AES#037 Menolak Tua vs Merasa Muda
Murdeani
Monday November 10 2025, 9:47 PM
AES#037 Menolak Tua vs Merasa Muda

Masih nyambung soal kacamata. Kalau lagi di jalan raya, Sony selalu berjaya dalam membaca tulisan yang jauh-jauh. Sedangkan aku yang mulai pakai kacamata sejak masuk SMA—hingga kini ukuran kacamataku -3.75 kiri kanan— merasa kesulitan membaca tulisan yang kecil dan jauh. Setelah lebih dekat, barulah terbaca olehku. Tapi tiap kali mau ganti kacamata dan dites ulang, anehnya masih tetap di ukuran yang sama. Kalau naik akan terasa pusing. Jadi sampai kini ukurannya masih tetap sejak jaman kuliah dulu.

Suatu ketika, Sony menyodorkan hpnya ke aku karena ia bermaksud menunjukkan sebuah artikel. Kubaca lah. Eh dia komentar, “Deket amat bacanya,” sambil mengambil kembali hpnya dan menunjukkan bagaimana ia membaca. Giliran aku yang kaget. “Jauh amat… jangan-jangan kamu udah plus deh matanya.” Waktu itu memang dia sudah 40+. Akhirnya saat berkunjung ke rumah mertuaku, ia mencoba kacamata baca milik mertuaku (mamanya), dan merasa tercerahkan, “Wah ini jadi kebaca jelas.” Setelah itu akhirnya dia punya kacamata baca.

Jadilah sekarang dia tidak terlalu bisa lagi membanggakan kemampuannya membaca jauh, karena bisa langsung aku sodori tulisan-tulisan kecil, yang buatku masih bisa jelas dibaca pada jarak yang wajar. Tapi aku tahu lambat laun aku pun akan mencapai masanya menggunakan lensa progresif, and it’s okay. But for now, nikmati saja rasanya masih bisa membaca tulisan-tulisan kecil. Tidak perlu menolak tua. Ah jadi teringat ini sempat terlontar juga di POT.

Katanya generasi millenial adalah generasi yang menolak tua. Tapi sebenarnya yang dimaksud menolak tua itu gimana sih? Karena jujur saja, aku sih memang ngerasanya masih muda hahahaha. Apakah ini sebuah kehaluan? Kata “menolak” ini lumayan keras. Energi penolakan terasa seperti sesuatu yang berat dan sempit, dan itu nggak cocok nuansanya dengan yang kurasakan. Ini seperti kalau kita mendayung perahu melawan arus. Padahal yang kita lawan kan bukan musuh, melainkan bagian alami dari perjalanan hidup kita sendiri. Menerima tua bukan berarti tidak merawat tubuh, tidak olahraga dsb. Sebaliknya, dengan kita merawat tubuh, kita berolahraga bukan berarti menolak tua. Semua tindakan bergantung dari mana dia lahir, apakah dari ketakutan akan menjadi tua, atau dari rasa sayang kepada diri sendiri. Merasa tidak terlalu cocok lagi begadang, gampang masuk angin, dan lebih nyaman minum yang hangat-hangat juga bukan tandanya kita tua, tapi lebih bijak mendengarkan tubuh saja. Karena memang tubuh ada ritmenya. Jika dulu tubuh belum berontak ketika kita abuse, bukan berarti dia kuat dan sekarang lemah. Seharusnya memang dari dulu kita mendengarkan tubuh kita.

Mungkin memang begitu cara hidup berjalan. Untuk kita pahami pelan-pelan, bukan untuk dilawan. Tua-muda itu bukan dua sisi yang bersebrangan, tapi bagian dari satu perjalanan yang sama. Dan kita juga tidak perlu melekat pada label apapun. Bergaul dengan yang senior-senior bisa tetap masuk, bergaul dengan yang kinyis-kinyis juga masih luwes. Mengalir saja. Karena yang kita lihat bukan usia, melainkan jiwa-jiwa yang sama-sama sedang bertumbuh.

Ah jadi teringat saat tahun 2003 lalu aku open trip ke Baduy Dalam bersama Boni. Grup kami berangkat paling akhir. Di elf, aku mendengar cewek-cewek di barisan belakang saling berkenalan. “Wah kamu 2000? Aku 99, beda dikit ya.” Hmmm… seangkatan nih, pikirku, karena aku angkatan 2000. Tapi ternyata yang mereka bahas bukan angkatan tahun kuliah, tapi tahun lahir. Alamak… Jadi aku tetap menyembunyikan identitasku. Saat beristirahat di rumah warga di Baduy Luar menuju ke Baduy Dalam, akhirnya semua terkuak. Ternyata mereka mengira aku dan Boni (saat itu naik kelas 6) adalah kakak adik. Mereka kaget pas tahu aku adalah ibunya Boni, karena kata mereka, “Keliatannya masih kayak kita-kita.” Kuanggap itu pujian, dan kuterima dengan senang hati 🥰 Tapi setelah itu tiga anak kuliah yang ada di grupku jadi manggil aku “Ibu”, mungkin mereka merasa itu lebih sopan berasa ke dosen mereka sendiri ya?

Tapi aku bisa memahami sih, di mana perbedaan antara menolak tua dan merasa muda. Semua menurutku adalah soal getaran. Kalau getarannya datang dari keinginan untuk dianggap, divalidasi bahwa dia awet muda, itulah menolak tua. Tapi kalau getarannya sekedar mengalir dalam kemudaan yang alami, karena tarikan alami dari jiwa muda yang tetap hidup, itu lain soal. Bukan menolak tua tapi mengizinkan merasa muda. Karena pada akhirnya, waktu tidak sedang melawan kita— dan kita tidak perlu melawan waktu. Waktu hanya berjalan bersama, mengajak kita ikut tumbuh tanpa kehilangan percikan yang membuat kita merasa hidup. Dan mungkin selama kita masih bisa kagum dan bahagia dengan hal-hal kecil, di situlah masa muda tak pernah benar-benar bisa pergi. ❤️

Lei
@lei   6 months ago
eh sama aku juga rada ngahuleng pas POT ada bahasan milenial menolak tua. asa kurang tepat dgn apa yg aku rasa. jadi laaff bgt kalimat Dini "mengizinkan merasa muda" krn itu lebih relate 👍🏼
murdeani
@murdeani   6 months ago
Kita kan seumuran, waktu reuni kmrn ketemu lg temen2 kuliah berasa masuk portal balik ke jaman kuliah dulu ga sih? Ky ga jauh berbeda masanya