sulit dan lebih menantang, yaitu mengungkapkan rasa syukur kita pada orang yang membuat hidup kita menjadi lebih baik. Kenapa dikatakan lebih menantang? Karena ketika kita membuka diri pada orang lain, untuk banyak orang hal tersebut membuat kita menjadi lebih rentan. Lebih mudah bagi kita jika kita bersembunyi dalam tempurung, bukan? Tapi ketika kita berterimakasih pada orang lain, ikatan emosional akan terbentuk dan ikatan emosional semacam ini merupakan kunci dari orang-orang yang bahagia.
Yang ketiga adalah yang paling dahsyat karena mengubah masa depan kita. Rasa syukur menuntun kita menjadi insan yang mampu memperlihatkan rasa simpati, semakin jarang menghakimi dan lebih apresiatif akan hidup dan dengan demikian kita mencanangkan masa depan kita pada hal-hal yang jauh lebih positif. Dengan menyerap rasa syukur sebagai dasar dalam menjalani keseharian kita, kita secara otomatis memfokuskan diri pada hal-hal yang positif sehingga dapat meredam yang negatif dan dari waktu ke waktu akan mengubah pola pikir dan hidup kita. Jelas di sini bahwa rasa syukur menjadi sebuah jembatan menuju keutuhan tubuh, pikiran dan spiritual.
Ide sebagian diambil dari Dr. Colvin's Blog, Three Stages Of Gratitude.
Foto credit: calm.com