Seratus Dua Puluh Satu Hari menulis. Hari ini cukup lama berpikir mau menulis apa. Akhirnya setelah merefleksikan apa yang dialami di dua hari terakhir ini, saya mengetikkan judul di atas ini. Sebelum menuliskan kontennya, saya pergi ke dapur dan menyeduh secangkir kopi. Supaya suasana hati, lebih nyambung dengan judul tulisan ini tentunya.
Malam ini seperti hari minggu pada umumnya, saya kumpul bersama ayah dan ibu saya bersama keluarga yang lain untuk makan malam bersama. Di awal pandemi, saya tidak berani mengunjungi ayah dan ibu saya. Mungkin ada sekitar 3 bulan lamanya saya tidak mengunjungi. Bukan karena ga kangen, tapi ya seperti banyak orang saat itu yang belum terlalu paham soal COVID, saya jadi sangat berhati-hati, kalaupun tidak mau bilang takut menulari ayah dan ibu saya.
Tapi saat ini, kami merasa bahwa waktu bertemu - walaupun hanya sebentar untuk makan malam bersama setiap minggu jadi waktu yang sangat berharga. Setiap minggu momen kumpul ini jadi berharga buat saya karena jadinya sangat membahagiakan bisa berjumpa dan melihat kedua orangtua dan keluarga lain bahagia dan tidak kurang suatu apa.
Siang tadi, setelah sekian lama, saya juga menghadiri pernikahan keponakan kami. Keluarga datang dari Jakarta untuk menghadiri misa pernikahan. Setelah sekian lama juga tidak jumpa dengan saudara dan para kerabat. Di gereja kami berkumpul, juga memunculkan rasa syukur karena melihat dan bertemu para sanak keluarga.
Mundur ke hari sebelumnya, kami bertiga sibuk membereskan rumah karena ada yang akan berkunjung. Rumah kami cukup berantakan karena hampir dua minggu penuh hari-hari kami penuh kesibukan - dan tidak punya banyak waktu membersihkan - membereskannya. Belum lagi, pohon mahoni di depan rumah kami baru saja menggugurkan seluruh daun-daunnya ke halaman rumah kami. Hehe... Alhasil kami bertiga sibuk berusaha membereskan dan merapikan rumah supaya cukup rapi dan layak dikunjungi keluarga dari Jakarta yang akan mampir.
Cukup melelahkan karena hari-hari sebelumnya kami juga cukup sibuk, tapi kami sangat senang melihat rumah lebih bersih dan rapi, jumpa keluarga dari Jakarta di pernikahan keponakan kami, dan ditutup dengan makan malam bersama orangtua.
Pandemi ini memang memberikan kesempatan untuk lebih menghargai hal-hal sederhana. Hal-hal yang mungkin sebelumnya tidak banyak kita syukuri. Kesibukan kita, lelahnya kita setelah membereskan - membersihkan rumah, bertemu keluarga, secangkir kopi hangat, dan buat saya termasuk untuk mensyukuri esai yang ke 121 ini - menuliskan bagaimana hidup adalah baik... Semoga tulisan sederhana ini juga jadi kebaikan kecil yang bisa disyukuri juga di sini. 🙏🏼