Kembang api dan mercon masih terdengar walaupun tidak seriuh biasanya. Jalanan macet juga, tempat2 belanja tampak penuh. Jadi kesibukan menjelang tahun baru masih terlihat di mana-mana. Di sisi lain situasi juga masih sangat tidak menentu. Pandemi masih belum tau kapan mereda. Situasi ekonomi juga belum pulih. Aktivitas di banyak sektor masih sangat belum stabil. Pemerintah juga masih sangat berhati2 melihat perkembangan situasi pandemi, dan selalu bersiap menarik rem darurat - menggeser pengaturan PPKM supaya pandemi tetap terkendali. Tapi di sisi lain, aktivitas masyarakat juga harus senantiasa siap sedia untuk berhenti atau dikurangi.
Bulan Maret 2022 nanti, kita akan memasuki 2 tahun masa Pandemi. 2 tahun bukan waktu yang sedikit. Karenanya tidak heran kalau kita semua masih merasa bingung. Bingung karena ketidak-pastian tadi. Kalau situasi tidak pasti, kita juga tidak bisa menyusun rencana atau membuat keputusan. Bingung dalam durasi waktu yang lama juga tentunya mempengaruhi mental well-being kita. Banyak dari kita yang merasa jenuh, pesimistis atau apatis melihat masa depan. Letupan kembang api sepertinya sekedar momen waktu kebersamaan dengan orang-orang terdekat di momen-momen pergantian tahun. Apakah ada optimisme yang menyertainya, belum tentu juga.
Tapi toh kita tidak pernah boleh berputus asa atau berhenti. Kita harus terus bergerak dan berubah. Saya sempat menulis tentang hal ini (tulisannya ada di tautan ini). Semangat kita (spirit) adalah dimensi enerji dalam hidup kita yang sepenuhnya ada dalam kendali kita. Hidup kita ada di tangan kita sebagai human being, manusia seutuhnya. Kehidupan adalah sisi luar diri kita. Pengalaman kehidupan memang tidak pernah bisa kita kendalikan sepenuhnya. Yang bisa kita kendalikan adalah 4 dimensi dari sisi dalam hidup kita: Badan, Pikiran, Emosi dan Enerji. Bahkan Pikiran dan Emosi - pun sebagian besar bukan milik kita.
Saya kembali ke kisah inspiratif Mandiba - panggilan akrab Nelson Mandella, presiden terpilih Afrika Selatan yang dipenjara selama 30 tahun. Semangatnya tidak pernah padam. Badannya memang dipenjara di balik jeruji sel sempitnya di mana dia harus menghabiskan 30 tahun kehidupannya. Tapi pikiran, emosi dan enerjinya tidak pernah bisa dibelenggu. Tetap merdeka dan menyala hebat sampai saat dia menuntaskan masa tahanannya. Kita perlu belajar punya mentalitas seperti Mandiba. Anak-anak kita perlu belajar punya mentalitas seperti itu. Kalau kita bisa menuju ke sana, apapun yang terjadi di luar sana, kita akan punya kapasitas untuk mengatasinya.
Selamat melangkah ke tahun 2022. Tidak hanya di momen pergantian tahun yang kita lalui sekitar sejam yang lalu, setiap detik memberi kita kesempatan untuk membuat perubahan ke arah yang lebih baik. Kendalinya ada di dalam diri kita sendiri. Salam.
Photo by Jeff Stapleton from Pexels