AES 813 Sulit Berubah
joefelus
Tuesday August 15 2023, 6:06 AM
AES 813 Sulit Berubah

Saya ingin menanggapi esai dari kak Andy: yang berjudul Kita Tidak Punya Waktu Tersisa. Saya mulai berpikir, seandainya saja prosentase dan jumlah manusia yang menggunakan akal sehatnya terdapat beberapa kali lipat dari yang ada sekarang, Tentunya perubahan yang selama ini sedang diusahakan akan mulai terlihat dampaknya. Pada kenyataannya segala betuk perubahan hampir tidak terlihat dipermukaan. Jadi judul esai kak andy ini sangat cocok dengan kondisi miris yang sedang kita hadapi sekarang ini.

Saya banyak melihat kelompok yang bergerak secara terbuka berusaha mengubah tingkah laku masyarakat. Saya sangat kagum dengan karya nyata mereka, tapi pada saat yang sama saya begitu sedih karena kesadaran masyarakat jauh daripada "sadar". Apalagi di negara tempat saya tinggal saat ini. Untungnya tempat saya tinggal terbilang sangat baik, kesadaran masyarakat sekitar kampus sepertinya masih bisa saya puji. Tapi jika saya menjauh apalagi ke daerah yang dihuni oleh kelas sosial yang agak di bawah, maka mulai terlihat banyak hal yang membuat saya prihatin.

Banyak orang menggunakan alasan "kebebasan". Ini sebuah kata yang sangat dasyat karena jika dipergunakan dengan baik maka akan mudah terlihat banyak perubahan. Sayangnya kata ini sering dijadikan alasan untuk pembenaran. Kebebasan berpendapat, kebebasan bertindak menjadikan semacam kedok para hipokrit. Contoh sederhana ketika saya beberapa waktu lalu berpergian ke Lousiana. Di Kota New Orleans banyak orang yang meninggalkan sampah seenaknya. Entah karena malas atau memang kebiasaan hidup jorok, saya tidak tahu. Jika ditegur mereka dengan seenaknya mengatakan ini negara bebas, sehingga mereka boleh melakukan apa saja sebab mereka mmpunyai hak masing-masing. Ini apalagi kalau bukan menjustifikasi kemalasan, keburukan dengan berlindung pada kebebasan? Sayangnya kelompok yang seperti ini jumlahnya tidak sedikit, jadi mudah dilihat betapa kotornya kota ini.

Mungkin esai saya hari ini jauh melenceng dari yang kak Andy sedang diskusikan. Tapi saya ingin menekankan bahwa benar adanya jika dikatakan kita tidak punya lagi waktu tersisa. Sayangnya yang menyadari ini hanya segelintir orang, sisanya adalah mereka yang sama sekali tidak bertanggungjawab karena merasa berhak melakukan sesuai dengan keinginan mereka, ditambah dengan ketamakan.

Contoh lain, kerusakan alam memiliki korelasi dengan kemajuan di bidang industri. Riset menyatakan 71% kerusakan alam terjadi karena emisi industri. Ini bagian yang sangat sulit ditembus karena kebanyakan pegiat pencegahan kerusakan alam adalah organisasi nir laba yang pendanaannya terbatas karena bersumber pada donasi. Sementara korporasi industri kebanyakan berlindung dibalik para politikus yang jelas-jelas didanai oleh konglomerat dan pelaku korporasi. Jadi memang sama sekali tidak punya keseimbangan power dalam hal pencegahan. Ini fakta dan terjadi di mana-mana dari mulai negara kecil hingga yang memiliki super power. Lagi-lagi menyadari hal semacam ini, saya setuju bahwa kita tidak punya waktu tersisa.

Hal lain. Masyarakat sangat terfokus pada usaha untuk survive. Saya sangat awam dalam hal ekonomi, tapi jika menggunakan logika dimana masyrakat ekonomi rendah stagnan prosentasenya di angka 9 hingga 10 persen, lalu middle class income yang tadinya 62 persen menjadi 43 persen, sementara upper class income yang tadinya 29% meningkat pensat menjadi 48 persen, maka bisa dilihat kesenjangan semakin lebar. Yang miskin tetap miskin yang kaya semakin kaya sementara middle klass mulai terjun terpuruk mendekati garis kemiskinan. Nah dari sini bisa dilihat bahwa kelompok yang ingin survive semakin besar. Mereka ini yang berjuang untuk hidup memfokuskan diri untuk bisa survive, siapa lagi yang akan peduli dengan hal-hal climate change, atau pelestarian lingkungan? Mereka akan mengatakan itu adalah tugas orang-orang pintar dan orang besar! Sementara orang-orang besar sibuk dengan korporasi dan membeli para politikus. Mungkin saja saya jumping into conclusion, stereotyping dan mengeneralisir secara serampangan, tapi mata kepala saya menguatkan bahwa kerusakan karena ketidak-pedulian terlihat jelas di kalangan tingkat sosial rendah. Mereka tidak terlalu peduli akan konsep lingkungan hidup karena mereka sibuk stuggling untuk survive. Ada kutipan mengatakan begini, para aktifis mentok di kalangan sosial menengah kebawah: "It's an issue that disproportionately affects working class people and people of color. Without addressing that dissonance, the movement can't move forward" Sama saja dengan sitilah mereka melempar issue itu ke "orang pinter dan orang berduit" karena mereka sudah terlalu sibuk untuk survive mencari sesuap nasi.

Saya mengerti kita sedang berpacu dengan waktu. Kita juga frustrasi dengan ketidak pedulian. Kita jengkel dengan kemalasan dan ketidak-bertanggungjawaban berlindung dengan hak dan kebebasan. Mudah-mudahan saja tik tok tik tok waktu yang bergerak dan menghitung mundur itu salah karena terus terang kita butuh waktu lebih lama. Ada keterlambatan yang sangat besar ketika pendidikan mulai mengajarkan dan menularkan kepedulian ini pada anak didik. Mudah-mudahan saja kita masih punya waktu sebab generasi kita dan generasi penerus mudah-mudahan sudah mempunyai konsep yang lebih baik dari pada generasi sebelum kita.

Foto credit: inc.com

Andy Sutioso
@kak-andy   3 years ago
Betul Joe. Kemarin di Taki-taki kita nonton bareng situasi di States. Di LA banyak sekali homeless people. Mengerikan. Kabarnya di tempat-tempat seperti Santa Monica juga sama. Tidak terbayangkan. Kalau tantangannya survival, soal lingkungan hidup tentunya jadi nomor ke sekian. Jadi situasi memang kian mengerikan.