AES385 Syukur dan Terima Kasih
Andy Sutioso
Saturday June 18 2022, 3:58 PM
AES385 Syukur dan Terima Kasih

Saya pikir hari ini saya bakalan bangun agak siang. Kemarin malam sampai di rumah seusai musik sore, badan serasa ingin segera rebah dan istirahat. Entah kenapa pagi-pagi saya sudah terbangun. Suasana sepi, dan memori peristiwa kemarin malam segera kembali. 

Beberapa waktu lalu saya menulis tentang Crescendo, tentang ritme dan intensitas kehidupan yang perlahan meningkat di Rumah Belajar Semi Palar. Kemarin jadi puncaknya. Nyambung sama Musik Sore, istilah musiknya Chorus, mudah-mudahan saya tidak salah. Musik sore kemarin, bagi saya jadi Chorus yang menyentuh sangat dalam - ke dalam hati. Entah kenapa, saya tidak tahu. Sudah berkali-kali saya melakukan ini, sejak pelepasan angkatan pertama Semi Palar. 

Penampilan live terakhir di pendopo dibawakan oleh teman-teman dan kakak-kakak KPB, ada beberapa bagian lagu yang menyebutkan lirik 'Memetik Bintang'. Keren. Smipa banget ya. Saya sendiri baru dengar lagu itu. Tapi cocok banget itu sebagai lagu penutup - sebelum masuk ke sesi pelepasan KPB. 

Selalu emosional karena yang saya rasakan hanya dua kata di atas itu, rasa syukur dan terima kasih. Banyak sekali hal yang bisa disyukuri, mungkin terlalu banyak, sehingga emosi jadi terasa meluap-luap. Momen pelepasan yang kita istilahkan sebagai sebuah Persimpangan merefleksikan proses panjang yang harus tiba di titik. Untuk kelompok Egrang ini adalah proses enam tahun, belum menghitung teman-teman yang berproses di TK juga. Mensyukuri proses enam tahun yang dilalui bersama sampai di titik ini. Enam tahun bukan waktu yang singkat. Untuk teman-teman di SMP waktu berproses tentunya lebih panjang. 

WhatsApp Image 20220618 at 11.59.39 AM.jpeg

Untuk Karmel, Natasha dan Linus, yang menuntaskan prosesnya di KPB, boleh dibilang mereka menghabiskan sebagian besar waktu hidupnya di Semi Palar. Saya masih ingat saat mereka kecil dan melihat mereka berproses dan bertumbuh kembang sampai di titik sekarang jadi sesuatu yang luar biasa. 

Pelepasan kali ini dibagi tiga segmen, masing-masing untuk kelompok Egrang, kelompok Layangan dan kelompok Engklek. Saya harus melewati proses ini tiga kali. Tetap sulit bagi saya untuk menjaga agar air mata tidak menetes dan suara tidak bergetar. Lalu setelah proses panjang itu tiba saatnya menyampaikan kenang-kenangan yang pada intinya menyampaikan pesan bahwa Belajar itu Tidak Pernah Tamat... Dibaliknya plakat itu tersimpan tanda tangan seluruh tim Smipa, ini juga ada makna simbolisnya - karena kami semua kakak-kakak Smipa berada di balik proses tumbuh kembang teman-teman satu demi satu.  

Tampak sederhana, tapi bagi saya menyampaikan hal-hal tersebut jadi momen yang sangat besar. Semoga teman-teman semua bisa menangkap apa yang kakak-kakak ingin sampaikan lewat kenang-kenangan sederhana itu.

Akhirnya, Terima kasih dari lubuk hati kami yang terdalam, karena sejatinya sebuah sekolah adalah bukan sekolah tanpa murid-muridnya dan guru bukanlah guru tanpa kehadiran murid-muridnya. Namaste 🙏🏼.

Mega
@mega   4 years ago
Benar ya, kak. Saat emosi meluap akan menjadi pelecut yang baik utk menulis. 😊

Ikut merasakan luapan perasaan yg sama!