Esai malam ini masih nyambung sama tulisan saya yang terdahulu - yang judulnya OFF dan ON. Lebih jauh saya mau mengoneksikan juga sama tulisan Joe (AES224 Last Day) dan tulisan Ahkam yang menulis tentang AES148 Web 3.0 : Sebuah Optimisme. Sayangnya di peralihan tahun ini belum terlalu banyak warga Ririungan yang menulis. Padahal kalau lebih banyak yang menulis, saya akan punya lebih banyak pilihan untuk merangkainya jadi satu bahkan beberapa tulisan baru. Tapi baiklah, kita lihat tahun depan, mudah2an sudah lebih banyak yang rutin menulis, lebih banyak dari beberapa kita ini.
Setelah berjeda beberapa saat, karena off dan on itu memang penting, memang jadi sangat penting buat kita untuk bergerak terus dan menginisiasi perubahan. Untuk menggaris-bawahinya, saya mulai dari kutipan pendek favorit saya di bawah ini :
When you Change Nothing, Nothing Will Change.
Sesederhana itu faktanya. Walaupun kenyataannya, banyak dari kita yang takut pada perubahan. Masyarakat kita paling alergi perubahan, padahal perubahan adalah fitrahnya alam semesta. Sampai akhirnya kita diharuskan berhadapan dengan pandemi yang memaksa kita beradaptasi terhadap perubahan.
Perubahan, sekecil apapun, adalah perubahan. Hal ini akan membukakan kemungkinan baru. Ada hal-hal yang baru yang akan kita temui. Saya juga sempat menulis tentang ini dalam esai saya ke 29 yang judulnya Perubahan adalah Perubahan, Sekecil Apapun Itu.
Di sinilah masuknya tulisan Ahkam tentang Web 3.0. Saya sendiri tidak terlalu mendalami soal ini, tapi konsepnya sudah saya tangkap bahwa perkembangan terkini dari konektivitas lewat teknologi ini adalah desentralisasi. Kalau teknologi sudah bisa terdesentralisasi, memang ada harapan besar sistem ekonomi, sistem sosial politik, kembali lagi ke fitrahnya. Memang pada dasarnya kehidupan itu terdesentralisasi kok. Bahkan kecerdasan manusia ada di sekian milyar sel yang ada di seluruh tubuhnya. Otak manusia hanya menyimpan sedikit intelektualitas kita.
Jadi di tengah ketidak pastian - seperti yang saya ekspresikan dalam tulisan saya COVID dan 2020, sebetulnya itu hanya tanda kita perlu berjeda, untuk melihat secara jernih apa yang perlu kita lakukan berikutnya. Merujuk lagi ke Sadhguru, convidence itu berbahaya kalau tidak ada clarity. Kalau kita mau menyeberang sungai, tapi kita tidak tau bagaimana kondisi sungai dengan jelas, kedalamannya, arusnya dan lain sebagainya, kepercayaan diri kita bisa membawa bencana... Dalam situasi yang tidak menentu, kita justru harus cermat mengamati situasi.
Jadi merangkum tulisan saya malam ini, mari mulai melangkah lagi, dengan kehati-hatian dan kejernihan pemikiran karena situasi sedang tidak menentu. Tapi kita tidak boleh berdiam diri, kita harus terus melangkah dan membuat perubahan. Perubahan posisi akan memperbaiki perspektif kita terhadap segala sesuatu, dan di sinilah kita bisa menemukan harapan, karena ada hal-hal baru yang akan kita temui. Saya kutip tulisan Joe di alinea terakhirnya tentang harapan. Menurut saya asik banget kalimatnya.
...kita bersyukur bahwa hidup itu penuh dinamika dan tidak lurus begitu saja dan monoton. Satu hal yang saya ingin tekankan, harapan itu sangat baik karena menyemangati hidup dan memberikan napas segar untuk terus berjuang.
Sangat bersepakat dengan Joe, bagi saya itulah pemaknaan kehidupan. Besok hari Senin pertama di tahun 2022. Mari kita mulai melangkah kembali, dengan segala antusiasme, semangat dan harapan baru. Salam.