Hal ini sudah menjadi pemikiran saya cukup lama. Apakah generasi muda sekarang terjebak dalam kebingungan dan kecemasan tentang masa depan. Kita sendiri (generasi saya setidaknya) tentu melihat dan merasakan sendiri bahwa peradaban dunia sedang tidak baik-baik saja.
Baru saja kita melewati gelombang pandemi global yang memorak-porandakan begitu banyak sendi kehidupan manusia. Semua kalang kabut, bahkan ada negara yang nyaris ambruk dilanda pandemi. Tidak lama menyusul konflik Rusia Ukraina yang berpotensi memicu Perang Dunia ke 3. Memasuki 2023, buzzwordnya adalah Resesi Global. Di luar itu banyak lagi hal-hal baru yang hampir pasti merubah perjalanan jaman seperti booming teknologi AI yang membawa banyak kebingungan dan di sisi lain ada juga kerusakan lingkungan (Climate Crisis) yang semakin parah.
Begitu banyak masalah besar dan ancaman yang muncul dan setidaknya membuat pertanyaan besar muncul di alam kesadaran kita, "Apa yang akan terjadi di masa depan?".
Hal-hal ini yang sangat banyak merasuki alam pemikiran anak-anak kita, karena di usia tertentu paparan informasi jadi sangat terbuka sejak mereka mengakses internet melalu beragam gawai. Segala macam informasi akan masuk ke alam pikir mereka. Banyak anak (bahkan kita orang dewasa) yang punya sensitivitas tinggi terhadap hal-hal ini, hal-hal ini kemudian jadi mengganggu mereka, disadari atau tidak. Tidak disadari - dalam pengertian bahwa apa yang direkam masuk ke bawah sadar dan mengganggu mereka secara emosional dan memunculkan kegelisahan. Karena terjadi di bawah sadar, yang terlihat dan muncul ke permukaan adalah kegelisahan mereka. Kegelisahan yang mungkin kalau ditanyakan sulit mereka jelaskan apa yang menyebabkannya.
Beberapa hari lalu saya sempat berbincang dan menanyakan kepada @rico tentang hal ini. Rico mengiyakan pemikiran saya ini berdasarkan pengalaman pribadinya. Jadi sepertinya ini perlu jadi kesadaran bersama terutama para pendidik saat anak-anak kita masuk usia pra remaja. Saat mereka banyak melihat keluar dirinya dan menemukan banyak hal yang tidak OK di luar dirinya. Akhirnya, kita juga perlu sadari bahwa yang perlu dikuatkan adalah Literasi Diri, terutama pengenalan dan pengelolaan diri. Apapun yang terjadi di luar diri kita memang tidak bisa diubah - tapi kita bisa mengubah bagaimana kita merespon situasi di luar diri kita. Salam.
Photo by Pixabay: https://www.pexels.com/photo/alone-man-person-sadness-236151/