Seringkali terlalu sibuk mengukur kapasitas sampai melupakan spesifisitas. Kemudian menjujung kolaborasi, yang malah menampilkan ketidak mampuan diri merealisasi imaji. Maksudnya, seringkali terlalu besar keinginan tidak diimbangi besar daya tahan menghadapi kenyataan.
Inginnya sih punya teman seklub yang kapasitasnya besar, kenyataannya menemukan yang spesifitasnya tinggi. Tidak mampu merangkai spesifisitas, malah menarik diri tenggelam dalam ilusi kapasitas. Sibuk dengan mantra harusnya harusnya dan koq gitu sih koq gini sih.
Biar tidak terjebak halusinasi yang malah menghasilkan bubur (halusin nasi), biar tidak tenggelam dalam delusi yang menyalahkan orang lain melulu (deuh lu sih). Mendingan (seperti kaum mendang mending yang sangat jago hitungan) menambah kapabilitas diri, daripada mengukur kapasitas orang lain.
Bisa dengan turun tangan mengerjakan hal sederhana merapikan area kerja, sehingga bisa melihat spesifisitas masing-masing dan menemukan potensi saling melengkapi. Juga dengan turun tangan menyiapkan area yang mendukung realisasi spesifitasi tadi, sehingga bisa mengakselerasi progress realisasi dari abstrak ke konkrit.
Alih-alih sibuk terjebak di kepala yang tidak melengkapi apa-apa dan tidak mencapai apa-apa, selain berkata-kata yang paling mentok diberi nada. Di saat yang lain menari malah sibuk menyanyi dalam hati, kan bubur banget yak (halusiNasi). Apalagi kalau liriknya memberi instruksi, wah.. ini indikasi delusi.
Perlu segera diobati dengan angkat kaki, pull up biar energi ngalir dari kepala ke jantung kemudian ke tangan. Eh, dengan kayang juga bisa sih. Yang penting pas melakukannya gak sambil makan bubur, repot juga kalau keluar dari hidung.