Sekarang, kalau ada pertanyaan mana duluan ayam atau telur saya akan menjawab ayam duluan. Seperti jawaban dari pertanyaan duluan mana biji atau pohon, jawabannya adalah pohon. Alasannya, mengenai nama saja. Kita kan menamai sesuatu yang kita konsumsi.
Konsumsi dalam arti luas, seperti pengetahuan pun kita konsumsi kan. Makanya kita kasih nama, kalau tidak terkonsumsi biasanya tidak kita namai. Kembali ke telur dan ayam, duluan ayam karena setelah dikonsumsi dan dinamai kemudian kita kembang biakkan. Jadilah telur ayam.
Kalau ayam tidak duluan, yang ada hanya telur. Entah telur apa. Seperti biji alpukat, yang lebih dahulu ya pohon alpukatnya. Kalau tidak ada pohon duluan, itu hanya biji. Saja. Entah biji apa. Demikianlah lebih dahulu pohon daripada biji. Eits, kalau gitu yang benar-benar paling duluan buahnya dong?
Ya itulah, alasan pernyataan awal soal kita kan menamai sesuatu yang kita konsumsi dalam lingkup luas. Buah alpukat kita konsumsi, ternyata kita ternutrisi dan tidak mati keracunan. Kemudian kita menamai buah itu, mencari pohonnya, kemudian mengkapitalisasi mengidustrialisasi mendomestifikasi men- apalah itu istilahnya.
Jadi teringat kata pepatah, pohon dikenal karena buahnya. Jadi ingin bikin kata patah-patah, biji dikenal karena pohonnya. Telur dikenal karena hewannya. Telur ayam kah, telur komodo kah, telur bebek kah, telur naga kah, telur kuda kah. Eh, kuda gak ber..telur. Kuda kan ber..lari.