Dalam beberapa hari ke depan saya dan kak Lyn akan kembali ke Indonesia setelah hampir 2 bulan tinggal di sini membersamai anak-anak kami. Mendekati hari pulang saya banyak merenung, merefleksikan diri. Apakah tujuan kami ke sini tercapai. Pertanyaan berikutnya adalah sebetulnya apa yang diharapkan orangtua untuk anak-anaknya. Saya yakin dalam benak @joefelus dan Nina juga ada pertanyaan yang sama karena akan meninggalkan Kano di Amerika sementara Joe dan Nina akan kembali ke Indonesia.
Beberapa tahun yang lalu saat putra-putri kami berangkat ke Jerman, konteksnya masih semacam eksplorasi dan mencari kemungkinan. Waktu berjalan dan saat ini Inka sudah menemukan pasangan hidupnya dan tentunya juga akan tinggal di Jerman di waktu-waktu mendatang. Ke depan bagaimana, tidak ada yang tahu.
Demikian juga Rico, setelah dua tahun tinggal di Jerman, setidaknya saya melihat bahwa Rico juga bisa berintegrasi dan menemukan tempat di masyarakat sana. Bisa beradaptasi, menempatkan diri bahkan sudah bisa memunculkan kebermanfaatan dirinya di berbagai komunitas yang Rico terjuni. Saya lihat dia diterima dengan baik oleh berbagai lingkaran sosial, tua dan muda, di kota dan di desa.
Dua hari lalu kami berkunjung ke tempat kerja Rico di Hanover, di sebuah lembaga pendidikan yang dinamakan Bildungsverein. Karena status dan jenjang pendidikannya, status Rico sepertinya staff biasa saja. Sama halnya seperti waktu saya bekerja di UNSW sewaktu saya kuliah di sana, status saya kepegawaian ya adalah clerk. Pegawai biasa. Tapi Rico saya lihat sangat diterima di sana dan dipercaya menangani berbagai tugas. Dia diberi akses berbagai ruangan dan menjalankan berbagai peran. Dari yang sederhana membersihkan ruangan hingga membantu dosen melakukan penilaian untuk beberapa asesmen yang dilakukan siswa di sana.
Kami dikenalkan dengan rekan-rekan kerja Rico dan kami merasa mereka sangat senang bertemu kami. Supervisor Rico, Eva sampai merasa perlu menyampaikan langsung kepada kami bahwa dia sangat senang Rico bisa bergabung di BV dan akan merasa kehilangan kalau Rico harus pergi. Di sisi lain dia juga bilang bahwa dia sangat mendukung proses eksplorasi Rico selanjutnya dan mengharapkan yang terbaik buat dia. Sebagai orangtua tentunya kami sangat senang mendengar hal itu. Hampir satu tahun di lembaga itu, bagaimanapun menjadi pengalaman pertama Rico bekerja formal dalam jangka waktu yang cukup panjang, sesuatu yang juga jadi pencapaian besar dia di titik ini.
Mungkin dari pengamatan ini, terjawab sudah dua pertanyaan di atas. Pengalaman Inka dan Rico pergi ke luar negeri jauh dari negeri tempat kelahirannya juga dari kedua orangtuanya menurut saya menjadikan mereka manusia muda yang dewasa dan juga mandiri. Hal ini juga sekaligus menjawab pertanyaan saya apakah sebetulnya harapan orangtua terhadap anak-anaknya - dalam hal ini harapan saya terhadap anak-anak saya - menjadi pribadi yang mandiri - Independent Individuals.
Dua kata ini bisa dimaknai begini. Bahwa sebagai pribadi mandiri, individu, independent individuals, mereka adalah manusia yang independen, tidak tergantung orang lain dan menjadi dirinya sendiri menjalankan kehidupannya. Saya merasa bangga sekaligus haru terhadap mereka berdua - dan sepertinya sebagian besar tugas kami sebagai orangtua sudah selesai. Rasa sayang kami terhadap mereka tidak berkurang. Berkali-kali saat di perjalanan pulang, di kereta api, saat bersepeda pulang, saya merasakan mata saya basah - menyadari bahwa Inka dan Rico sudah mampu berdiri sendiri - lepas dari bayang-bayang orangtua mereka.
Walaupun sebagai manusia dewasa muda, perjalanan mereka baru dimulai sebagai manusia dewasa. Baru satu tahapan yang dilalui dan mereka masih akan mengalami berbagai tantangan kehidupan seperti yang kami alami sebagai orangtuanya. Harapannya mereka bisa membawa kebermanfaatan bagi lingkungan di sekitar mereka, di manapun mereka berada.
Photo by Sanketh Rao: https://www.pexels.com/photo/person-raising-hands-mid-air-sidewards-while-standing-on-gray-steel-railings-680257/