Sepertinya saya lagi mogok menulis hal-hal yang serius. Jadi saya mau cerita saja. Kenapa saya sedang kesulitan menulis tentang hal yang serius, mungkin karena kelelahan. Akhir-akhir ini memang saya sedang kejar tayang di pekerjaan karena saya berencana akan cuti selama beberapa minggu dimulai dari seminggu sebelum Natal. Saya ingin banyak memanfaatkan libur akhir tahun dengan keluarga. Ini saat yang menurut saya sangat penting.
Waktu bersama keluarga itu mungkin oleh kebanyakan orang biasa saja. Kita memang bertemu setiap waktu lalu apresiasi kita menjadi menipis sedikit demi sedikit. Lalu semua itu memuncak ketika waktu kebersamaan itu hilang. Kita jadi begitu apresiatif terhadap kebersamaan. Itu saya alami sekitar belasan tahun yang lalu. Kano masih TK dan saya bekerja di restoran. Namanya restoran, ketika musim libur justru sedang sibuk-sibuknya. malam Natal, malam Tahun baru saya di tempat kerja. Saat itu saya begitu sedih dan kehilangan dan merasakan bahwa kebersamaan dalam keluarga itu sangat penting.
Pada intinya yang ingin saya sampaikan adalah, seringkali kita lebih apresiatif ketika kita "tidak memilikinya"! Itu juga saya rasakan sore ini sepulang dari kerja. Nina yang sedang istirahat sesudah terus menerus bekerja di depan komputer mengajak saya menonton vlog di youtube tentang kuliner di Bandung. Kami duduk menyaksikan beberapa vlogger yang menampilkan pengalaman mereka menikmati makanan-makanan khas di Bandung. Vlogger pertama kalau tidak salah dari Amerika. Dia mengajak penonton menikmati kupat tahu gempol, baso goreng di GOR Padjadjaran, mie kocok di jalan Banteng, Lalu beberapa makanan lain di Gardujati, sampai roti bakar di salah satu gang di sekitar Suryani. Vlogger yang lain dari Belanda mengajak jalan-jalan di jalan Braga.
Saya lalu membandingkan dengan perasaan saya ketika masih di Bandung, beda sekali. Ketika di Bandung saya memang menyukai jajan sate ayu, sate susu, martabak hingga mie kocok. Saya khan tukang makan! Tapi entah bagaimana, ketika menyantap itu dan ketika menyaksikan dari jauh ketika saya tidak punya akses ke sana, justru apresiasinya jauh lebih tinggi. Lucu sekali bukan? Malah saya begitu senang ketika mengenal banyak tempat lalu ngobrol panjang lebar bahwa tukang baso goreng di GOR Padjadjaran itu yang ada di sebelah mana, ronde yang enak itu di mana, bahkan saya bengong ketika vlogger itu masuk Masjid Agung di Alun-Alun! Saya belum pernah melihat di dalamnya. Itu pertama kali saya meliat bagian dalam masjid itu dan saya terkagum-kagum!
Kita mungkin begitu dibutakan dengan apa yang kita tidak miliki di masa lalu atau apa yang kita inginkan di masa depan sehingga lupa memperhatikan apa yang kita miliki sekarang. Kita begitu terbuai akan penyesalan masa lalu, atau misalnya kita menyesal telah kehilangan sesuatu yang sangat berarti. semua itu terus berlarut-larut dan tanpa sadar kita mengabaikan saat sekarang.
Seharusnya memang kita menikmati saat sekarang, mensyukuri dan berterima kasih karena apa yang kita nikmati sekarang merupakan hasil dari perjuangan kita di saat lalu. Bukan begitu? Kita bisa mengemudikan mobil atau mengendarai motor karena kita menabung untuk bisa membayar uang muka, lalu terus bekerja mencicil hingga bisa melunasinya. Ketika orang-orang saat ini berdesak-desakkan di bus kota atau kehujanan menunggu angkot, kita malah bisa menyanyi bersama anak di dalam kendaraan tanpa harus basah terkena hujan. Nah bukankan ini saatnya kita berterima kasih dan bersyukur?
Sebaiknya kita mulai mengapresiasi dan bersyukur dengan apa yang kita miliki sekarang, saat ini, sebelum semuanya berlalu. Hmm.. kok akhirnya jadi serius gini tulisan saya? Hahahaha! Salam!***
Foto credit: lifehack.org