Suatu malam, kami turun untuk menyapa kaki seribu. Ia bertemu dengan seorang anak kecil, usia 2 tahun. Ibu sang anak menyapa dan memanggil namanya. Namun badannya seakan membeku. Matanya berkaca-kaca.
Sang anak 2 tahun lalu mendekat. Dari mata berkaca, lalu tangisnya pecah. Tangannya bergerak mendorong, kakinya bergerak menendang. Lalu kami naik ke unit. Ia kupeluk erat. Kutenangkan di balkon, sambil lihat kelip lampu kota. Ia menangis sesenggrukan, tapi dalam. Kuajak menarik napas panjang, menerima lalu perlahan melepas rasa takutnya.
Setelah ngobrol panjang, besok kutawarkan ia kembali ke bawah. Berdamai dengan dirinya saat bertemu orang baru, dan juga dengan sang anak yang baru dikenalnya. Di luar dugaan, saat bertemu, ia langsung menunduk dan berkata, "Maaf ya, kemarin aku takut." Meskipun sang anak tak membalas lewat kata, namun mereka langsung bermain bersama. Jongkok di pinggir kolam, bicara tentang ikan, berlarian mengejar kucing liar dan kaki seribu. Hingga menolak untuk berpisah dan pulang.
Olah nafas.
Validasi emosi.
Dampingi hingga tuntas.
Sedari kecil, bertemu orang baru adalah hal yang menantang untuk Kalun. Ditambah selama pandemi, kami jarang berinteraksi dengan anak seusianya. Jika bertemu anak baru, biasanya ia butuh waktu untuk bisa tenang dan berani berkenalan. Momen malam itu berharga luar biasa. Untukku, mendampinginya berproses dari pecah tangis hingga gelak tawa saat bermain, itu penuh haru.
Kemarin, saat ia menapakkan kakinya di tempat bermain yang baru, ia bertemu dengan beberapa anak seusianya. Dengan mudah ia lepas dariku. Menghampiri anak-anak tersebut, mengikuti ritme dan permainan mereka, dengan tenang.
Lalu, tak sadar, kali ini mataku dan Ikra yang berkaca-kaca. Anak perempuan kami bertumbuh begitu pesat, dalam mengelola dirinya dan berani berteman. Di malam sebelum tidur, ia bercerita tentang asiknya hari pertama bersama teman baru. Bismillah ya Nak..