AES265 Hari Raya Berubah Kendala
Andy Sutioso
Monday February 7 2022, 8:11 AM
AES265 Hari Raya Berubah Kendala

Esai pertama hari ini adalah tentang Hari Raya. Mungkin ada rekan-rekan yang mengamati bagaimana sejak dua tahun lalu muncul pola yang berulang dan cukup menarik. Bagaimana Hari Besar Keagamaan yang sifatnya perayaan bisa beralih dan berubah dari perayaan (hari yang membahagiakan) menjadi berbagai permasalahan. Bagaimana dan ini muncul dari konteks kegiatan yang sifatnya mestinya mendekatkan kita umatnya kepada Tuhan. 

Bulan Juni tahun lalu, kita berhadapan dengan ledakan COVID yang selama beberapa waktu selanjutnya membawa begitu banyak korban. Kalau teman-teman ingat saat itu, suasana mencekam. Ambulans tidak berhenti mondar-mandir kesana kemari. Berita kematian bergantian bersautan dari pengeras suara mesjid-mesjid dan pengurus RT-RW memberitakan kematian warga setempat. Berita duka mondar-mandir di berbagai grup WA di gawai kita. Sampai ada waktunya enggan saya membuka WA karena begitu banyak berita yang tidak kita harapkan tentang orang-orang yang kita kenal. Sangat menyedihkan. 

Momen-momen itu hadir saat setelah perayaan hari raya Idul Fitri di tahun lalu. Waktu itu Indonesia berhadapan dengan puncak kasus COVID gelombang 2 dengan kasus aktif mencapai 58.000-an kasus. Fasilitas Kesehatan kewalahan, tempat-tempat pemakaman sampai penuh sehingga mesti dibuka lahan-lahan baru. Akhir tahun 2021, hal ini berulang lagi. Setelah liburan Natal dan Tahun Baru yang sebetulnya cukup kondusif, kita berhadapan lagi dengan gelombang ke tiga setelah perayaan Imlek - tahun baru yang dirayakan masyarakat Tionghoa. Tapi ya karena sifatnya perayaan, banyak yang pergi merayakan, kemudian banyak yang jadi korban juga. 

Akhirnya ada pola yang muncul bahwa berbagai rencana yang kita buat di awal tahun jadi banyak terkendala atau berubah karena situasi yang sangat tidak menentu. Lihat saja grafik kasus aktif COVID yang ada. Saya pikir dalam situasi pandemi ini, kesadaran ini perlu ada - kalau kita perlu menjalankan hidup yang lebih terprediksi - walaupun mungkin kita perlu lebih menahan diri untuk berhura-hura saat berhadapan dengan hari raya. Bagaimanapun, perayaan hari besar keagamaan, akan jauh lebih bermakna kalau dijadikan momen reflektif - momen yang hening untuk mendapatkan makna dari perayaan hari-hari besar tersebut. Seperti saya sempat tuliskan di catatan saya kemarin, tujuan utama agama-agama adalah menuntun manusia penganutnya untuk beralih ke ranah spiritual - menjauh dari ranah material yang sifatnya keduniaan. Salam. 

Photo by Sharon McCutcheon from Pexels