AES094 Pola Pikir yang Terjajah
Andy Sutioso
Monday August 16 2021, 11:30 PM
AES094 Pola Pikir yang Terjajah

Lebih dari tiga setengah abad Indonesia mengalami jaman penjajahan. Besok kita merayakan hari kemerdekaan. Ya memang kita sudah merdeka, tapi sekian lama kita masih tetap mewarisi pola pikir bangsa barat yang tertanam dalam berbagai sistem kehidupan bangsa Indonesia. Pola pikir itu masuk lewat sistem ekonomi, sistem politik, sistem pendidikan, sistem kemasyarakatan dan lainnya. Kalau diamati sistem perekonomian yang berjalan di masyarakat juga cenderung kapitalistik - ini juga warisan budaya Barat - padahal Bung Hatta pernah mencanangkan bahwa yang paling cocok di Indonesia adalah sistem ekonomi yang berbasiskan koperasi. 

Hal di atas ini diungkapkan oleh Prof. Jacob Sumardjo di salah satu kelas semesta KPB beberapa tahun yang lalu. Jadi sederhananya begini, pola pikir barat itu linear, dan cenderung simplistik. Jadi selalu bergerak satu arah, bergerak ke depan. Sejarah ya tinggal sejarah, peradaban selalu bergerak maju. Karenanya di peradaban Barat dikenal jaman Reinassance, lalu ada jaman modern - setelahnya masih di kenal juga era post-modern. Hal-hal yang jadi bagian dari sejarah hanya ditempatkan di museum-museum sebagai jejak peradaban.

Apa yang sebetulnya dimiliki oleh bangsa Nusantara adalah pola pikir yang siklikal, seperti spiral. Jadi situasi peradaban selalu berputar - tapi tidak pernah kembali ke titik yang sama. Jadi ada nilai2 yang selalu kembali ditinjau, dipertahankan dan diterapkan kembali dalam situasi yang berbeda. Karenanya bangsa kita kenal yang namanya kearifan lokal. Sebetulnya pola pikir ini lebih holistik karena lebih kontekstual dan selalu menelaah kembali ke nilai2 yang dihayati sebelumnya.

Di sisi lain segala sesuatu yang sifatnya siklus, berputar mengandung keseimbangan di dalamnya. Ini adalah kekuatan tersendiri karena siklus, keseimbangan adalah prinsip kerja alam semesta.  

Saat ini bangsa Indonesia berkembang dalam pola pikir Barat, walaupun sesungguhnya apa yang dimiliki - dan masih ada di masyarakat tradisi adalah bentuk-bentuk kearifan lokal yang merupakan identitas masyarakat Indonesia yang masih hakiki. Kita masih punya kemungkinan untuk kembali kalau kesadaran ini kita bangkitkan kembali. 

Seperti yang kita saksikan hari ini, pola pikir yang dibawa peradaban Barat banyak membawa keburukan di mana-mana. Salah satunya kerusakan lingkungan, krisis sosial dan lain sebagainya. Kita semua berpikir bahwa bangsa Barat punya kelebihan yang perlu ditiru. Betul ada hal-hal baik, tapi banyak juga keburukan yang dibawanya. Perlu kesadaran dan kejernihan tertentu untuk mengenalinya.

Ini hanya catatan kecil. Mudah2an catatan ini membawa manfaat dan kebaikan. Masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan sampai Indonesia dan setiap insan manusianya merdeka semerdeka-merdekanya... Dirgahayu Kemerdekaan Indonesia ke 76.