Banyak yang mengintepretasi peran menjaga jarak secara beragam. Seperti intepretasi sepelemparan batu itu sejauh apa? Ada juga yang tidak mengintepretasi dan langsung menetapkan yang penting berjarak saja dan lepas tangan tidak ikut kena cipratan kain pel bersih-bersih meja makan setitikpun. Lepas tangan, seperti naik sepeda roda satu saja.
Peran menjaga jarak, bukan fungsi menjaga jarak. Kalau fungsinya menjaga jarak dan memenuhi fungsi menjaga jarak ini sih, jadinya tidak ada pengembangan. Peran menjaga jarak lah yang jadi kunci perkembangan. Menjaga jarak sejauh apa? Sejauh sepelemparan batu. Sepelemparan batu itu segimana, bisa sejauh-jauhnya bergantung kekuatan lempar.
Tidak. Tidak bergantung kekuatan lempar. Malahan bergantung kepada keyakinan lemparan. Maksudnya, ambillah batu dan tentukan sasaran yang dengan sekali lempar peluang mengenainya paling besar. Itulah jarak sepelemparan batu. Itulah peran menjaga jarak fasilitasi. Bukan soal kekuatan, justru soal kemampuan. Semampu apa melempar tepat sasaran.
Ambillah batu itu dan tentukan sasaran yang dengan sekali lempar, peluang mengenainya paling besar. Lempar batu itu dan kalau kena sasaran, berpindahlah ke titik itu untuk memenuhi peran menjaga jaraknya. Kalau belum kena sasaran, ulangi sesuaikan jarak lemparannya. Bukan malah menyuruh orang lain melempar batu ke sasaran itu sampai ada yang kena.
Karena peran fasilitasi yang bukan sekadar fungsi fasilitasi yang adalah sepelemparan batu itu maksudnya adalah, setelah batu mengenai sasaran dan kita berpindah ke titik itu. Kita membawa yang lain untuk melakukan hal yang serupa, dengan dasar demonstrasi bukan instruksi. Separah apapun lemparan batunya, ada karyanya yang bukan sekadar katanya.