"Jo, can you tell him to finish the forecast." Kata teman kerja saya.
"I will, he is off on vacation right now." Kata saya.
"Can you tell him today, so he can put it on his priority?" Tanyanya lagi.
"I will, he'll be back in two days. If I tell him today or tomorrow, it won't make any difference." Kata saya.
Kalau sudah begitu, saya mulai agak jengkel. Pertama, sepertinya informasi yang saya berikan tidak dia gubris, atau minimal dia dengarkan. Saya juga mengerti bahwa dia benar, mengatakan secepat mungkin sehingga dia akan memprioritaskan tugas yang harus dia selesaikan secepatnya, tapi saya juga tidak salah bahwa jika mengatakannya sekarang atau besok tidak akan mengubah apa-apa sebab dia sedang libur dan tidak membuka email. Saya lebih memikirkan masalah efisiensi, sementara teman saya menginginkan informasi itu segera terkirim dan yang bersangkutan bisa segera merampungkannya.
Yang sering membuat saya terganggu adalah ketika lawan bicara tidak mendengarkan apa yang saya ungkapkan. Itu pertama. It is very annoying. Kedua, ketika seseorang mengatakan sesuatu yang sama lebih dari sekali, menunjukkan ada kecenderungan tidak mempercayai bahwa issue itu akan segera ditangani. Kadang saya katakan, "Yes, I am onto it.", "Yes, I'll handle it", bahkan saya sering katakan "leave it to me." Nah, sesudah saya katakan itu kemudian dia masih nyerocos, biasanya nada saya mulai naik atau kalau saya sedang males berargumentasi, saya diam, kadang malah mengangguk tapi hati saya gondok sekali.
Saya pernah membaca beberapa teori. Memang benar sih bahwa saya sering membaca lalu lupa. Nah mungkin menjelang akhir tahun ini saya bisa mencanangkan sebuah program untuk peningkatan diri dengan cara mempraktikan teori ini, sebab saya pikir ini salah satu cara yang jitu untuk mengindari perasaan tersinggung atau being offended.
Saya sering bereaksi terhadap tanggapan orang lain. Wajar sih, tapi reaksi itu sering kali justru memperkeruh suasana, sebab reaksi biasanya tidak disertai dengan mindfulness. Reaksi lebih ke spontanitas atau malah kebiasaan. Saya tidak tahu pasti yang mana yang lebih cocok, tapi yang jelas ketika saya mulai merasa jengkel ketika menghadapi sesuatu, itu artinya saya merangkul situasi itu dengan sebuah reaksi. Meraih, merangkul atau "take" offense, adalah pilihan. Sekali lagi pilihan. Kita bisa memilih yang lain. Filtering juga merupakan salah satu upaya daripada langsung bereaksi. Ketika teman saya itu mengusulkan sesuatu dan saya menyanggupinya, walau tidak langsung segera dilakukan sebab menurut hemat saya itu tidak ada gunanya, Mungkin seharusnya pikiran saya dibalik. Saya merasa dia tidak mendengarkan apa yang saya ungkapkan, tapi ketika saya bereaksi sebetulnya saya melakukan hal yang sama seperti yang dia lakukan pada saya. Saya tidak mendengarkan apa yang dia katakan! Yang dia inginkan adalah agar situasi yang kami hadapi bisa ditempatkan sebagai sebuah prioritas, sementara saya memikirkan hal yang berbeda, yaitu bahwa jika saya sampaikan saat ini, toh dia juga tidak akan langsung merespon, sebab dia sedang liburan. Nah kami berdua membicarakan 2 hal yang berbeda. Saya bereaksi, artinya saya tidak mindful dan sangat judgmental bahwa menuduh dia tidak mendengarkan, padahal ketika saya bereaksi, pada saat yang sama saya melakukan persis seperti yang dia lakukan. Merasa tersinggung adalah pilihan. Jika saya benar-benar mindful, dan menganalisis situasi, saya tidak perlu tersinggung karena kami berdua membicarakan hal yang berbeda. Dia mungkin saja sebenarnya mendengarkan informasi yang saya berikan, tapi dia ingin hal lain yang lebih diutamakan yang kemudian saya abaikan karena saya tersinggung.
Yang lain adalah teori truk sampah. "Itu dia, bukan saya!" Nah itu adalah cara berpikir yang salah. Sama seperti truk sampah yang berkeliling mengambili sampah di berbagai tempat hingga ketika dia membuangnya di lokasi penimbunan sampah. Itu semacam ilustrasi yang menggambarkan bahwa kita membawa kemana-mana dan mengambil sampah berupa rasa jengkel, frustrasi, kemarahan, kekecewaan dan lain sebagainya hingga pada saatnya kita menumpahkan pada suatu kesempatan. Kita sering begitu, tapi sebetulnya daripada kemana-mana menjadi truk sampah dan mengambil hal-hal negatif lalu menimbunnya, kenapa tidak memilih untuk tidak bereaksi, mengiyakan, tersenyum, melambaikan tangan dan move on?
Jadi dari contoh di atas tadi, daripada saya merasa jengkel dan tersinggung, akan sangat mudah dan sederhana jika saya langsung saja katakan,"Sure thing, I'll do it now." Walaupun orang itu sedang libur, ya kirim saja email ke dia, urusan dia akan buka sekarang atau 2 hari lagi, itu bukan masalah saya. Sederhana bukan? Kadang memang kita cenderung membuat masalah sendiri dari hal-hal yang tidak penting! Hahahaha..
Foto credit: trustedadvisor.com