Ini hebatnya Indonesia. Sarapan saya pagi ini adalah nasi kuning di atas ini. Harganya Tujuh Ribu Rupiah - dan ini harga sarapan pagi di kota Bandung. Saya pikir ini salah satu keistimewaan kita di Indonesia. Hal-hal seperti jadi salah satu jadi faktor besar resiliensi masyarakat di Indonesia. Didera krisis berkali-kali tapi masyarakat Indonesia tetap bertahan.
Tahun 98 krisis ekonomi menghantam, yang hancur itu perusahaan besar, bank-bank dilikuidasi dan seterusnya dan seterusnya, tapi hidup di bawah jalan terus. Masyarakat Indonesia tetap bisa bertahan - terbukti punya keuletan dan fleksibilitas luar biasa. 'Pohon-pohon besar bertumbangan' dilanda angin kencang, masyarakat kecil - 'akar rumput' bisa bertahan hidup - dan tetap jadi penggerak dinamika kehidupan di manapun berada.
Hal ini yang tidak bisa ditemui di negara lain - yang sudah hampir sepenuhnya terperangkap sistem kapitalisme. Beli air minum dalam botol di Jerman kita harus menyiapkan uang setidaknya 1,5 atau 2 Euro setara dengan uang senilai dua puluh lima hingga tiga puluh lima ribu. Wajar begitu karena air mineral itu sudah jadi produk sistem kapitalis. Nasi kuning di atas ini masih cukup terlepas dari sistem itu, belum ada brandnya, ga ada pemegang saham di belakangnya. Demikianlah kenyataannya. Belum lagi kultur masyarakat Indonesia yang masih cukup kuat semangat solidaritas dan gotong royongnya. Di negara-negara maju, di Barat dan di Timur, semua sudah terjebak individualisme yang sangat kuat. Tidak ada lagi saling peduli karena orang lain adalah pesaing kita. Hal inilah yang perlu jadi kesadaran kita. Semoga tulisan receh hari ini bermanfaat. Salam.
Nasi kuning paling enak di depan smipa nih pasti 🤭