AES202 (sementara) Mengalah sama Sampah
Andy Sutioso
Thursday December 2 2021, 9:33 PM
AES202 (sementara) Mengalah sama Sampah

Malam ini sejujurnya agak bingung mau nulis apa. Seperti sempat terjadi beberapa kali, menulis beberapa kata lalu dihapus lagi. Kolom judul masih kosong - karena memang belum tau menulis apa. Tadi pagi saya membereskan tumpukan sampah  plastik yang saya kumpulkan di rumah - sampah-sampah yang sengaja tidak saya langsung buang untuk tau seberapa banyak sampah yang dihasilkan. Sebetulnya sudah tahu saya masih menghasilkan sampah. Tapi situasi pandemi ini memang mengubah segalanya - termasuk bagaimana kami di rumah semakin banyak menghasilkan sampah. Tadi pagi membaca berita tentang ancaman kerusakan lingkungan paska pandemi. Ini juga sudah tahu, tapi kok hari ini rasanya sangat mengganggu. 

Sesaat sebelum menulis ini, di satu grup WA yang saya ikuti, saya menemukan tulisan yang mewakili apa yang sedang saya rasakan. Tulisan ini saya copas di bawah ini. Yang menuliskan adalah Romo Ferry, yang sudah lama saya kenal berjuang di ranah lingkungan hidup.

Sebetulnya sudah disadari penuh kita ini hidup dalam sistem yang rusak. Kita hidup di kota yang bergerak dalam sistem produksi dan konsumsi. Setiap kita belanja kebutuhan kita, hampir pasti kita bertemu bungkus dan kemasan. Menghindarinya hampir tidak mungkin, apalagi kalau kita sudah berhadapan dengan soal waktu. Supaya praktis, jadinya cari yang cepat dan mudah. Sedangkan mengolah sampah tidak pernah bisa cepat dan mudah. Jadinya seringkali kita mengalah, apalagi melihat orang lain di sekitar kita tidak peduli.   

Pejuang Yang Lelah

Yang merasa pejuang lingkungan hidup sering merasa lelah.

Sudah lama peduli tapi tak ada yang memperhatikan apalagi memuji apalagi ikut berjuang.

Sudah lama berjuang tapi merasa sendirian dan merasa tidak berhasil.

Sudah lama mengeluh tapi tak ada yang mendengarkan.

Sampai pada suatu saat memilih berdamai dengan orang lain dan diri sendiri.

Yang menebang hutan juga manusia. Memang sebagian serakah. Yang lain karena berjuang utk nafkah mereka. Yang lain lagi tidak sadar.

Yang membuang sampah itu manusia juga. Sebagian sadar tapi tidak bisa berhenti membuang. Yang lain tidak sadar.

Kembali berdamai dgn diri sendiri ternyata tidak mudah. Sulit berhenti marah saat kita sangat peduli. Tidak mudah menerima bahwa kita tidak mampu mengatasi apapun.

Bahkan kita semua ikut terlibat. Listrik yg kita pakai dari energi batu bara. Pakaian yang kita pakai dari industri yg pakai energi batu bara. Makanan kita sebagian impor. Bukan hanya buah-buahan dari luar negri. Bangsa kita bahkan impor sayur, garam, gula, daging, gandum, jagung, dll. Tempe dan tahu yang kita makan kedelainya dari AS karena kedelai lokal jauh lebih mahal entah mgp.

Kueh, roti, dan mie yang kita sajikan saat hari raya bahkan diimpor dari Australia dan Canada dari bahan gandum yg tidak tumbuh di negri ini.

Bahkan HP yang kita pakai juga impor.

Selamat berdamai dengan diri sendiri dan orang lain tanpa perlu berhenti peduli dan berjuang bahkan ketika tidak ada hasilnya.

Kata orang bijak perjuangan kita mengingatkan bahwa kita ada di jalan yang benar dan akan membahagiakan karena mengingatkan kita bahwa hidup itu berharga bagi semua di alam semesta.

Salam hormat.
🙏

Saat ini saya mungkin sedang mengalah, seperti yang dituliskan Romo Ferry, berdamai dengan diri sendiri. Kalau ngga, kita sendiri yang jadinya terus resah. Jadinya ga bagus juga. Toh kesadarannya tidak hilang. Caranya yang perlu terus dicari. Saya sendiri masih punya cita-cita besar terkait mengolah sampah karena merasa berhutang sudah menghasilkan begitu banyak sampah di sepanjang perjalanan hidup saya.

Jadinya kalau lelah ya kita istirahat sebentar, ambil nafas dan melangkah lagi. Mudah-mudahan ketemu caranya dan ada kesempatannya... 

Photo by Tara Winstead from Pexels

Mega
@mega   5 years ago
Kadang saya juga begitu, kak. Lelah dan ingin mengalah. Tapi kesadarannya ngga (blm) hilang, cuma blm nemu cara yg bener2 pas. Br minggu lalu sampah di rumah diangkut bank sampah. Kemasan multilayer yg sblmnya kata mrk bisa dijadikan ecobrick, tau2 disebut sbg sampah residu & langsung dicampur dgn sampah yg ngga bs diolah. Ngenes ngeliatnya, pdhal kami cuci & keringin satu2...