AES 179 Selamat Pagi
joefelus
Thursday November 18 2021, 4:50 AM
AES 179 Selamat Pagi

Saya melihat keluar dari jendela dapur ketika sedang membuat kopi pagi ini. Bubuk kopi yang biasa saya buat ternyata habis, ada jenis kopi baru yang belum pernah saya coba sebelumnya, bourbon something something, lupa namanya! Tapi harumnya memang agak berbeda dan memang agak-agak berbau minuman orang dewasa hahaha! Sekilas saya melihat pemandangan yang agak putih di luar, jadi saya mendekat ke jendela dan membuka tirai sedikit. Wah ternyata semalam bersalju! Tidak banyak tapi cukup membuat atap dan rerumputan berwarna putih semua. Saya langsung melihat aplikasi cuaca untuk mengetahui berapa suhu hari ini. -7 derajat celcius! Saya harus pakai baju rangkap, sweater dan jaket!

Pagi ini juga di group baru yang saya ikuti dalam upaya menunjukkan keprihatinan atas sakitnya seorang sahabat, terlihat ramai banyak aktifitas. Ada yang laporan dana, ada yang saling menyapa dan ada pula yang menghadirkan kembali percakapan-percakapan yang sudah lewat untuk informasi rekan-rekan yang baru bergabung. Dalam hati saya mulai merenung. Ini orang, begitu banyak menyentuh pribadi-pribadi lain hingga dalam keadaan berbaring tidak berdaya pun masih bisa mengumpulkan banyak orang dari berbagai tempat! Sahabat saya yang sedang sakit ini memang orang yang spesial!

Pertemanan selama 30 tahun lebih sepertinya banyak saling mempengaruhi satu sama lain. Mungkin lebih tepat saya banyak mendapat pengaruh dari sohibku ini, tidak tahu apakah saya mempunyai pengaruh terhadap dia, saya sepertinya orang biasa-biasa saja hahaha.. Ya banyak hal yang saya pelajari dari dia. Keuletannya dalam menghadapi masalah perlu acungan jempol dan saya saksikan langsung ketika saya mampir di Kansas City beberapa tahun sesudah mereka pindah dari Boston. Dan saya yakin karena memiliki keuletan yang mumpuni, dia akan melewati masa-masa sulit ini. Mungkin yang dia butuhkan saat ini adalah upaya sahabat-sahabatnya untuk membangunkan dia dari mimpi yang sangat panjang ini.

Sambil berjalan kaki menembus suhu dibawah nol, saya terus melamun. Jalanan tidak semuanya putih, terutama aspal dan trotoar sama sekali tidak terlihat ada salju. Rumput-rumput beda ceritanya, putih di sana-sini. Saya kembali teringat hari kedua dalam perjalanan kami di kota kecil di luar Boston menuju kereta commuter. Malam sebelumnya turun salju, jadi kami berempat berjalan kaki dengan suhu yang mirip-mirip dengan pagi ini. Uap keluar dari mulut setiap kali kami berbicara atau bernapas, kami tertawa-tawa di sepanjang jalan. Itu kali kedua saya bertemu dengan salju, sebelumnya saya melihat salju untuk pertama kalinya dalam hidup di Grand Canyon di Arizona. Pagi itu bahkan Anthon dan saya sempat perang salju di jalan seperti anak kecil! Untung tidak ada siapa-siapa yang melihat karena kebanyakan orang lebih suka diam di dalam rumah pada saat dingin seperti itu, lagian hari masih sangat pagi. Kami aja yang memang bandel dan senang ngelencer! Jadi pagi-pagi sudah kabur.

Sampai di stasiun kami masih banyak waktu, jadi antri dulu beli kopi. Ini kopi yang sangat enak! Sebetulnya kalau mau jujur kopi itu biasa saja, banyak tempat yang menjual kopi jauh lebih enak dari kopi ini, karena ini sebetulnya hanya toko ritel donat yang ada tersebar di seluruh dunia, termasuk Bandung. Jadi sama sekali tidak spesial. Nah mengapa kopi ini jadi tidak terlupakan? Karena terjadi pada peristiwa yang tak terlupakan, di tempat yang tak terlupakan bersama sahabat-sahabat yang juga tak terlupakan! Tapi memang di suhu yang dingin semacam itu, kopi yang biasa tidak dilirik pun bisa jadi sangat nikmat dan menghangatkan tubuh. Mungkin itu alasannya sehingga harum dan rasa kopi itu kadang seperti yang masih bisa dibayangkan hingga saat ini 22 tahun kemudian. Ya Tuhan, itu terjadi lebih dari 20 tahun yang lalu! Tidak terasa waktu bergulir, pada saat itu kami masih berempat, masih belia dan belum ada pasukan yang membuat dompet kami kering terus-terusan hahaha...

