AES 120 Perubahan
leoamurist
Friday September 24 2021, 4:45 AM
AES 120 Perubahan

Perubahan itu berubah, bukan mengubah. Dengan menggunakan kacamata dan earplug ini, rasanya memudahkan untuk menyaring inspirasi. Kalau ada yang mengharapkan perubahan dengan langkah upaya mengubah, lewati. Kalau yang mengharapkan perubahan dengan langkah upaya berubah, lalui.

Mengubah itu seperti menyampaikan aspirasi kemudian menunggu reaksi. Jadi keinget kata Musashi, reaction is always late. Saat yang dinantinya datang di nanti, itu sudah tidak relevan lagi, sehingga hausnya tidak berhenti, mulai mengharapkan perubahan lagi, menghadapi pilihan mengubah atau berubah, lagi.

Berubah itu seperti menerima inspirasi kemudian beraksi menjadikan diri sebagai media aspirasi. Tidak perlu menunggu nanti, karena dari kini sudah bisa menggeser sedikit ke kiri. Melambatkan laju, bukan berarti berhenti. Ke sisi kiri, karena Indonesia lalulintasnya lajur kiri. Sambil berjalan, bisa melihat keadaan.

Oh, ternyata. Satu perangkat tidak bisa dipergunakan untuk semua persoalan. Juga, persoalan akan selalu berubah seiring waktu. Seperti memasak telur, dari empat hal yang tetap yaitu api air telur dan panci, selalu hadir penanganan yang berbeda seiring waktu. Misalnya memegang gagang panci, tiga menit lalu tidak sepanas ini.

Dari yang tadinya cukup dengan perangkat tangan sendiri, lewat sembilan puluh dua derajat celcius jadi memerlukan kain pembungkus. Padahal niatnya sama yaitu mengangkat panci yang sama. Satu situasi satu perangkat, satu kondisi satu perangkat, satu tidak bisa untuk semua walaupun semuanya itu untuk satu jua.

Salah satu model mental yang perlu ditegaskan sebagai dasar adalah, goal bukan ditempatkan di akhir. Justru ditempatkan di awal! Bersama dengan aturan yang ditempatkan di akhir, bukan di awal. Coba, bayangkan. Goal adalah sesuatu yang diharapkan terjadi, kita letakkan di awal. Bayangkan sampai benar terasa, halu dikit gapapa.

Kerasa kan, keteraturan apa yang akan terpenuhi saat yang halu tadi menjadi nyata. Jadi, kuatkan saja imaji (bukan imajinasi) di depan, sehingga menyadari kalau keteraturan adalah keniscayaan dan aturan hanyalah hasil sampingan. Seperti kebahagiaan dan kebersamaan, hasil sampingan.

Sisanya, lalui langkah berubah dan lewati langkah mengubah. Berhenti menunggu-nunggu menanti-nanti sampai menit terakhir, maju satu senti dulu aja. Sekarang. Caranya? Dengan membaca tulisan ini sampai selesai sebenarnya sudah maju delapan sentimeter sih.

Koq bisa?

Kesadaran bahwa, kalau diri begitu kuat menginginkan adanya aturan itu pertanda orientasi mengubah, sudah kemajuan pemikiran sejauh empat sentimeter. Kalau diri begitu kuat meng-imaji-kan harapan yang akan terwujud itu pertanda orientasi berubah, sudah kemajuan pemikiran sejauh empat sentimeter. Menyadari dua kesadaran ini, kemajuan pemikiran delapan sentimeter.
Udah ah.. narasi mulu. Lanjut!