AES205 OFF & ON
Andy Sutioso
Sunday December 5 2021, 12:00 AM
AES205 OFF & ON

Mengenai menulis rutin ini saya teringat obrolan saya dengan kang Wawan Husin. Waktu itu saya minta pandangan beliau mengenai gagasan tentang KPB, saat KPB memang masih dalam bentuk konsep dan gagasan. Kenapa beliau, sederhana sekali, beliau seorang pendidik yang wawasannya luas. Saya kira akan sangat nyambung gagasan KPB ini dengan sudut pandang beliau yang sering kali unik - keluar dari kotak... 

Waktu itu di sekitar tahun 2017. tidak lama setelah kunjungan berkesan saya ke Bumi Langit Institute - yang membuat saya begitu yakin tentang gagasan KPB - bahwa KPB memang harus diwujudkan. Kunjungan ke Bumi Langit memang sangat bermakna buat saya. Saya dan kang Wawan ngobrol di depan pos, seingat saya kang Wawan ingin merokok. Saya ceritakan kepada beliau tentang gagasan KPB. Anehnya waktu itu beliau tidak langsung memberikan tanggapan tentang gagasan KPB tersebut. Beliau terdiam sebentar, sepertinya sedang berpikir, lalu bertanya kepada saya. "Andy sudah berapa lama, sejak kapan merintis dan membangun Semi Palar?". Saya tidak terlalu paham pertanyaan beliau, tapi ya saya respon saja, "Ya Semi Palar resmi berdiri tahun 2006 kang Wawan, merintisnya sejak akhir tahun 2004." Beliau manggut-manggut sebentar, lalu melanjutkan, "On - Off itu penting lho Andy".

kang Wawan.jpegObrolan selanjutnya tentang KPB malah saya ga terlalu ingat. Saya justru ingat kata-kata beliau yang itu tadi, bahwa On - Off itu penting. Datang dari seseorang seperti kang Wawan, kata-kata itu saya anggap penting. Berjeda, mengambil jarak dari rutinitas atau intensitas tertentu jadi sesuatu yang penting. Oh iya, bagi saya kang Wawan adalah guru saya. Kang Wawan memang banyak membantu saya menemukan jawaban atas berbagai pertanyaan sepanjang saya mengelola Semi Palar. 

Kembali ke topik di atas ini, saya paham kenapa, apa alasannya. Setahu saya Paulo Coelho, salah satu penulis favorit saya, juga melakukannya, dia punya siklus enam bulanan untuk menulis dan beristirahat. Saat menulis, dia menulis dengan segala fokusnya, sementara saat berjeda, seingat saya dari artikel yang saya baca, dia betul-betul tidak menulis. Di situ saatnya dia mencari inspirasi, menyusun gagasan dan lain sebagainya. 

Walaupun saya paham, saya nyaris belum bisa melakukannya. Sejak tahun pertama berdiri, sampai berdirinya KPB, setiap tahun ada kelas baru yang berjalan. Praktis ada konsep dan kurikulum jenjang baru yang perlu dirancang, disusun dan didampingi penerapannya. Setelah diterapkan ya perlu dievaluasi juga. Jadi sulit sekali bagi saya untuk menemukan waktu jeda. 

Itulah kenapa saya lebih nyantai saat menulis Atomic Essay, ada waktu-waktu di mana saya merasa memang sulit untuk menulis. Sepertinya di situ kita memang butuh waktu jeda. Mesinpun tidak bisa dinyalakan terus menerus sepanjang waktu. Ia perlu diistirahatkan. Apalagi manusia. Jadi ya santai saja. Memang pada dasarnya jeda atau istirahat itu penting bagi kita. 

Seperti saat kita jalan jauh, trekking, hiking atau lagi bersepeda jarak jauh, ambillah waktu untuk berhenti, mengistirahatkan badan, menghela napas, melihat ke sekeliling dan menikmati pemandangan. Saat kita sampai di tujuan, akan jauh lebih banyak hal yang bisa kita dapatkan, kita nikmati dan maknai. Demikian juga dengan menulis - seperti yang kita lakukan di Atomic Essay ini. Jadi itulah penjelasan, kenapa di beberapa esai saya ada yang judulnya Jeda Menulis, Kosong atau juga ada yang berjudul Tulisan Ngawur. Di titik-titik itulah saya sedang berjeda... Demikian esai saya malam ini... Salam.  

Photo by MoldyVintage Photo from Pexels