Perjalanan Asa
Pada perjalanan-perjalanan lalu, aku gantungkan harap yang begitu bias.
Setiap rasa kecewa rasanya begitu membekas.
Ada harap yang sedikit demi sedikit kulepas.
Baiklah, perjalanan kali ini aku coba kemas dalam kata ikhlas.
Aku mulai menulis di beberapa lembaran kertas,
Tentang sebuah mimpi yang tak lagi membuatku cemas.
Kali ini jendela kereta sedikit basah oleh gerimis.
Aku percaya takdir adalah kisah terbaik yang Tuhan tulis.
Pastilah berbuah manis walau diselingi dengan tangis,
Kata seorang hamba yang terus berusaha optimis.
Suasana kereta begitu sendu.
Kuputar lagu-lagu dengan syahdu.
Namun aku justru larut dalam rindu,
Pada serpihan kisah yang membuatku candu.
Setiap langkahku, teringat pesan Ibu yang selalu mengiringi:
"Hati-hati dan semoga banyak rezeki," kata beliau dengan penuh cinta.
Kini kumaknai rezeki bukan hanya soal harta dan kesehatan semata,
Tapi juga tentang bertemu dengan orang-orang baik serta kenikmatan ibadah.
Tak lupa usapan lembut di pipi dan kecupan di kepalaku yang membawa hoki.
Ibu, tunggu aku pulang dalam perjalanan yang pernah penuh ketidakpastian ini.
Semoga segera mimpi bukan menjadi ironi atau sekadar testimoni,
Melainkan perwujudan harmoni,
Tentang sebuah mimpi yang kita yakini.
Asa di dalam Kereta Harina
01 Maret 2025