Yang teringat juga adalah ketika kami sudah masuk ke dalam gerbong kereta komuter menuju Boston, gerbongnya kosong, hanya kami ber-4! Saya malah masih ingat percakapan kami. Anthon bercerita tentang perjalanan kami dari Jogya menuju Bandung di malam hari bersama anak-anak. Kami memang menyewa beberapa gerbong khusus untuk kami, kereta dari Solo itu hanya berhenti sebentar di Jogya, ternyata ada beberapa orang di gerbong tersebut yang seharusnya hanya untuk kami. Orang-orang itu sepertinya tidak peduli bahwa mereka berada di tempat yang salah. Anak-anak protes ke kami guru-guru. Lalu timbul ide iseng, anak-anak yang memang sangat ribut, berjumlah ratusan, sengaja kami suruh stel musik kencang-kencang dan gerbong kami jadikan semacam tempat disko. Anak-anak menari dan bernyanyi dengan ramai dan riang gembira. Orang-orang itu akhirnya pindah gerbong! Hahahaha.. Nah jadi wajar bukan kalau kami dijuluki guru-guru yang nyeleneh? Tapi jangan salah anak-anak sangat kreatif, hingga sekarang sesudah mereka dewasa dan berumah tangga! (sok tahu memang, ngaku-ngaku berjasa! hahaha... kalau sudah begini, kami selalu berkilah dengan kata-kata yang selalu kami gunakan sejak jaman muda, Cuek aja... yang penting PeDe! hahahaha)

Ya itu yang kami bicarakan di dalam gerbong.. Ceritanya kami membanggakan diri dengan bercerita itu ke istri masing-masing hahaha..! Lalu petugas kereta datang berkeliling meminta tiket sambil ngobrol. Akhirnya kondektur tahu bahwa kami berkunjung dari Hawaii, hingga tiba di Boston kondektur itu selalu memanggil kami dengan panggilan Coconut! hahaha.. Di Boston kami jalan-jalan ke Quincy market dan Harvard. Di sana saya melihat sebuah patung terkenal yang salah satu kaki patung logam itu sepatunya begitu mengkilap karena semua orang yang berkunjung selalu merabanya. Serius! Mengkilap sekali jika dibandingkan dengan sepatu yang sebelahnya. Ya bahkan barusan saya check di Wikipedia, patung itu adalah patung John Harvard pendiri universitas Harvard yang menjadi salah satu universitas terbaik di Amerika, Patung itu dibuat dari kuningan dan para pengunjung katanya meraba sepatu itu untuk keberuntungan. Entah keberuntungan apa hahaha.. Mungkin sama seperti kalau kita melempar koin ke kolam sambil komat-kamit melayangkan doa harapan hehehe... Oh soal lempar koin, saya lakukan itu di Grand Canyon, waktu itu saya ada di Angel Point dikelilingi salju yang pertama kali saya lihat seumur hidup, saya lempar koin sambil berdoa agar suatu waktu nanti saya bisa kembali lagi ke sana. Tapi sepertinya doa itu belum terkabul hingga sekarang karena saya belum kembali lagi ke sana hahahaha...

Ya lamunan selama 20 menit berjalan dari rumah ke tempat kerja membuat saya lumayan gembira. Saya memang pelamun, melihat sesuatu sering menimbulkan lamunan, dan pagi ini melamun gara-gara suhu dingin, salju dan juga keramaian di WAG, lalu jadilah tulisan ini! Mudah-mudahan tidak membuat bosan karena kerjanya hanya nostagia tak ada habis-habisnya hahaha!***

Andy Sutioso
@kak-andy   5 years ago
Terima kasih Jo untuk kisah lawasnya sewaktu bersama Aje. Ada catatan yang menarik tentang kegigihan Aje. Ya betul, semoga itu jadi sesuatu yang membuatnya bertahan dan bangkit lagi dari situasinya saat ini...🙏🏼