Seringkali menulis dengan jujur seperti yang biasa saya lakukan di AES menimbulkan dilema. Pertama, karena saya sebetulnya menuliskan pemikiran seolah-olah bagaikan proses thinking out loud dalam bentuk tulisan, sehingga seringkali filter yng saya gunakan agak longgar. Ya jujur saja, yang saya pikirkan saya tulis saat itu. Di akhir, ketika membaca ulang dan saya merasa nyaman, ya saya tuntaskan. Jika tidak, maka berakhir menjadi sebuah draft. Tidak aneh jika draft yang saya miliki jumlahnya ratusan. Yang membaca, jika ada, mungkin memiliki banyak pendapat terutama jika yang bersangkutan tidak benar-benar mengenal saya, maka dapat dikira saya melakukan pencitraan hahaha.. Istilah pencitraan memang sedang ramai di dunia internet karena sedang banyak berita tentang tokoh-tokoh tertentu yang dulu dianggap sebagai panutan ternyata memiliki gaya hidup bertolak belakang. Saya tidak mau banyak banyak bicara tentang ini. I am trying to mind my own business.
Berbicara atau bercerita dengan jujur memang bagaikan pedang bermata dua, satu saya dapat melampiaskan atau mengurangi beban dengan bercerita, tapi di sisi lain juga berdampak lain terhadap diri sendiri. Bayangkan bagai upaya mengeluarkan uneg-uneg tapi pada saat yang bersamaan dapat tertikam dengan cerita yang sama. Tidak selalu begitu, tapi mungkin saja itu terjadi. Untungnya budaya Timur seringkali mentabukan keterusterangan sehingga banyak hal yang tidak "kembali" pada diri saya. Feedbacknya terbendung entah di mana. Jadi sejauh ini aman-aman saja. Kasarnya, "Jika lo tidak suka, ya itu masalah lo." Saya mah hanya sekedar bercerita.
Tadi saya mengatakan dalam menulis saya menghadapi sebuah dilema. Yang pertama sudah saya gambarkan, nah yang kedua saya lupa! Hahaha.. Ya begitulah manusia dalam melakukan proses berpikir. Kadang runut dan lancar, kadang tersendat. Biasanya saya menuliskan pikiran pokoknya dahulu, kali ini sepertinya saya lalai.
Baiklah, yang kedua, sambil saya berusaha mengingat-ingat, kejujuran yang saya tuliskan itu seringkali sekedar mendokumentasikan pengalaman yang sedang saya jalani. Kalau saya hanya menuliskan sesuai dengan kaidah yang dapat diterima di masyarakat, seringkali jadi mengkebiri kejujuran yang saya miliki. Daripada begitu, lebih baik saya menuliskannya secara jujur lalu saya simpan dalam draft karena pada akhirnya mungkin saya anggap itu hanyalah untuk konsumsi pribadi. Nah di sini filter yang baik harus saya gunakan. Tapi sebatas mana ini baik atau kurang baik? Semuanya berdasarkan pendapat masing-masing. Ada banyak standar yang digunakan, kadang masyarakat juga memiliki standar ganda, jika untuk kalangan yang kita kenal baik, maka toleransi lebih luas, bagi yang tidak dikenal kita cenderung lebih kejam dan tidak jarang mengkecam. Itu biasa! Untungnya yang saya tulis hanya untuk kalangan terbatas, walau sebetulnya orang lain bisa saja menemukannya. Tidak masalah bagi saya. Yang tidak kenal saya boleh saja berpendapat apapun, toh yang saya tuliskan hanya sekedar, sekali lagi, mendokumentasikan pengalaman, bukan untuk gaya-gayaan karena memang pengalamannya begitu. Eniwei, saya menulis karena itu sebagai sebuah kebutuhan dan juga saya menilai banyak benefitnya.
Lalu pertanyaannya, kenapa saya menulis tentang ini hari ini? Ya itulah, karena saya menuliskan apa yang saya pikirkan out loud. Setelah lebih dari 1500 pikiran yang saya tuangkan dalam tulisan, tidak jarang saya berpikir tentang apa yang orang lain lihat dari tulisan-tulisan itu. Saya memang tidak sering mendapat feedback, jadi memang tidak tahu. Tapi ada banyak yang berkata bahwa dengan membaca pikiran-pikiran itu yang bersangkutan jadi lebih mengenal saya daripada hanya sekedar berbincang-bincang secara langsung. Menulis memang dapat menggali pemikiran secara lebih dalam dan intens daripada hanya ngobrol. Satu hal tapinya, saya jadi panasaran, teman-teman lebih mengenal dalam hal apa? Kepribadian? gaya berpikir? Ya saya tidak tahu juga. Namanya relasi yang tidak secara langsung karena melalui tulisan, kadang-kadang imaji yang orang lain miliki juga terdistorsi dengan pendapat dan tidak jarang ditambah kreatifitas berpikir mereka. Yang saya ceritakan misalnya tentang pemandangan musim dingin belum tentu menggambarkan imaji yang sebenarnya, nah kemudian yang membaca menciptakan imajinasi dengan tambahan pikiran atau kreatifitas mereka. Jadi ya tidak selalu sama dan benar. Ya begitu lah. Seru ya?
Foto credit: craftyourcontent.com