Siapapun yang sesekali baca segala bentuk ocehan saya, pasti sudah tahu bahwa saya dari keluarga sederhana yang semasa kecil dibesarkan di kampung dengan segala macam keterbatasan.
Segala bentuk keterbatasan itu tentunya punya banyak dampak terhadap karakter, personality, kepercayaan diri dan lain sebagainya terutama ketika memasuki kalangan dengan tingkat sosial yang berbeda. Bayangkan saja misalnya seorang kampung yang tiba-tiba harus masuk ke sebuah club penuh dengan orang-orang penting dari kelas atas. Memandang pakaian yang saya kenakan dan membandingkan dengan sekeliling saya saja sudah bisa membuat harga diri terhempas dan merasa tersesat di tempat ramai. Sepertinya itu hal yang wajar tapi jika mengingat kembali pengalaman yang sudah saya lalui, saya harus menghadapi hal-hal yang tidak terlalu nyaman.
Butuh banyak jam terbang untuk menjalani masa transformasi dari seseorang yang terbiasa hadir di sebuah sudut yang kusam dan gelap ke tempat yang terang benderang dimana merasa "ditelanjangi" karena selama di tempat gelap kita hanya memiliki wawasan terbatas. Jangankan melihat diri sendiri secara gamblang, melihat sekeliling saja begitu terbatas, jangankan membangun mimpi yang ingin dicapai, membayangkan mimpi itu sendiri sepertinya jauh lebih membingungkan daripada mimpi itu sendiri. Bagaimana ingin bermimpi jika kita tidak mengatahui apa yang ada di luar sana? Lingkungan begitu terbatas, pengetahuan dan wawasan sangat sempit ditambah kalau boleh jujur, orang-orang kecil sangat protektif pada diri sendiri sehingga mimpi pun diatur sedemikian rupa agar jika tidak tergapai tidak akan terlalu menyakitkan. Cari mimpi yang wajar-wajar saja lah, sebab kalau terlalu tinggi dan jatuh, sakitnya akan lebih dasyat daripada kalau terperosok lubang yang dangkal. Itu yang dulu saya alami.
Ada beberapa hal yang ingin saya bagikan. Bukan karena saya menganggap sudah melewati masa-masa itu atau bahkan menganggap diri sudah ahli, sama sekali tidak. Senang saja berbagi, toh jika saya bagikan yang saya miliki tidak berkurang. Bukan begitu? Beda hal nya dengan uang, kalau saya bagi-bagikan uang saya, maka yang saya miliki akan berkurang. Pengalaman tidak akan pernah berkurang walau seandainya kita bagikan sejuta kali sekalipun. Betul khan?
Nah, yang pertama. Jangan pernah menunda mimpi! Terkadang kita berpikir bahwa kita tidak layak memimpikan suatu hal. Kita seolah-olah membohongi diri sendiri sebagai seorang yang unworthy. Itu sama saja dengan menghina Pencipta! Ingat bahwa Tuhan menciptakan manusia menurut citraNya! Mengecilkan diri sendiri sama saja dengan mengecilkan Sang pencipta. Jadi saya mengajak jika punya mimpi, jangan pernah berpikir bahwa kita begitu tidak berharga karena memimpikan sesuatu lalu menunda-nunda dan berkata,"Nanti saja saya mulai jika sudah siap!" Hidup tidak begitu! Kesempatan kadang hadir pada saat yang tidak kita harapkan, dan jika kita menunda-nunda serta tidak menyiapkan diri, pada saat kesempatan itu ada kita tidak mempunyai kesiapan apapun. Rugi, sebab kadang kesempatan hanya hadir sekali dalam hidup!
Jujur pada diri sendiri. Ini yang kedua. Kalau gagal bilang gagal lalu kita belajar dari kegagalan itu untuk tidak mengulang. Dengan menolak bahwa kita gagal, ada kecenderungan kita mengulang kesalahan yang sama sebab yang pertama tidak pernah kita akui! Dengan mengakui kesalahan atau kekeliruan serta menanggung konsekuensinya secara otomatis kita belajar bertanggungjawab. Dengan menghadapi dan merasakan konsekuensi dari perbuatan kita, dijamin tidak akan melakukannya lagi. Siapa yang mau merasa malu atau menderita sebagai akibat dari kesalahan lebih dari satu kali?
Merangkul perasaan. Ada kalanya kita mengalami perasaan yang tidak nyaman. Dengan mengakui dan merangkul perasaan itu kita secara tidak langsung juga menyembuhkan diri sendiri. Menolak sebuah perasaan, atau kata kerennya "denial" perasaan itu semakin lama semakin membengkak, semakin hebat dan akan berakhir dengan hal yang jauh lebih serius seperti halnya mental atau nervous breakdown. itu seringkali sebagai akibat dari penyangkalan. Dengan menerima kekalahan dan merangkul perasaan sedih, kita menjadi jujur pada diri sendiri dan menerima diri apa adanya. Tidak ada manusia yang terbebas dari keterbatasan atau kesalahan. Dengan melakukan penerimaan diri, kita akan jadi lebih dewasa dalam bersikap, lebih bijak dalam menentukan pilihan. Jadi tidak ada salahnya sesekali kita berkata,"I am not fine!" Tapi jangan lupa kita harus mengolahnya sehingga kita bisa berkata,"I will be better!" Sesudah semuanya lewat, saya yakin kita akan bisa berkata,"Ternyata tidak seburuk yang saya perkirakan!" Percaya deh!
Yang terakhir, tidak ada seorangpun yang mengetahui segala-galanya. Yang saya lakukan jika saya tidak tahu, ya mengakuinya lalu saya dengan demikian akan berusaha mempelajari sesuatu yang baru! Ketika saya duduk sebagai orang kampung di sebuah meja makan dengan orang-orang penting dan stress melihat ada sekian banyak garpu dan sendok tanpa mengatahui yang mana untuk makan apa. Ya saya sadari saja dulu bahwa saya tidak tahu. Cara mencari tahu, kalau tidak malu (seperti saya yang sering tidak tahu malu, hahahaha) ya tanya saja pada orang yang duduk di sebelah kita. Jika malu bertanya ya tunggu saja, dan lihat bagaimana orang lain melakukannya. dengan demikian saya bisa belajar sesuatu yang baru!
Satu hal yang saya pelajari, orang yang ditanya biasanya akan sangat apresiatif dengan sikap kita dan tidak akan segan-segan membantu. Siapa yang tidak merasa hebat jika ditanya? Memberitahu sebuah informasi itu menyenangkan loh! Dalam kondisi formal, tidak ada orang yang akan melecehkan kita karena bertanya. Tidak ada orang yang secara terang-terangan menghina kita ketika bertanya, kecuali kalau dia seorang ontohod! Hahahaha...
Foto credit: calmsage.com
keren banget ini... ๐ผ๐๐ผ๐
Bagus bangettt ini pak joe terima kasih, jadi pengingat buat diri nih