Halo teman-teman yang budiman, sebelum bercerita lebih jauh izinkan saya mengucapkan selamat tahun baru 2026. Semoga tahun ini lebih ramah, lebih waras, dan memberi kita cukup alasan untuk berjalan pelan tanpa harus merasa tertinggal.
Tanggal 28 Desember, pagi-pagi sekali kami sudah mengarah ke Malioboro. Anehnya jalan legendaris itu tidak seramai bayangan, masih sepi, masih longgar seolah Malioboro sedang menarik napas sebelum siang benar-benar datang. Ada kesenangan kecil melihat kota besar dalam kondisi setengah terjaga.
Pagi itu kami makan gudeg, manisnya tidak tanggung-tanggung. Terlalu manis, barangkali lidah saya yang terbiasa pedas, asin, dan gurih, terasa sedikit kebingungan. Tapi begitulah Yogyakarta: manisnya bukan untuk semua orang, dan mungkin memang tidak perlu dipaksakan untuk disukai. Ada rasa yang cukup dihormati saja.
Dari sana kami berjalan kaki menuju House of Raminten. Jaraknya lumayan, dan matahari Jogja tidak pernah setengah-setengah dalam bekerja. Panasnya menyengat, trotoar terasa panjang, dan langkah mulai malas. Namun sesampainya di sana, kami justru disambut pintu tertutup. Masih tutup, sebuah ironi kecil setelah perjuangan yang cukup jauh.
Akhirnya kami memesan taksi, supirnya ramah tapi selera humornya… garing lucu dengan caranya sendiri. Dalam perjalanan, kami diajak berkeliling dan ditunjukkan kampus besar dengan nama besar. Melihatnya dari luar saja sudah cukup untuk mengerti mengapa banyak mimpi ingin berlabuh di sana.
Siang menjelang, kami naik andong, berputar-putar kembali di Malioboro yang kini mulai padat. Derap kuda, bunyi roda, dan wajah-wajah turis bercampur jadi satu. Dari andong kami lanjut naik becak, sang abang becak membawa kami berkeliling membeli baju, melihat batik, dan tentu saja sedikit diarahkan ke tempat-tempat yang sudah ia hafal betul sebagai sumber rezeki.
Sore hari kami kembali ke hotel dengan tubuh lelah, kepala penuh, dan kaki meminta istirahat. Malamnya, kami sempat singgah ke Jogja City Mall. Bukan tujuan besar, hanya tempat jeda dan ruang ber-AC untuk menutup hari yang panas dan panjang.
Begitulah hari pertama saya di Yogyakarta, tidak istimewa dalam pengertian luar biasa tapi cukup untuk dikenang. Besok Jogja akan bercerita lagi dengan caranya sendiri.
Wah Carlos hadir lagi. Terima kasih. Saya kangen dengan gaya Carlos bertutur, yang katanya selalu menari-nari dan indah untuk dinikmati. Ditunggu kelanjutannya. 🙏🏼😊