Dua tahun yang lalu, sebelum COVID melanda, meditasi atau yang kita istilahkan di Semi Palar sebagai waktu hening bukan bagian dari rutinitas saya. Saya hanya sesekali melakukan meditasi - kalau sedang merasa butuh meditasi. Memang terasa bahwa meditasi membuat diri saya lebih enak. Saya menikmati waktu hening tapi belum menjadikannya sebagai rutin harian.
Sejak mengenalkan praktik waktu hening di Semi Palar sebagai bagian dari rutin pembelajaran, saya belum memahami betul apa dan bagaimana itu meditasi. Walaupun begitu saya dan kakak-kakak meyakini bahwa waktu hening adalah sesuatu yang dibutuhkan oleh kita manusia dalam proses menuju manusia seutuhnya.
Pandemi ternyata membawa saya mendalami praktik meditasi dan setelah beberapa waktu (saat PSBB) punya lebih banyak waktu untuk belajar tentang meditasi (terutama dari konten-konten di Youtube), saya baru memahami signifikansi praktik meditasi dan dari situ saya menjalankan waktu hening rutin setiap pagi sampai sekarang.
Dari cerita itu saya ingin berkisah tentang dua tokoh keren yang kemudian saya ketahui menjalankan praktik meditasi yang cukup intensif. Satu adalah Yuval Noah Hararri - penulis buku Sapiens - yang memang luar biasa karena ia berhasil menuliskan sejarah peradaban umat manusia dalam satu buku yang padat dan berisi. Kalau saya ga salah istilah bahasa Inggrisnya concise. Singkat tapi padat. Kira-kira demikian. Bagaimana Yuval melakukannya, salah satu nya adalah melalui praktik meditasi. Dari salah satu wawancara di Youtube, ternyata Yuval melakukan meditasi kurang lebih 2 jam setiap hari. Kenapa? Dia bilang begini, "Meditasi membantu saya berpikir dengan jernih. Kalau pikiran saya tidak jernih, tidak mungkin saya menuliskan buku sejarah peradaban dalam hanya 400 halaman. Bisa-bisa buku yang saya hasilkan jadinya setebal 4000 halaman". Kira-kira demikian ungkapan beliau...
Tokoh ke dua yang saya ingin ceritakan di sini adalah Donald Hoffman - salah satu neuro scientist ternama di dunia yang memunculkan teori bahwa segala sesuatu yang kita alami (realita) pada kenyataannya adalah sekedar sebuah simulasi - semacam Virtual Reality. Begitu katanya. Ini disimpulkannya setelah mendalami cara kerja panca indera, syaraf dan otak manusia. Juga dalam wawancaranya, dia menceritakan bahwa dia menjalani praktik waktu hening sekitar 2-3 jam sehari. Karena itu membantu dia mencerna lebih baik segala pemikiran-pemikiran dia.
Jadi ya begitulah salah satu manfaat terbesar meditasi. Saya sendiri juga mengalaminya. Waktu hening membantu saya menemukan hal-hal yang tidak terpikirkan sebelumnya - saya bisa melihat segala sesuatu dengan lebih jernih. Hal ini membantu saya juga untuk mengambil keputusan.
Nyambung lagi dengan Sadhguru - yang saya sangat sukai pemikiran-pemikirannya. Dia bilang manusia hanya punya empat dimensi kedirian yang bisa sungguh-sungguh dikendalikan sepenuhnya. Masing-masing adalah Badan, Pikiran, Emosi dan Enerji. Praktik meditasi yang saya jalankan terinspirasi dari teknik meditasi yang dibagikan Sadhguru di mana saya bisa menyentuh ke empat dimensi itu.
Kalau waktu hening bisa membantu kita menjernihkan pikiran - ini adalah salah satu cara kita bisa mengelola pikiran kita lebih baik. Manusia modern banyak sekali dikendalikan oleh pikirannya - karenanya dikenal istilah overthinking. Demikianlah tulisan saya hari ini. Buat yang kebetulan mampir dan mencermati tulisan ini, mudah-mudahan bermanfaat. Salam.
Photo by Spencer Selover from Pexels
Wah, @wuli sudah ketemu ya salah satu tulisannya tentang waktu hening. 🏼