AES154 Jenuh
Sanya
Tuesday October 28 2025, 3:34 PM
AES154 Jenuh

Hari ini aku yang sedang getol-getolnya bermain gim sebagai upaya puasa media sosial Namanya manusia kadang sadar kadang lengah pasti saja merasa bosan. Dari kebosanan itu si jari yang memiliki muscle memory bergerak sendirinya mengklik instagram. Luar biasa memang tubuh ini dalam mengingat gerakan refleks yang sudah dilakukan bertahun-tahun. Bosan? lihatlah sosial media! intiplah sedang apa orang-orang di luar sana beraktivitas, apa yang mereka bagi untuk umum saat ini!

Kemudian aku lihat unggahan pertanyaan dari story kak Mamat. Ada sebuah pertanyaan menggelitik, "Kamu ngapain kalau lagi jenuh?"

Teringatlah kepingan pelajaran kimia jaman SMA dulu, larutan jenuh. Seingatku larutan jenuh ya kalau titrasinya sudah cukup, menghitung berapa tetes atau mililiterkah yang dibutuhkan. Aku tidak terlalu suka pelajaran kimia tapi karena gurunya seram mau tidak mau aku ingat kutipan ini hahaha. Nah Sanya yang sekarang tak cukup puas dengan ingatan semu penuh ketegangan yang emosinya lebih melekat dibandingkan isinya itu, lalu kucarilah penjelasan harafiahnya, kira-kira begini:

Larutan jenuh yaitu larutan yang pelarutnya tidak bisa lagi melarutkan zat terlarut kecuali harus dipanaskan. Dalam larutan ini, pelarut memiliki batas maksimal untuk melarutkan di suhu tertentu.

Hmm menarik, rasanya akhir-akhir ini aku tidak merasa jenuh tapi aku ingat rasanya jenuh. Bagaimana tidak, memori itu lekat selama beberapa tahun terakhir. Rasa terkekang, membosankan, tercekat namun kosong. Perasaan kontradiktif yang tak terjelaskan lewat kata-kata tapi jelas membuat tidak nyaman. Ibaratnya apapun masukkannya mental saja seperti bola yang memantul, hanya bersentuhan sesaat lalu terlempar lagi sampai gravitasilah yang menghentikannya.

Apa jangan-jangan waktu itu aku sudah dingin, suhu ku sendiri sudah tidak mampu lagi melarutkan apapun? Aku kehilangan panas ku sendiri menjadikan aku dingin sehingga jenuh. Rasanya begitu, aku kehilangan panasku. Padahal aktivitasku seakan berjalan normal tidak terjadi hal aneh yang di luar logika tapi kosong, rasanya hampa dan padat dalam waktu bersamaan.

Bisa jadi apiku meredup tidak sesuai lagi dengan lini masa ku, suhunya sudah di bawah titik jenuh pelarut. Dulu tidak terjelaskan namun saat ini tergambarkan, oh begitu itulah sebabnya aku merasa redup. Apiku tak cukup kuat menghidupkan aku sebesar kapasitasku. Oh.

Entah mulai kapan aku menyadarinya saat itu, momen kesadaran tidak serta merta muncul dan terjelaskan, menjalaninya dengan keinginan terus menjadi diri versi terbaru, terus belajar, tetap penasaran, mencari makna, hadir disetiap detik mungkin menjadi api kecil yang bisa terus memanaskan. Akhirnya aku sadar, sesuatu yang telah terjadi kemarin mungkin belum memberikan alasan yang terpikirkan oleh logika namun suatu hari jika api terus dipelihara untuk menjaga suhu optimal maka aku sebagai pelarut yang sering mencari alasan konkret melalui logika yang sudah tahu kapasitas otaknya pun terbatas tidak lagi mencari alasan, biar jiwa yang suhunya terjaga baik ini yang menjawab dengan perasaan. Tenang.