Ada satu sosok unik di Semi Palar yang mungkin sulit ditemukan di sekolah atau di tempat-tempat lain. Di Semi Palar ada Sang Pengibar Bendera - Imam Suryantoko. Di Semi Palar dipanggil kak Imam. Saya berkenalan dengan kak Imam di Rumah Nusantara di sekitar tahun 1998. Di tahun-tahun itu saya sedang merintis sebuah komunitas belajar di Dago yang namanya Trimatra Center. Saya akan menulis tentang Trimatra Center ini di esai tersendiri. Saya berkunjung ke Rumah Nusantara dan di sana saya berkenalan dengan mas Imam.
Rumah Nusantara punya peran tersendiri bagi eksistensi Rumah Belajar Semi Palar. Beberapa tokoh utama Rumah Nusantara seperti mas Ipong Witono dan kang Aat Soeratin sekarang memayungi Rumah Belajar Semi Palar dengan duduk di Yayasan Pendidikan Semi Palar. Dalam proses panjang saya berkenalan dengan Rumah Nusantara, akhirnya Rumah Nusantara dan Semi Palar seakan melebur menjadi satu dan mewujud jadi Rumah Belajar Semi Palar. Saya lupa tahun berapa persisnya kak Imam mengajukan aplikasi untuk bergabung di Semi Palar - sampai sekarang.
Tentang pengalaman kak Imam mengibar bendera saya berharap bisa membaca sendiri tulisan beliau di sini, di Ririungan. Beliau punya pengalaman banyak sekali mengibarkan Sang Merah Putih di berbagai pelosok Indonesia di berbagai acara yang menghadirkan Merah Putih sebagai pengingat tentang ruh keIndonesiaan dan semangat kebangsaan yang mesti terus dijaga nyalanya di manapun kita berada.
Saya ingin cerita tentang mengibarkan bendera. Dari sekian banyak upacara yang saya ikuti - hanya satu orang yang saya kira layak diberi gelar Pengibar Bendera. Kenapa? Karena secara harfiah kak Imamlah yang dalam setiap upacara menggenggam tiang dan menggerakan Sang Merah Putih dengan seluruh jiwa raganya agar berkibar megah di latari birunya langit Indonesia. Tanpa ada pretensi merendahkan, Pasukan pengibar bendera yang lain sekedar mengerek bendera dan menunggu angin menerpa dan mengibarkan bendera merah putih di tiangnya. Kak Imam, dengan enerji dan gerak badannya, menggenggam tiang dan menatap lekat bendera merah putih dan mengibarkannya. Merah putih berkibar karena enerji manusianya. Foto di atas adalah salah satu momen yang mengharukan saat Selametan di TP12 di Mulberry Hills - kak Imam mengibarkan bendera di hadapan kita semua warga Semi Palar.
Di awal perjumpaan saya di Rumah Nusantara, waktu itu Rico masih berusia 4-5 tahunan, saya sekeluarga menonton satu pertunjukkan - kalau saya tidak salah pertunjukkan longser di Rumah Nusantara. Tradisi Rumah Nusantara - setiap acara ada pengibaran bendera - oleh mas Imam tentunya, biasa dipimpin oleh kang Aat Soeratin. Kami semua berdiri. Rico saya biarkan berdiri di atas kursi. Dari ratusan upacara yang saya ikuti, nyaris setiap pengkhidmatan bendera di Rumah Nusantara, rasa haru menyeruak di dalam dada. Ada rasa yang tidak bisa jelaskan selalu muncul kuat di dalam momen-momen itu. Yang menarik, Rico sepertinya juga merasakan hal yang sama. Di tengah lagu dan pengibaran bendera, Rico menepuk tangan saya dan berbisik, "Papa ini lagu apa? Kenapa benderanya?" Lalu Rico melanjutkan, "Aku pengen bisa lagu itu"... Luar biasa ya, enerji yang muncul dari seremonial itu, bahkan Rico yang masih kecil juga bisa merasakannya.
Tulisan ini saya tuliskan sebagai catatan atas pengalaman yang tidak pernah saya lupakan. Kehormatan saya bisa kenal Rumah Nusantara dan sampai hari ini bisa berkarya di satu ruang bersama mas Imam Suryantoko - Sang Pengibar Bendera!