AES420 Merayakan Kebhinekaan lewat Menulis
Andy Sutioso
Saturday October 1 2022, 2:37 PM
AES420 Merayakan Kebhinekaan lewat Menulis

Satu Oktober 2022, bertepatan dengan peringatan Hari Kesaktian Pancasila, saya diundang untuk hadir sebagai Teman Belajar bagi 25 orang guru dari seluruh Indonesia yang menjadi bagian dari Sekolah Guru Kebhinekaan. Satu ruang belajar yang digagas dan digulirkan oleh Yayasan Cahaya Guru di bawah pimpinan ibu Henny Supolo Sitepu. Bu Henny sendiri sudah kenal dengan warga Rumah Belajar Semi Palar saat berkesempatan berbagi bersama warga Semi Palar sebagai narasumber, walaupun sudah cukup lama juga - seingat saya di tahun 2018. Saat itu bu Henny menjadi pembicara bersama pak Yunus - ayah Neira - yang pernah berkeliling Indonesia naik sepeda motor, melihat dari dekat keberagaman Indonesia dan setelahnya menuliskan buku yang judulnya Meraba Indonesia. 

ScreenShot_20221001120032.jpeg

Setelah beberapa waktu lalu kami sempat berbincang tentang menulis, datanglah undangan untuk berbagi cerita - tentang menulis - di Sekolah Guru Kebhinekaan ini. Pertemuan ke sepuluh ini memang sesi yang dirancang untuk memberi masukan tentang tulisan yang dibuat oleh para peserta SGK ini. Ke dua puluh lima peserta SGK berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Ini sesuatu banget buat saya. Bisa berinteraksi dengan guru-guru yang hadir dari berbagai wilayah Indonesia pasti menghadirkan pengalaman belajar yang luar biasa. 

Hari ini saya dihadirkan sebagai Teman Belajar. Keren ya. Bukan Narasumber. Jadi Teman Belajar. Saya suka betul istilahnya. Ada tiga teman belajar hari ini, selain saya hadir juga mas Doni Koesoema - yang tulisannya saya sukai dari dulu, juga ibu Henny Supolo. Segera setelah sesi dibuka dan perkenalan singkat, peserta segera dikelompokkan ke dalam Break Out Room. Saya didampingi beberapa fasilitator dari Tim Yayasan Cahaya Guru, mbak Chandra Putri dan pak Komar diajak berdikusi dan saling memberi masukan tentang tulisan-tulisan yang sudah disusun oleh para peserta. Ada tujuh tulisan yang sempat kami bahas bersama sekalian juga berbagi cerita tentang pengalaman yang dijadikan inspirasi untuk bahan penulisan juga kebiasaan menulis para peserta. 

Dari pengalaman saya menulis - termasuk menuliskan ratusan esai di Atomic Essay Smipa, saya semakin berani meninggalkan apa yang disebut teori-teori penulisan. Menulis ya menulis. Salah satu media ekspresi, media yang digunakan untuk menyampaikan pendapat, pemikiran, gagasan, penghayatan, pemaknaan, kecemasan dan lain sebagainya. Sebagai media komunikasi, selama pesan yang ingin disampaikan ditangkap dengan tepat, saya pikir tulisan itu baik - bagaimanapun caranya mengekspresikannya.

Kalaupun perlu diklasifikasikan, saya pikir tulisan hanya ada dua macam, tulisan ilmiah (yang basisnya faktual) dan tulisan fiksi (imajinatif). Dari sisi literasi, saya sempat menjelaskan bahwa di Semi Palar kami memilah literasi ke dalam dua ranah : Literasi Diri dan Literasi Semesta. Lalu lainnya? Saya sampaikan bahwa menulislah dari jati diri kita masing-masing. Saya pikir ini juga bagian dari keberagaman dan lebih penting lagi dimensi keunikan dari kedirian kita masing-masing - yang diciptakan berbeda-beda oleh Tuhan Sang Kuasa.  

Tujuh tulisan yang sempat kami ulas dalam kelompok kecil ini sangat bervariasi. Dan memang semestinya begitu, Dengan demikian cara penulisan juga mencerminkan kebhinekaan para penulisnya. Belum lagi perspektif dan topik-topik yang dipilih untuk dituangkan ke dalam tulisan-tulisan tersebut. 

Saya sangat senang dan bersyukur bisa terlibat dalam forum ini. Selanjutnya juga sangat menantikan buku yang akan hadir dari proses belajar SGK ini. Indonesia sangat butuh narasi keberagaman dan kebhinekaan. Seperti yang dituliskan salah satu penulis dalam grup saya, rekan guru Hokkop Fritles Nababan bahwa kunci pertama dari menjadi berbeda adalah diri sendiri yang menerima bahwa memang kita berbeda.

Jadi ya mari kita merayakan kebhinekaan, keberagaman, dan lewat menulis, kita juga merayakan kemanusiaan kita. Salam.