AES 1401 Viva Il Papa Leone XIV
joefelus
Friday May 9 2025, 1:35 PM
AES 1401 Viva Il Papa Leone XIV

Sekitar tengah malam saya bersiap-siap untuk istirahat. Kemarinnya saya baru terlelap sudah jauh lewat tengah malam sehingga hari ini akan berusaha untuk istirahat lebih awal, membalas dendam atau membayar hutang sehari sebelumnya. Tiba-tiba ada pesan di telepon genggam saya: "Habemus Papam!" Waah... saya langsung berteriak memanggil Nina yang juga masih sibuk bekerja. "Nin, white smoke!" Kata saya. Nina tidak langsung mengerti apa yang saya maksud, tapi ketika saya mengatakan Conclave, Nina langsung tersadar dan sambil bergumam: Oh My God, dia beranjak dan langsung menghidupkan televisi. Benar saja, hampir semua saluran berita mengangkat berita yang sama. "We have a Pope" atau Habemus Papam, bahasa Latin dari kami mempunyai Bapak Paus.

Saya dan Nina kembali duduk di hadapan televisi yang hampir semalaman kami hidupkan untuk memantau berita tentang kondisi politik dan perekonomian serta proses konklaf pemilihan Bapak Paus yang baru. Kami duduk dan mulai terlibat secara emosional walau kami berada ribuan kilometer dari Vatican. Ya tahun ini agak bereda karena kami dapat mengikuti pemberitaan dari menit ke menit secara langsung seolah-olah kami berada di sana. Pemilihan bapak-bapak Paus sebelumnya tidak seintens ini sebab tidak ada pemberitaan yang langsung seperti ini.

Saya pikir hampir setiap manusia itu cenderung melekatkan diri dengan sesuatu yang jauh lebih besar dari dirinya karena semata-mata hidup kita mengalir menuju sesuatu yang tidak jelas dan keberadaan kita tidak permanen. Dengan mendekatkan diri, mengasosiasikan diri dengan hal-hal yang lebih besar memberikan perasaan nyaman dan juga stabilitas apalagi jika kita sedang berada dalam kondisi yang rapuh dan lemah. Dengan mempercayai sesuatu yang lebih besar kita merasakan sebuah perlindungan, memiliki pegangan dan lain sebagainya yang terus terang memberikan rasa nyaman.

Nah itu yang mungkin saya rasakan tengah malam tadi. Saya bergegas ke depan TV dan melihat asap putih menghembus keluar dari cerobong Kapel Sistine, air mata saya langsung mengalir. Saat itu saya merasa seolah-olah kembali memiliki orang tua sebagai seorang pelindung. Jantung saya berdebar dengan hebat menunggu tirai terbuka dan seorang seorang kardinal kemudian keluar mengumumkan: Habemus Papam! Dan air mata saya semakin deras ditambah sedikit rasa bingung karena tidak mengerti apa yang diucapkan oleh Kardinal tersebut hingga kemudian diikuti rasa takjub serta terkejut ketika penterjemah mengungkapkan bahwa Paus yang baru adalah Kardinal dari Amerika bernama Bob atau Robert.

Selama bertahun-tahun saya selalu mengaggap diri ini sebagai orang yang tidak terlalu religius walau saya pernah tinggal di biara. Pengalaman hidup sedikit mengubah saya walau akar keagaman tidak benar-benar hilang. Hari ini saya merasa menjadi bagian dari sesuatu yang besar dan perasaan itu sangat menyejukkan.

Tidak mengherankan sebetulnya perasaan itu. Sama seperti sebagai warga negara. Saya tinggal di Bandung, rasanya biasa saja, tapi ketika berada di luar negeri ke-Indonesiaan saya sangat kuat. Saya terharu ketika malam-malam berdiri di tengah kerumuman orang di Time Square di kota New York dan tiba-tiba di banyak TV raksasa di sana tampak semacam iklan yang berbunyi Wonderful Indonesia. Saat itu hati saya berbunga-bunga. Saya adalah bagian dari sesuatu yang besar! Saya terhubung dengan sesuatu yang luar biasa. Demikian juga ketika masuk ke sebuah ruangan tiba-tiba ada pameran topeng Bali lalu terdengar bunyi gamelan Bali yang dimainkan oleh orang-orang bule mengiringi tarian yang Indah. Dada saya terselubungi perasaan bangga dan kesenangan yang luar biasa. "Itu adalah budaya tanah kelahiran saya!" Kata saya pada orang-orang di sekitar saat itu.

Ya, mengkoneksikan diri dengan susuatu yang jauh lebih besar memberikan pengalaman emosional yang luar biasa. Sama seperti ketika Bapak uskup Antonius di Bandung diangkat. Bapak uskup itu adik kelas saya di seminari, di biara yang pernah saya tinggali. Sejekap saya merasa ada sedikit koneksi. Apalagi jika saya ingat dulu pernah nyanyi bareng bahkan beliau pada saat masih jadi frater ikut menyanyi ketika saya menikah! Hal-hal kecil lalu dikait-kaitkan karena secara tanpa sadar ingin menghubungkan diri sendiri dengan sesuatu.

Katanya semakin berumur maka kesensitifan semakin kuat. Pengalaman hidup dan jam terbang dalam menjalani keseharian menguatkan empati. Kita bisa ikut merasakan kesulitan orang lain karena semata-mata pernah bersentuhan atau bahkan pernah mengalami peristiwa serupa. Jadi katanya wajar kalau semakin tua semakin cengeng! Hahaha..

Paus Leo XIV adalah Bapak Paus ke-6 yang saya ketahui sepanjang hidup. Jaman kecil Paus saya adalah Paus Paulus VI, Lalu Yohanes Paulus I, Yohanes Paulus II, Benedictus XVI, Fransiskus dan sekarang Leo XIV. Ini bisa jadi akan menjadi Paus saya yang terakhir atau jika pencipta mengijinkan saya bisa menyaksikan bapak Paus berikutnya. Ini adalah nama-nama pemimpin Katolik dunia yang sudah menjadi bagian dari sejarah kehidupan banyak orang seusia saya dan ayah saya. Saat ini saya masih menikmati perasan luar biasa ini.

Foto credit: threads.com