Teknologi memang sangat memudahkan, tapi di dalam kemudahan itu, tersembunyi beberapa kekurangan. Hari ini saya menyusun undangan bergabung ke Ririungan baru. Tautannya ada di sini.
Biasanya yang otomatis terpikir adalah segera menyebar tautan info tersebut melalui grup WA kelas. Tinggal satu dua klik beres, titip saja sama kakak. Tapi entah kenapa saya agak enggan melakukannya. Saya buka WA dan mengetikkan pesan pada Ahkam, saya bilang kok pengen coba menyebarkan informasi ini orang per orang. Individu ke individu. Walaupun memanfaatkan teknologi, tapi kok tetap rasanya lebih personal (setidaknya pemikiran saya begitu). Ahkam ternyata bersepakat. Obrolan saya tutup dengan teks pendek #carisusahaja. Jadi hal ini memang disadari betul kok.
Lalu pesan tadi saya buka lagi, saya edit dengan menambahkan beberapa pesan di atasnya : bahwa kalau ada yang menerima pesan ini, berarti pesan ini memang ditujukan khusus untuk anda penerimanya, lalu ditutup, silakan disambung secara berantai ke teman2 lainnya... Harapannya pesan ini nyampe ke seluruh warga Smipa, termasuk juga para alumni.
Kalau betul hal ini terjadi, bisa jadi ini penanda bawa koneksi antar kita satu dan lain cukup baik adanya. Kalau betul begitu, berarti, perasaan bahwa kita ini satu keluarga besar masih cukup kuat di antara kita. Selanjutnya mudah2an ririungan baru ini betul bisa memperkuat lagi koneksi kita satu sama lain.
Saat ini kita semua memang dimanjakan oleh teknologi. Karenanya juga kita semua kebanjiran informasi. Itulah karenanya saya sudah menghindari media sosial. Terlalu overwhelming buat saya. Saat ini saja entah ada berapa grup WhatsApp yang ada di hape saya. Kebanyakan memang urusan kerja - apalagi karena kondisi pandemi saat ini menuntut banyak hal dilakukan melalui teknologi. Teknologi memang membantu, tapi toh hal-hal yang sifatnya personal masih dibutuhkan. Kita kan tetap manusia - dengan memanfaatkan teknologi, kita jangan sampe kehilangan kemanusiaan kita... Salam.