Hampir semua orang menyukai happy ending. Entah ketika membaca buku atau menonon film, ketika selesai dengan happy ending maka ada semacam rasa puas karena pada dasarnya manusia tidak menyukai hal-hal yang tidak menyenangkan. Itu adalah hal yang wajar. Tapi pada kenyataannya hidup tidak selalu begitu. Apalagi secara filosofis selalu dikatakan bahawa kebahagiaan itu tidak akan ada jika sisi yang bersebrangan, yaitu kesedihan tidak pernah hadir. Filsafat timur juga mengatakan hal yang demikian, ada gelap ada terang ada yin dan ada yang.
Di film-film atau buku-buku akhir yang menyenangkan seringkali mudah ditebak tapi sebetulnya dalam sebuah novel misalnya, akan dapat menawarkan pengalaman yang lebih menarik jika pembaca disuguhi dengan sesuatu yang mengejutkan, sesuatu yang berbeda dan yang baru karena seringkali perasaan yang kuat lainnya yang tidak selalu berbentuk kebahagiaan memberikan sesuatu rasa puas yang berbeda. Seperti contohnya cerita yang dipaparkan oleh Pramoedya Ananta Toer, ini sudah beberapa kali saya ungkapkan, di buku Bumi Manusia, akhir ceritanya begitu mengejutkan sehingga ketika saya selesai membaca, saya harus keluar rumah dan berusaha menenangkan diri. Ini sebuah perasaan yang luar biasa! Sejauh ini bagi saya belum ada buku lainnya yang memberikan suguhan perasaan seperti itu.
Suatu akhir yang menyenangkan sebetulnya membiarkan kita untuk tetap dalam lingkaran comfort zone. Memang menyenangkan tapi apakah hidup itu menjadi akan selalu sempurna jika berada dalam zona nyaman begitu terus menerus? menurut saya sih tidak. Contoh sederhana, pekerjaan saya akhir-akhir ini sangat nyaman, maksudnya pekerjaan tidak banyak, saya bisa duduk di depan komputer sambil membaca sesuatu dan mendengarkan musik, tapi jika terus menerus begitu ya akhirnya membosankan dan sama sekali tidak menyenangkan walau tentu saja memang nyaman dibandingkan jika misalnya saya bekerja menjadi tukang kebun yang harus membersihkan taman ketika matahari bersinar dengan teriknya. Mana yang lebih menyenangkan? Kebanyakan orang mungkin akan memilih pekerjaan di dalam ruangan sejuk ber-AC dan tidak perlu panas-panasan atau berkeringat karena harus melakukan pekerjaan fisik. Semua memang harus seimbang. Sesudah bekerja sekian jam, teman-teman sekantor, termasuk saya, akan berhenti sejenak lalu meluruskan badan, stretching agar postur terjaga. Seringkali juga kami keluar ruangan menghirup udara segar berjalan kaki keliling kampus atau memberi makan tupai. Itu sebagai upaya kami untuk menggerakkan tubuh yang seringkali justru penat karena hanya duduk menghadapi layar komputer.
Happy ending ternyata tidak selalu menarik dan segala sesuatu tidak harus selalu berakhir dengan menyenangkan. Itu juga saya setujui. Memang jika sesuatu yang diharapkan tidak terjadi kita akan mengalami perasaan yang negatif, tapi itu memang merupakan sebuah keharusan. Maksudnya kita harus juga mampu merasakan sesuatu yang negatif karena tanpa itu kita juga tidak akan pernah mampu menyelami kebahagiaan. Perasaan bahagia akan menjadi sempurna jika kita juga mempunyai kesempatan untuk merasakan kesedihan.
foto credit: knowledge.wharton.upenn.edu