AES141 Jumpa Bermakna Dengan Mas Prapto (Suprapto Surjodarmo) bagian 2
Andy Sutioso
Saturday October 2 2021, 10:44 PM
AES141 Jumpa Bermakna Dengan Mas Prapto (Suprapto Surjodarmo) bagian 2

Oke, mari lanjutkan cerita perjumpaan saya dengan mas Prapto. Tulisan pertama ada di tautan ini

Setelah menyaksikan pertunjukkan tari di ITB malam sebelumnya, keesokan paginya, SMS di hape saya kembali menunjukkan pesan baru dari teman saya. Dia menanyakan apakah saya berminat kalau diajak jumpa dan mengobrol dengan mas Prapto. Tidak pikir panjang saya jawab iya, karena alasan yang sama, lagi pengangguran. 

Perjumpaan berlangsung di kediaman salah satu seniman Bandung di jalan Riau. Mas Prapto kebetulan menginap di sana. Setiba saya di sana, saya mendapati mas Prapto sedang bermeditasi. Seingat saya ini pengalaman saya melihat secara langsung seseorang yang sedang bermeditasi. Beliau duduk bersila di lapangan rumput, membelakangi saya. Rambut putihnya yang panjang terlihat kontras dengan pakaiannya yang berwarna hitam. Suasana di sana sepi. Saya mengira pertemuan akan berlangsung dalam sebuah forum dengan beberapa orang. Tapi dugaan saya keliru, saat itu hanya kami bertiga yang ada di sana. 

Sekitar sepuluh menit, mas Prapto menuntaskan meditasinya, lalu menemui kami - lalu mulailah kami berbincang. Obrolan mengalir begitu saja. Bagi saya ini bukan perbincangan biasa. ini bukan sesuatu yang biasa saya lakukan. Saya sendiri cukup heran mendapatkan kesempatan ini, bisa berbincang secara pribadi dengan mas Prapto. Hal ini masih jadi tanda tanya besar buat saya. 

Dalam pertemuan itu saya mendapatkan cerita tentang apa yang beliau lakukan. Saya mulai mendapatkan gambaran tentang tarian yang saya saksikan di malam sebelumnya. Ternyata menari - berkolaborasi dengan tokoh2 kesenian di berbagai negara adalah pekerjaan yang dlakukannya sudah hampir 20 tahun lamanya. Beliau adalah seorang seniman - budayawan yang dibiayai Bank Dunia untuk bepergian ke berbagai negara di seluruh dunia - untuk melakukan apa yang dia sukai, menari. Luar biasa ya? Sewaktu saya tanyakan kenapa, beliau menjawab, beliau dianggap sebagai salah satu orang yang ikut menjaga kebudayaan dunia. Sambil bercerita, beliau menunjukkan kepada saya lembar itinerary (rencana perjalanan) beliau di tahun itu. Beberapa negara yang saya ingat tercatat di dalam lembar itu, di antaranya Spanyol, Filipina, Yunani, Jerman, di antara negara-negara lainnya. Keren banget. 

Mas Prapto sendiri mengelola Padepokan Lemah Putih di Solo - tempat beliau mengajarkan apa yang dilakukannya. Ikut dalam rombongannya ada dua orang Perancis dan satu orang inggris. Anak muda Perancis - namanya Jean Pierre sudah belajar di Padepokan Lemah Putih selama dua bulan lamanya. Malam kemarin Jean Pierre ikut tampil dalam penampilan kemarin. Sambil tersenyum, mas Prapto bilang, orang-orang Barat bersedia membayar untuk belajar kebudayaan ke orang Indonesia, sambil tersenyum dan melihat kepada saya, beliau bilang," Kalau kalian orang-orang Indonesia, dibayarpun belum tentu mau belajar kebudayaan". Saya hanya bisa mengangguk, mengiyakan.

Mas Prapto juga bercerita tentang masa kecilnya, saat dia dianggap aneh di sekolah. Dia tidak terlalu suka pelajaran, mas Prapto di masa kecilnya hanya suka menari. Hal inilah yang dia lakukan di masa dewasanya. Buat saya ini adalah kisah yang luar biasa - dan banyak mengubah sudut pandang saya tentang pendidikan, tentang nilai luhur kebudayaan - yang semakin luntur seiring dengan perubahan peradaban. 

Tidak terasa 3 jam waktu berlalu. Siang itu saya ditraktir makan siang oleh mas Prapto. Selesai makan siang kamipun berpamitan. Dalam perjalanan pulang saya membatin bahwa suatu waktu saya ingin bisa berkunjung ke Padepokan Lemah Putih dan melanjutkan perbincangan dengan mas Prapto. Sayangnya kesempatan itu belum terwujud, beliau meninggal dunia sekitar setahun yang lalu. Perbincangan itu jadi pertemuan saya yang pertama dan terakhir kalinya - walaupun begitu membawa banyak perubahan dalam diri saya - dan banyak hal yang saya lakukan setelahnya. 

Tulisan ini saya dedikasikan untuk beliau - seseorang yang saya lihat sangat meyakini apa yang bisa dia hadiahkan untuk dunia. Anugerah Tuhan - kesukaannya menari telah menyentuh entah berapa orang di seluruh dunia yang pernah menyaksikan pertunjukannya, belajar atau berbincang dengannya - satu diantaranya saya. Seorang yang hadir dengan segala keunikan dirinya, seutuhnya. Sosok yang sangat unik di mata saya. Seseorang yang waktu itu menceritakan cita-cita hidupnya - ingin mendirikan sebuah candi... Menakjubkan. Bukan sebuah kebetulan, tapi sebuah sinkronisitas. 

sumber foto : tumpi.id