Selama pandemi, nuraniku teruji. Dari sabarnya harus menahan rasa ingin bermain keluar melulu, menahan rasa kangen pergi kesekolah, kangen pergi ke sanggar tari, dan berkegiatan seperti sebelumnya. Banyak sekali hal yang membuat kesabaran ku teruji, selain kesabaran ada juga rasa stress yang membuat ku lupa bahkan malas untuk melakukan kegiatan wajib sehari-hari, seperti mandi, mengerjakan tugas, jam tidur berantakan, malas gerak, sampai lupa waktu ibadah.
Tentu saja kedua hal itu mengganggu ku sangat. Awalnya aku sulit untuk mengatasi hal tersebut, walaupun akhirnya aku bisa mengatasi dan kembali ke kegiatan sehari-hari, perasaan dan hal itu pasti kembali lagi. Biasanya perasaan itu kembali lagi saat aku dapat banyak tugas jadinya pusing, terlalu banyak hal buruk yang terlalui hari itu, dan malas, atau saat aku merasa kesepian. Nah, kesepian juga permasalahan nurani ku saat pandemi ini, karena biasanya aku sibuk berkegiatan di luar ruangan atau luar rumah, sekarang aku banyaknya berkegiatan di rumah dengan gawai. Saat menonton TV, atau main media sosial ku, dan kemudian melihat ada kegiatan yang asik, biasanya aku menjadi merasa kesepian karena aku tidak bisa melakukan itu, dan aku merasa tidak punya orang yang bisa diajak asik seperti itu, padahal aku punya banyak teman.
Untungnya setelah cerita ke orang yang tepat, aku dapat solusi yaitu memper dalam ilmu agama, jangan setengah-setengah, “karena kalau kita dekat ke Tuhan kita tidak akan merasa kesepian”. Ibuku juga bilang begitu “Ibu juga merasa sepi, tapi karena selalu mengaji dan sholat, jadi hati terasa isi, tidak kosong, tidak sepi”.
Akhirnya aku pun merajinkan mengajiku dan sholat tepat waktu, karena sebelumnya aku jarang mengaji, itu pun kalau ada les mengaji di masjid komplek saja, atau saat bulan puasa. Awalnya aku merasa tidak ada bedanya, tapi untungnya aku yakin kalau aku rajin, tekun, dan konsisten, aku akan dapat manfaat yang orang lain katakan. Setelah itu memang aku dapat manfaat kalau aku jadi lebih tenang, perasaan cemas ku yang biasanya datang tak di undang datang jadi tak pernah datang, dan hariku terasa lebih tenang dan permasalahan di hari-hari ku bisa teratasi. Tapi untuk masalah keesepian itu masih ada di dalam diriku.
Lalu perasaan kesepian, menguji kesabaran, dan malas muncul lagi, dan efek sampingnya seperti yang sudah ku beritahu sebelumnya, yaitu malas berkegiatan, malas mandi, tugas kelupaan, menghabiskan wakktu lihat sosial media, jadi mudah lupa, merasa tidak punya teman main, bad mood, dan merasa lelah.
Setiap aku beribadah atau sholat dan megaji, aku selalu berdoa ke Allah, kalau aku ingin menjalani hari ku dengan tenang, aku ingin melewati setiap harinya dengan berani, semangat, ceria, setiap ada masalah yang sangat kecil maupun besar aku bisa menyelesaikannya, aku bisa bertanggung jawab dengan aksi yang ku pilih, bisa menyelesaikan tugas dengan tuntas, kegiatan ynag ku lalukan dan yang akan ku lakukan bisa dimudahkan dan dilancarkan, dan aku bisa bersenang-senang. Dengan doa yang ku bacakan tiap selesai sholat, dan sebelum tidur selalu membuat ku terasa aman, walaupun aku tahu doa tidak akan semudah itu dikabulkannya, harus ada aksi yang dilakukan, niat, dan sungguh-sungguh saat berdoa.
Sekarang aku jadi tahu kalau semua itu harus diseimbangkan, ilmu pengetahuan dunia yang ku dapat dan pelajaran agama, agar dapat manfaat ke diri sendiri dandapat arti dari semua hal yang dikerjakan.
Pertanyaan reflektif perjalanan diri dan proyek mandiri = “Aku tahu kemampuan ku bisa lebih dari ini, tapi bagaimana caranya agar aku bisa mengeluarkan seluruh kemampuanku dengan totalitas? Cari solusi dan jawabannya than!”