Aku bukan tipe orang merasa nyaman berinteraksi dengan oranglain melalui media sosial. Sebab jika disuruh memilih, aku lebih suka berbincang secara langsung. Seperti halnya mengetik dan mengirim pesan, pun terkadang ada situasi yang lebih kupilih untuk memijit nomor telpon dan mendengar suara. Entah kenapa, tapi dengan begitu aku merasa cukup nyaman melakukan komunikasi.
Sering juga aku memutuskan untuk berpuasa media sosial, terkecuali pesan Whatsapp yang mau tidak mau tetap harus kubuka karena sebagian besar pekerjaanku masih menggunakan layanan aplikasi tersebut. Saat terbebas dari itu semua, mendadak duniaku terasa sunyi. Aku lebih banyak berpikir sendiri dan tentunya menjauhkan aku dari beragam prasangka. Meski aku sendiri tahu kenyataannya gak mungkin 100% bisa menghindari interaksi.
Pernah, aku mematikan ponsel selama 2 hari, setelah itu yang terjadi adalah badai. Banyak sekali pesan-pesan yang harus kubalas dan jadi lebih sibuk dari sebelumnya. Atau mungkin aku yang salah strategi, ya? Tapi di sisi lain, aku merasakan ketenangan luar biasa saat kumatikan sejenak, bukan artinya aku jadi tidak lagi terkoneksi dengan apapun, sebaliknya malah aku merasa banyak terhubung dengan apa yang selama ini tanpa sengaja terabaikan. Dan rasanya aku semakin memahami makna kalimat mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat. Seolah ada sekat yang tak kasatmata, memisahkan kita hanya karena salah satu diantaranya terlalu sibuk dengan "dunia" yang muat di dalam layar itu. Aku pernah membahas hal ini bersama sepupuku yang sering enggan ikut dalam pertemuan-pertemuan berkelompok. Alasannya menurutku sangat tidak sepele, karena ia merasa asing saat berada diantara sekumpulan orang yang berbicang namun mata dan tangannya terus mengecek smartphone secara berkala. Baginya, temu adalah temu, hal itu gak bisa tergantikan. Aku setuju.
Nah, kembali pada alasan kenapa aku tidak terlalu suka membagikan momen di media sosial, bahkan jika kulakukan hanya terbatas pada lingkar pertemanan tertentu jelas karena aku merasa gak punya tujuan membuat oranglain mengetahui hidupku. Berbeda ketika aku membagikan tulisan di sebuah blog, terlepas ada pembacanya atau tidak, aku merasa nyaman mengeluarkan apa yang ada dalam kepalaku tanpa perlu orang tahu siapa aku.
Namun, sejak pembelajaran daring dan terdorong situasi untuk membuat video pembelajaran, aku memilih youtube sebagai tempat menyimpan data dengan setting unlisted. Hingga ada yang pernah bertanya "Kenapa gak dibuat public saja?", tampak klise sih tapi memang aku gak mau hal itu menjadi penilaian publik. Singkat kata gak siap dengan pro dan kontra. Jadi, selama kegunaannya untuk kalangan tertentu dengan link yang saya bagikan secara khusus, itu cukup karena masih tetap gak bisa dicari orang.
Kesimpulannya, dalam bermedia sosial aku menempatkan "hati-hati" sebagai satu pengingat. Sebab, saat satu momen kubagikan, hal itu sudah tidak lagi berada dalam kontrolku. Apapun yang terjadi setelah itu akan berada diluar jangkauanku. Dan rasanya aku harus setuju dengan kak Andy soal bermedia sosial yang sempat disinggung pada bincang santai AES di hari sabtu lalu bahwa ruang yang di fasilitasi oleh ririungan sangat aman, lingkungannya kondusif dan memang gak seperti apa yang aku rasakan saat menggunakan platform digital lainnya. Gak ada kekhawatiran. Dan aku setuju dengan salah satu mahasiswaku yang sangat memahami media sosial ini mau ditempatkan sebagai apa. Apakah sebagai tempat yang menjadi ekstensi untuk pengembangan diri (bisnis misalnya) atau memaksakan itu menjadi sebuah eksistensi diri?
📸 pinjam dari sini