Pagi di daerah saya agak kelam, sepertinya matahari malu-malu atau malah agak malas ingin keluar atau tidak. Seperti saya, penyakit hari Senin walaupun tidak memiliki kegiatan penting yang berarti seperti ketika jaman masih ngantor, malas melakukan apa-apa. Tapi hari Senin adalah hari sampah, baik yang organik mapun yang anorganik, jadi saya tidak mau ketinggalan, jika tertinggal saya harus mau tidak mau menimbun hingga minggu depan dan itu sama sekali tidak menyenangkan.
Satu hal yang berkaitan dengan sampah selama tinggal di tanah air dapat disimpulkan dengan 1 kata: repot! Saya sangat mengerti karena jumlah populasi yang luar biasa besar sementara fasilitas tidak cukup untuk dapat menampung sekian juta manusia. Bayangkan berapa banyak sampah setiap hari yang dihasilkan setiap orang. Tidak sedikit dan kita semua dituntut untuk bisa membantu agar sistem yang sudah diciptakan dapat berjalan dengan baik.
Saya melihat kesadaran masyarakat sudah sangat jauh lebih baik dibandingkan dengan misalnya 10- 15 tahun yang lalu. Waktu itu saya sangat ingat sungai yang ada di belakang kompleks perumahan tempat saya tinggal menjadi tempat penimbunan sampah dan dihancurkan dengan cara dibakar. Entah sudah berapa lama praktik semacam itu dilakukan. Kemudian sekitar 10 tahun yang lalu sebelum saya pergi ke rantau, sudah dimulai gerakan sampah yang dikelola oleh lingkungan sekitar. Ada seseorang yang bersedia dikaryakan untuk menjemput sampah dari setiap rumah dan dibuang ke tempat penampungan. Masyarakat hanya perlu menyumbang sedikit uang untuk iuran yang dikelola oleh RT dan RW.
Kembali dari rantau, saya melihat banyak perbaikan. Sampah organik ditampung 3 kali seminggu lalu ada petugas dari kecamatan yang menejemput. Terus terang saya tidak tahu proyek apa yang dikelola oleh Kecamatan ini tapi banyak istilah yang saya dengar seperti maggot dan kompos. Jadi sepertinya sampah organik ini mereka manfaatkan untuk tujuan yang jauh lebih baik daripada hanya dibuang. Proyek Maggot ini katanya dapat dimanfaatkan untuk pupuk maupun pakan ternak. Masyarakat terlihat sangat rajin memilah walau saya lihat tidak semua, pembuangan sampah anorganik masih sering tercampur, tapi saya melihat sudah banyak kesadaran yang mulai berkembang ditengah masyarakat. Ada banyak kemajuan jika dibandingkan dengan 10 tahun lalu.
Saya tidak dapat membandingkan pengalaman tanah air dengan di rantau karena walau saya di rantau sekitar 18 tahun, saya hampir tidak pernah harus berurusan dengan proses pembuangan sampah. Maksudnya, dari 18 tahun itu lebih dari 10 tahun saya habiskan dengan tinggal di perumahan kampus yang sistem pembuangan sampahnya semua dikelola oleh kampus. Ada semacam tempat pembuangan sampah besar hampir di setiap kompleks yang entah berapa kali seminggu diangkut oleh truk sampah besar dengan peralatan muktahir. Dulu saya senang menyaksikan ketika Kano masih kecil bagaimana petugas sampah ini bekerja tanpa harus mengotorkan tangan mereka. Dengan trampil mereka menggunakan alat otomatis untuk mengangkat dumpster penampungan sampah ke dalam truk, jika truk terlalu besar ada kendaraan kecil otomatis yang berseliweran masuk ke lorong sempit untuk mengangkut bak sampah, kemudian bak itu disemprot air dengan peralatan modern yang merupakan fitur truk sampah lalu bak sampah kembali diletakkan di tempat semula dalam keadaan bersih. Jarang saya melihat lalat berterbangan sebab semua sangat bersih dan rapih, bahkan bak sampah pun tidak berbau karena disemprot cairan disinfektan.
Tempat tinggal saya yang lain adalah rumah kecil, tapi pemilik rumah tinggal bersebelahan, jadi sampah kami digabung dan pemilik properti yang bertanggung jawab untuk berurusan dengan perusahaan pemungut sampah. Dan selama sekitar 4 tahun saya tinggal di kondominium yang di setiap lantai memiliki chute untuk membuang sampah. Chute adalah semacam saluran vertikal yang ada di gedung bertingkat untuk membuang sampah. Jadi ada semacam saluran di setiap lantai dengan pintu khusus dan saya tinggal membuka pintu itu menjatuhkan kantong sampah dan sampah akan jatuh ke bawah (seperti permainan perosotan anak-anak) dan ditampung dalam bak besar di basement lalu hampir setiap hari ada truk besar yang turun ke basement untuk mengangkut. Selebihnya saya tidak tahu kemana sampah itu ditampung dan diapakan.
Sampah memang selalu menjadi masalah dimana-mana, terutama kota besar. Kalau lihat di filem-filem dengan latar belakang kota besar, itu adalah kenyataan yang sebenarnya. Saya lebih suka tinggal di kota kecil karena cenderung jauh lebih bersih. Lihat saja contohnya misalnya di kota New York. Pagi hari di sepanjang jalan raya di tengah kota akan penuh dengan kantong-kantong sampah berwarna hitam yang bertumpuk-tumpuk. Tidak jarang kantong sampah itu bocor dan cairan berbau mengalir ke jalan raya. Itu adalah kenyataan. Pemandangan semacam itu terjadi setiap hari dan kalau ada sampah tentunya banyak lalat dan tikus. Menurut gurauan yang sering saya dengar, jumlah tikus di kota New York lebih banyak daripada jumlah manusianya. Jadi bayangkan saja! Hahahaha..
foto credit: kapellachutes.com